Chapter 17 : Someone Like You

2483 Kata
Aram memandang ke sekeliling restoran bergaya victorian miliknya sambil tersenyum puas. Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang- artinya sudah melewati jam makan siang- namun meja-meja nyaris terisi penuh.  "Aku harap- kafe yang akan kubangun akan seramai ini." Aram mengalihkan pandangannya pada Emily yang duduk di sebrangnya. "Bagaimana tadi? Apakah Antonio merayumu?" Emily mendengus geli mendengar pertanyaan Aram. "Tidak, Aram. Dia tidak merayuku sama sekali.", jawabnya. "Dia sangat baik dan sabar." "Ya itu karena ada maunya.", gumam Aram. "Aku sudah mengenal Antonio cukup lama. Jadi aku tahu bagaimana sifatnya.", Bersamaan dengan Aram menyelesaikan kalimatnya. Orang yang mereka berdua bicarakan datang diikuti seorang pelayan yang mendorong troli ke samping meja.  "Maaf membuat kalian menunggu..." "Tidak apa.", kata Emily sambil tersenyum ramah. Antonio dibantu pelayan dibelakangnya- mereka berdua menyajikan satu persatu hidangan yang khusus dibuatnya untuk Emily dan Aram. Setelah semuanya selesai, Antonio menarik tali celemek yang melingkar di pinggangnya dan memberikan kepada pelayan tadi sebelum berlalu. Ia duduk di sisi Emily dan Aram langsung melirik pria itu. Namun tampaknya Antonio tidak menyadari. "Semoga kau menyukai masakanmu.", kata Antonio pada Emily. Aram mendengus sambil meletakkan napkin diatas pahanya. "Kau tidak bertanya padaku?" "Aku tidak butuh jawabanmu.", cibir Antonio. Ia kembali menoleh menatap Emily dengan tersenyum lebar. "Sudah jangan berdebat. Ayo kita makan. Aku sangat lapar.", lerai Emily. Ia mengambil pisau dan garpu yang ditata rapi di sisi piring. Kemudian mulai memotong daging salmon panggang dengan saus- entah saus apa. Emily mencobanya. Perlahan ia memasukkan potongan salmon itu kedalam mulutnya. Ia mengunyah dan merasakan saus tersebut. Ada percampuran rasa asam, asin, pedas dengan sentuhan bawang. Cukup unik bagi lidah orang-orang Inggris. "Apakah terasa aneh?", tanya Antonio ketika menyadari raut wajah Emily. Emily menggeleng. "Tidak. Rasanya enak. Hanya saja aku baru pertama kali merasakannya." "Oh itu-" "Nuoc Mam Cham.", sela Aram cepat. "Dipping sauce dari vietnam.", tambahnya kemudian Emily hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Sedangkan Antonio menahan senyum dibibirnya ketika menyadari Aram memang pria yang tidak mau kalah. Mereka melanjutkan menikmati hidangan diselingi beberapa obrolan ringan seputar hotel maupun kafe yang akan di bangun Emily di pertengahan Mei- ya itu perkiraan Emily. "Mei bulan yang bagus.", kata Emily bersemangat setelah menyesap sedikit jus jeruk-nya. "Kenapa? Perasaan tidak ada perayaan apapun di bulan itu.", sahut Antonio dengan kening berkerut. Emily mengambil napkin dipangkuannya, mengusapkan kain putih itu di ujung bibirnya. "Ulang tahunku." "Oh pantas saja." Aram tidak banyak bicara. Ia hanya mendengarkan. Dan kini dalam benaknya berputar tentang hadiah apa yang akan ia berikan untuk Emily meskipun masih empat bulan lagi. "Rencananya sekaligus merayakan ulang tahunku di pembukaan itu." "Ide yang bagus.", kata Antonio. "Kau akan mengundangku-kan?", tambahnya. Emily terkekeh pelan. "Tentu saja aku akan mengundangmu." Antonio tersenyum lebar sambil membuat gerakan mengepal telapak. "Yes!", serunya. "Aku akan membawakanmu ha-" "Aram?" Ucapan Antonio terpotong ketika sebuah suara memanggil Aram. Mereka bertiga menoleh kearah yang sama. Menatap seorang wanita cantik yang berdiri di samping meja mereka. Wanita itu tersenyum lebar dengan binar memenuhi manik matanya. Aram seketika menghele napasnya. Sedangkan Antonio melebarkan mata dan Emily mengernyit bingung. "Sedang apa kau disini?", tanya wanita itu lagi. Tentu saja pertanyaan itu diarahkan pada Aram. Karena jelas wanita itu menatap Aram dan tidak menggubris Emily dan Antonio. "Sepertinya dunia untuk kita berdua angat sempit.",  Aram tidak memberikan ekspresi apapun. "Ini hotelku. Jadi aku bebas mau melakukan apapun disini tanpa harus memberitahumu, Harper." Emily langsung mengatupkan bibirnya ketika mendengar nama yang disebut Aram. Ia berpura-pura tidak mendengar dan memainkan gelas jus miliknya. "Benar juga.", gumam Harper sambil mengangkat sudut bibirnya. "Boleh aku bergabung?", tanyanya kemudian. Ia kini menatap Antonio dan Emily. Antonio berdehem. Ia menyenggol lengan Emily membuat wanita itu menghentikan aktifitasnya dan mendongak menatap Harper. "Oh boleh.", jawabnya cepat. Namun bersikap ramah pada Harper adalah satu kesalahan besar.  Aram langsung memberikan Emily tatapan 'kau bercanda?'. Apalagi hanya ada kursi di sisi Aram yang tersisa membuat pria itu memijit pelipisnya. "Aku baru melihatmu. Siapa namamu?", tanya Harper pada Emily. Ia melepaskan tas dan meletakkannya di belakang tubuhnya. Emily mengalihkan pandangannya ke Harper. "Emily." Harper mengangkat sebelah alisnya dan berpikir sejenak. "Kau kekasih Antonio?" Antonio tersedak salivanya. Ia buru-buru mengambil gelas milkinya dan meneguk habis air mineral yang tersisa. Sedangkan Aram- pria itu yang tadinya baru mengusap bibirnya dengan napkin kini bangkit berdiri. Sontak semuanya menatap Aram.  "Im done.", katanya sambil sedikit melemparkan napkin ditangannya keatas meja. "What? Aku bahkan belum memesan apapun.", sahut Harper. Ia mendongak menatap Aram dengan pandangan bingung. "Kau bisa makan bersama Antonio." "Dude? !", Antonio sama seperti Aram. Ia tidak menyukai Harper karena wanita itu terkadang bisa sangat menyebalkan seperti ular. Namun tidak tampak karena dikemas dengan wajah dan tubuh yang indah.  "Kalau begitu aku saja yang menemaninya.", timpal Emily. Ia merasa kasihan dengan Harper. Ditolak oleh dua pria hanya untuk makan siang benar-benar tidak nyaman. Apalagi Harper orang yang terkenal. Jika sampai ada paparazi yang melihatnya- pasti akan jadi masalah. Aram menggeleng. Ia mengambil selangkah dan menarik tangan Emily. "Kau ikut denganku." "Tapi-" "Tidak ada tapi-tapian.", balas Aram sambil mengambil alih tas yang baru saja di ambil Emily ketika wanita itu bangkit berdiri. Emily menatap Harper dan Antonio sungkan sebelum Aram membawanya pergi.  Harper menoleh menatap Antonio yang duduk dihadapannya. "Kenapa Aram membawa kekasihmu pergi?" Antonio mendesah pelan. "Karena dia bukan kekasihku.", jelasnya. "Kalau bukan kekasihmu...", gumam Harper sambil berusaha mencerna. Kemudian ia melebarkan matanya.  "Dia kekasih Aram?!" "Bukan.", jawab Antonio cepat. Ia tadinya hendak menjawab 'belum', namun ia tidak ingin berurusan lebih panjang dengan Harper. Bisa jadi hidupnya terjebak dalam drama cinta segitiga antara Aram, Emily, dan Harper. Harper menghela napasnya lega. "Syukurlah... aku pikir di-" "Kau bisa makan siang sendiri bukan? Aku harus kembali ke dapur. Kalau kau mau memesan- kau bisa panggil pelayan.", Antonio dengan cepat bangkit berdiri dan berlalu. Harper mendengus kesal. "Aku juga tidak mau makan siang denganmu!", serunya. Ia tidak peduli dengan tamu-tamu lain yang menoleh kearahnya dan menatapnya aneh. Mendengar itu Antonio yang berjalan menuju pintu masuk dapur hanya mengangkat dan melambaikan tangannya. ...  Aram tidak mengucapkan sepatah katapun ketika mereka masuk kedalam mobil sejak sepuluh menit yang lalu. Emily yang tadinya diam kini menjadi kesal. "Kenapa kau bersikap seperti itu?" "Seperti apa?", Aram balik bertanya tanpa menoleh menatap Emily. Ia memfokuskan pandangannya ke jalan raya yang cukup ramai menjelang sore hari ini. "Apa kau tidak kasihan kepada Harper? Dia hanya berniat ingin makan siang bersama kita." "Aku tidak kasihan kepadanya.", jawab Aram cepat tanpa ragu. Emily berdecak lidah. Ia memiringkan sedikit tubuhnya menghadap Aram. "Kau jahat sekali..." "Aku tidak jahat Emily. Hanya tegas." "Tegas apanya?" Aram melirik Emily sekilkas. "Sekarang kau mau aku bagaimana? Putar balik dan kembali ke restoran untuk menemaninya makan siang?" Emily mendesah panjang. "Setidaknya- kalau kau memang tidak menyukainya. Jangan bersikap seperti itu padanya. Apa kau tidak memikirkan bagaimana malunya dia kalau sampai ada orang yang mendengar? Atau bahkan paparazi?" "Kau seharusnya mengatakan itu pada Harper. Dia sendiri yang mempermalukan dirinya." "Aram!" "Apa?", Aram bertanya tanpa dosa. "Kau sudah tahu kalau dia menyukaiku dan aku tidak." Emily terdiam beberapa saat untuk berpikir. Sebenarnya apa yang dikatakan Aram ada benarnya. Jika Aram selalu baik kepada Harper. Bisa dipastikan Harper akan terbawa perasaan pada pria itu dan akan terjadi kesalah pahaman. Untuk itu Aram mencegah dari awal agar sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. "Lagipula aku sudah tidak tahan lagi dengannya. Setiap hari ia menghubungiku dan mengirimku pesan. Terkadang dengan bangganya ia mengatakan pada orang lain jika kami berdua berkencan. Itu sangat mengganggu.", tambah Aram menggerutu. "Apa kau juga akan bersikap seperti ini pada Maureen?", tanya Emily pelan. Ini mungkin waktu yang tepat untuk membahas masalah Maureen dan ciuman di malam tahun baru itu. Aram menggeleng. "Kalau tentang Maureen... kau tidak perlu khawatir. Aku akan menjaga sikapku asalkan dia tidak menciumku sembarangan atau menjadi seperti Harper." "Tapi kau tidak membencinya kan?" "Tidak." ... Emily membungkukkan sedikit tubuhnya dan mengambil wine yang ada di rak bagian bawah. Ia memutar-mutar botol tersebut untuk mencari usia wine disekitar label. Namun ia tidak menemukan apapun. Secara bersamaan- Aram melangkah masuk kedalam, mengintari meja billiard, dan berdiri di belakang meja bar tanpa melepaskan pandangannya dari Emily. "1987." Emily terkejut dan nyaris menjatuhkan botol wine dalam genggamannya ketika mendengar suara itu. Dengan cepat ia memutar sedikit tubuhnya menghadap meja bar yang ada di ujung ruangan. "Aram!", serunya. "Sejak kapan kau ada disana?!' "Sejak kau kebingungan mencari tahun pembuatan wine itu.", jawabnya acuh sambil mengambil gelas sloki. "Kembalikan wine itu dan kemarilah." Emily mendesah pelan. Ia meletakkan kembali botol itu kedalam rak dan  menuruti perkataan Aram yang menyuruhnya mendekat. Perlahan Emily menarik kursi tinggi di depan meja bar dan duduk diatasnya. "Scotch atau bourbon?", tanya Aram sambil mengangkat dua botol wiski yang berbeda. "Terserahmu saja.", jawab Emily cepat. Aram meletakkan botol scotch dan membuka tutup botol bourbon sebelum menuangkannya kedalam gelas. Ia menambahkan dua buah es balok yang diambilnya dari dalam kulkas. Kemudian menyodorkan salah satu gelas itu kepada Emily. Emily mengangkat gelas itu tepat didepan wajahnya, menatap cairan bening beraroma pekat didalamnya beberapa saat sebelum menyesapnya sedikit. Seketika perpaduan panas dan dingin di tenggorokannya begitu terasa membuat Emily menyengir. "Ughhh!" Aram yang sudah meneguk habis bourbon-nya hanya terkekeh pelan. "Re-fill?" Emily menggeleng cepat. "Tidak. Terima kasih.", ia mengusap bibirnya dengan punggung telapak tangan. "Inilah kenapa aku lebih menyukai wine.", tambahnya. Aram tidak membalas ucapan Emily. Ia  mengambil kedua gelas tersebut dan mencucinya. "Kau bisa bermain billiard?", tanyanya sambil mengeringkan tangannya yang basah menggunakan handuk kecil. "Bisa. Mau bermain?" Aram keluar dari balik meja bar. Ia berjalan menuju dinding yang dipasangi siku untuk meletakkan dan menyusun tongkat. Ia mengambil tongkat di urutan ketiga dari bawah, mengecek bagian ujungnya lalu melemparkannya pada Emily yang kini berdiri di sebrang meja billiard. Emily dengan sigap menangkapnya.  "Bola sembilan. Kau ambil 'break'-nya." Aram mengintari sebagian meja untuk mengambil segitiga dan bola yang ada di dalam laci dibawah meja. Ia menyisihkan bola cue dan menata sisanya di dalam segitiga. Dengan cepat Aram menggeret segitiga itu untuk menepatkan posisi. Sedangkan Emily terdiam dan berdiri setengah memeluk  tongkat yang bertumpu di lantai dan genggamnya. Tujuannya kemari untuk mengambil wine, setelah itu menikmati pemandangan malam hari dari atas balkon dan memikirkan apakah ia harus minta maaf besok pada Aram tentang masalah siang tadi. Namun karena Aram sudah ada dihadapannya. Emily memutuskan untuk meminta maaf sekarang.  "Ngomong-ngomong..." Emily menarik napasnya cepat. "Aku minta maaf." Aram yang baru saja mengambil tongkat untuknya- menatap Emily dengan kening berkerut. "Minta maaf? Untuk apa?" "Masalah siang tadi.", jawab Emily cepat. Ia menyadari juga jika Aram selama ini juga tidak pernah ikut campur dalam hubungannya dengan Steven. "Seharusnya aku tidak menceramahimu masalah Harper." "Tidak perlu minta maaf. Itu bukan salahmu." Emily menggeleng "Jangan mengatakan itu hanya untuk membuat perasaanku lebih baik." Aram menatap Emily serius. "Aku tidak mengatakannya hanya untuk membuat perasaanmu lebih baik, Em. Itu memang bukan salahmu. Lagipula seharusnya aku yang minta maaf karena memaksamu. Kau hanya ingin bersikap baik padanya." "Jadi kita impas?", Emily mengambil bola cue dan meletakkannya di sebrang bola yang membentuk segitiga di bagian sebrang. Ia membungkukkan tubuhnya dan membidik target untuk memecahkan formasi bola. Namun sayangnya tidak ada bola yang masuk sehingga gilir Aram yang bermain. "Hmm kita impas.", Aram menghampiri bola cue dan membidik target bola garis karena letaknnya lebih dekat dengan kantung meja. Kemudian dengan cepat menyodokkan tongkat hingga bola cue menabrak bola garis. Ketika bola masuk, Aram meneggakkan tubuhnya dan mulai mencari target lainnya. Emily menghela napas lega. "Tapi apa boleh aku bertanya?" "Apa?" "Sebenarnya ini lebih seperti pendapatku.", jawab Emily mencoba basa-basi. "Katakan saja. Ada apa?" Emily mengangkat bahunya samar. "Aku merasa kau menghindari wanita." Kalimat itu terdengar bersamaan dengan kegagalan Aram untuk memasukkan bola keempatnya. Ia meneggakkan tubuhnya. "Aku tidak menghindarimu, Natalie, Lily, Annellise." "Bukan itu!", Emily  berdecak lidah kesal. Aram mengangkat sudut bibirnya. Ia paham dengan maksud perkataan Emily. Hanya saja ia ingin menggoda wanita itu untuk mencairkan suasana. "Aku paham. Maksudmu menghindari wanita yang mendekatiku?" Emily memulai gilirannya. "Jadi?", tanyanya. Aram duduk di tepian meja sambil mengangkat sebelah kakinya. Tangannya memegang tongkat yang bertumpu di lantai. "Aku pernah bertunangan." Emily yang hendak menyodokkan tongkatnya langsung tertahan. Ia mendongak menatap Aram. "Kau bercanda!" "Sayangnya tidak.", Aram menggeleng pelan. "Aku bertunangan tiga tahun lalu. Namun sayangnya satu setengah tahun lalu aku mendapati tunanganku berkencan dengan pria lain sampai pada akhirnya dia hamil." Emily melongo. Ia benar-benar tidak mengira seorang Aram yang tampan, mapan, dan nyaris sempurna itu diselingkuhi. "Pantas aja.", gumamnya. Aram berdehem pelan. "Sekarang kau tahu alasannya. Aku belum siap jika harus menjalin lagi hubungan yang serius. Ya setidaknya sampai aku menemukan wanita yang pas." "Tapi bagaimana caramu tahu wanita itu adalah wanita yang pas sementara kau menghindari semuanya?" "Tidak semuanya, Em.", Aram mengkoreksi. "Kebetulan saat ini hanya Maureen dan Harper yang tersedia." Emily membentuk bibirnya seperti huruf O. "Dan kalau kau mau tahu. Tadinya aku sempat mempertimbangkan Harper meskipun ia sahabat sejak kecil mantan tunanganku." "Sahabat?", mendadak kepala Emily terasa pening. Terlalu banyak kejutan yang benar-benar tidak masuk diakal.  Aram berdehem pelan. Ia turun dari atas meja. "Tapi semakin mengenal dan mengetahui sifatnya. Aku langsung mencoretnya dan hanya menganggapnya teman.", Aram memberi jeda sejenak. "Begitupula dengan Maureen. Aku juga sempat mempertimbangkannya." "Benarkah?", tanya Emily cepat.  Aram mengangguk kecil. Ia tidak berbohong. Maureen Grisham wanita yang menarik dan cukup mandiri. "Dan sayangnya... Maureen tidak jauh berbeda dengan Harper.", jika Harper mengaku-ngaku dihadapan orang jika mereka berkencan, Maureen menciumnya sembarangan. Kedua hal itu sudah bisa disetarakan meskipun Maureen hanya melakukannya sekali sedangkan Harper berkali-kali. Emily meringis. Ia mendadak merasa nyeri mendengar ucapan Aram sambil membayangkan eskpresi raut wajah Maureen jika wanita itu mendengar. Namun disatu sisi Emily merasa lega. Ia lega karena pemikirannya tempo hari -mengenai Maureen menjadi kakak iparnya- tidak mungkin ada kesempatan untuk terjadi.  "Apa ada lagi yang ingin kau tanyakan atau kau katakan?", tanya Aram. Emily berpikir beberapa saat. Ia mengambil selangkah mendekat pada Aram. "Karena kau sudah membantuku banyak hal. Aku juga akan membantumu menemukan wanita yang pas untukmu. Jadi apakah ada tipe khusus?" Aram mendengus. "Aku tidak butuh bantuan dari orang yang kembali dengan mantan kekasihnya. Bisa-bisa aku juga mengalami hal yang sama." Emily mengangkat sebelah alisnya tinggi dan menatap Aram kesal. "Pertama, jangan bawa-bawa hubunganku dengan Steven. Kedua...", ia memukul lengan Aram dengan tongkat dalam genggamannya. "Jawab saja pertanyaanku." Aram terkekeh pelan sambil mengusap lengannya. "Baiklah akan kujawab.", ia kemudian menahan senyum di bibirnya. "Aku tidak memiliki tipe khusus." "Tidak mungkin. Setiap orang pasti memiliki tipe untuk wanita atau pria idamannya." Aram tahu jika Emily tidak akan menyerah sampai ia menjawab. Setidaknya menyebutkan satu. Ia mengela napasnya cepat. "Cantik?" "Itu pertanyaan, bukan pernyataan." "Fine!", seru Aram. Ia menyandarkan tongkatnya dan melipat tangannya didepan d**a. "At least... someone like you."  "Someone like me?" Emily mengerutkan keningnya. "You know that there's no one. Literally no one. No one in this world looks like me. I don't have twins." Aram mengibaskan tangannya kemudian menyambar tongkatnya cepat. "Mendengarmu meniruku menyombongkan diri sangat menyebalkan." "Sekarang kau tahu bagaimana rasanya ketika aku mendengarmu menyombongkan diri." Aram menggelengkan kepalanya pelan sebelum akhirnya tertawa bersama Emily....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN