KLING! Ponsel Aidan berbunyi, tanda ada pesan masuk. Ia merogoh saku celananya. Matanya membelalak membaca pesan yang baru saja masuk. Kedua tangannya mengepal erat dengan ekspresi wajah yang berubah kaku. Dalam hatinya menyesal, mengapa tadi tidak sekalian saja ia bunuh gadis murahan itu. Sekarang mereka justru berniat menyingkirkan istrinya. Dirinya tidak akan membiarkan itu terjadi. Semua karena Julian yang merasa tidak enak hati untuk buru-buru pamit karena Bastian bersikeras menahannya lebih lama berada di pesta ini dengan alasan mereka sudah lama tidak bertemu. Aidan melihat mamanya di kejauhan yang berjalan dari arah toilet. Marina balas menatapnya kemudian mengangguk singkat, sebagai isyarat bahwa informasi yang baru saja ia sampaikan kepadanya adalah benar. Entah, sang mama berh

