Persiapan Lamaran

2581 Kata
“Kamu … serius?” tanya Dio sembari membelalakkan mata seolah tak percaya pada Mayang. Malam itu mereka sedang duduk di teras depan kamar kost Mayang, saat Mayang baru kembali dari Bekasi setelah istirahat cuti seharian penuh. Tanpa kesepakatan apapun, mendadak hari ini mereka mengubah panggilan satu sama lain dengan ‘aku dan kamu’ bukan ‘lo dan gue’ lagi seperti sebelumnya. Mungkin karena menyadari bahwa mereka sekarang sudah berada dalam sebuah ikatan yang lebih dekat lagi sehingga merasa ingin lebih terdengar mesra saja satu sama lain.   “Iya, Dio,” ucap Mayang sambil mengangguk. “Aku juga nggak nyangka kalau ibu mau bilang begitu. Tadinya aku pikir bakal butuh proses agak sulit untuk mengutarakannya ke ibu. Eh, nggak taunya, malah ibu duluan yang ngomong ke aku begitu.”   Dio terdiam, masih tidak percaya bahwa jalannya untuk menikah dengan Mayang diberi kemudahan seperti ini. Bahkan ibu Mayang yang tadinya melarang Mayang menikah, tiba-tiba malah menanyakan lebih dulu perihal Dio.   “Aku sebenernya masih agak heran sih,” ucap Mayang, “kamu ngomong apa aja sih, sama ibu kemarin pas datang ke rumah? Waktu aku lagi masuk terus bikinin teh buat kamu, kamu sempat ada interaksi apa aja sama ibu?”   “Aku cuma ngobrol biasa, kok,” jawab Dio.   “Iya apa aja? Coba ceritain,” ucap Mayang.   “Yaa … kan kamu masuk ke dalam tuh, terus aku di luar duduk sama pakde kamu,” cerita Dio. “Pakde nanya, habis ada acara apa di Bandung. Ya aku jawab aja ada pemotretan buat majalah Style dengan tema meteor shower, lokasi pemotretannya di villa keluarga aku. Terus pakde kamu tanya aku orang asli Bandung atau bukan, dan aku kerja di mana. Terus ibu kamu keluar, pas aku lagi jawab pertanyaan pakde, jadi ibu kamu ikut denger. Waktu ibu keluar, aku buru-buru bangun terus ambilin kursi buat ibu sambil lanjut ngobrol. Terus setelah itu cuma ngobrol ringan tentang kota Bandung, ngobrol makanan, dan lain-lain. Bercanda aja, gitu. Pakde kamu orangnya suka bercanda ya, kayaknya.” Dio tersenyum teringat akan pakde Mayang yang memang sifatnya lucu.   “Iya, pakde sama bude itu kocak orangnya, suka becanda yang aneh-aneh. Padahal udah tua,” komentar Mayang sambil tertawa kecil.   “Bagus dong, emang harus gitu yang namanya pasangan,” tanggap Dio, “sampai tua juga harus tetep asyik.”   “Kalau ibu ….” Mayang berpikir sejenak. “Ibu sebenarnya juga sifatnya nggak jauh beda dengan pakde, kan mereka memang adik kakak. Tapi mungkin … yah … karena masa lalu yang kurang baik, ibu jadi keliahatan seperti orang yang agak pendiam dan kadang-kadang suka murung. Tapi kadang waktu lagi ngobrol suka keluar juga kok, konyolnya. Nanti kalau kamu udah lebih kenal sama ibu, pasti suka bercanda juga, deh.”   “Iya, aku percaya kok ibu kamu sebenarnya baik orangnya, dan asyik juga,” ucap Dio sambil tersenyum. “Cuma mungkin beliau banyak kepikiran tentang macam-macam hal, terutama tentang kamu, anak satu-satunya.”   “Iya, yah ….” desah Mayang. Mengingat ibunya yang seringkali terlihat murung, Mayang merasa tidak tega jika harus membuat beliau resah dan gelisah karena mengingat nasib anaknya yang selalu gagal dalam pernikahannya. Saat ini Mayang bahkan masih merasa ragu apakah ia akan melanjutkan niatnya untuk menikah atau tidak. Restu yang ia dapatkan dari ibunya itu ia rasakan setengahnya sebagai keterpaksaan karena masih ada ganjalan di dalam hati tentang mitos kutukan itu. Mayang yakin ibunya sudah dengan sangat berat hati memutuskan untuk menerima Dio. Setengah hatinya khawatir akan kutukan itu, dan setengahnya lagi ingin putrinya bahagia dalam menjalani hidup dengan pasangan yang diinginkannya.   “Jadi … akhir minggu ini aku ke rumah kamu, ya, May.” ucap Dio memastikan. “Hari Minggu, gimana?”   Mayang mengangguk. “Oke, nanti aku kabarin ibu kalau kamu mau datang hari Minggu,” sahut Mayang.   “Oke,” ucap Dio sambil mengangguk.   “Eh iya, kamu mau datang sendiri atau ….” Mayang sengaja menghentikan kalimatnya agar Dio tidak merasa terbebani karena mengira Mayang menyuruhnya membawa serta kakak-kakaknya. Padahal Mayang sudah menyerahkan itu pada Dio, bagaimana yang dirasanya enak saja. Mayang hanya ingin tahu berapa orang yang akan datang sehingga bisa memberi kepastian pada ibunya yang pasti akan menyiapkan hidangan makan siang untuk menyambut tamunya.   “Nanti aku coba hubungi Mas Aldo dan Mbak Miranda, siapa tau mereka lagi nggak sibuk dan bisa mendampingi aku,” ucap Dio.   “Mbak Shita? Nggak kamu ajak?” tanya Mayang.   Dio menoleh menatap Mayang. “Emang kamu nggak apa-apa, kalau Mbak Shita mau ikut? Aku malah khawatir dia bikin rusuh nanti di rumah kamu. Bisa-bisa lamaran aku gagal,” keluh Dio dengan wajah cemas.   “Iya sih … tapi kan Mbak Shita tetep kakak kamu” ucap Mayang. “Minimal, kamu harus tetep hubungin dia dan kasih kabar soal lamaran ini. Soal dia setuju atau nggak, marah atau nggak, itu urusan belakangan. Yang penting dia nggak bisa nyalahin kamu di kemudia hari dengan mengatakan kalau kamu ngelamar aku tanpa ngajak dia. Kamu bisa dibilang nggak menghargai keluarga sendiri.”   “Bener juga, sih,” ucap Dio sembari mengangguk. “Nanti bisa-bisa kamu lagi yang disalahin, dibilang memberi pengaruh buruk ke aku. Apalagi ada si Dea itu, yang aku yakin bakal manas-manasin Mbak Shita supaya benci sama kamu.”   “Ya udah makanya kamu kabarin aja Mbak Shita dari sekarang,” ucap Mayang. “Kamu nggak usah cemas Mbak Shita bakal bikin rusuh di rumah aku. Nanti aku peringatkan dulu orang rumah supaya nggak usah diambil hati kalau Mbak Shita bilang sesuatu atau melakukan hal apapun.” Mayang tersenyum menenangkan Dio.   Dio balas tersenyum dan mengulurkan tangan untuk membelai kepala Mayang. “Kamu bener-benar baik, ya. Pintar lagi. Nggak salah deh, aku pilih kamu,” ucapnya penuh ketulusan. Sementara Mayang yang diperlakukan seperti itu merasa sangat malu dan berharap teman-teman kostnya terutama Dira yang kamarnya tepat bersebelahan dengannya tidak mendengar semua keromantisan ini. Kalau tidak, nanti setelah Dio pulang, Mayang pasti akan menerima ledekan dari mereka semua.   “Oh iya, enaknya aku bawa apa, ya? Kamu mau dibawain apa?” tanya Dio.   Mayang mengangkat alisnya. “Bawa apaan maksudnya?” tanyanya bingung.   “Ya kan, aku datang mau lamaran. Meskipun sederhana, tapi sopannya harus bawa sesuatu, kan?” tanya Dio yang merasa sedikit bingung karena ini adalah pengalaman pertamaya. “Makanan atau apa gitu? Dulu waktu kamu sama … ng … mendiang suami kamu yang dulu, gimana lamarannya?” tanya Dio.   Mayang tersenyum. “Nggak usah disamain sama orang lain, Dio. Lagipula keluarga aku juga fleksibel aja, kok. Nggak terlalu ngikutin adat atau tradisi dan lain sebagainya,” ucap Mayang. “Jadi kamu bebas bawa apa aja, nggak usah yang terlalu heboh atau mewah, Yang penting buat basa basi kamu aja biar nggak tangan kosong gitu.”   “Oke,” ucap Dio.   “Oh iya!” Tiba-tiba Dio teringat sesuatu. “Nanti kita nikahnya gimana ya? Apa harus pakai dihitung-hitung dengan aturan adat Jawa untuk dilihat cocok atau tidaknya atau gimana?”   Mayang tertawa kecil melihat Dio yang terlihat seperti agak panik. “Kamu takut hitungan kita hasilnya jelek ya? Kayak Mang Ujang dan Teh Ratih gitu?” tanya Mayang sembari menahan tawa.   “Ehehe … iya ….” ucap Dio sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.   Mayang menggeleng. “Waktu pernikahan aku yang sebelumnya, nggak pakai hitungan seperti itu kok. Bukannya ibuku nggak menghargai tradisi dan aturan leluhur, tapi mungkin ibu udah cukup merasa beban pikirannya terlalu berat saat itu sehingga nggak merasa perlu nambahin pikiran lain seandainya hitunganku jelek. Jadi yang sekarang juga pasti nggak pakai dihitung-hitung, kok,” jelas Mayang.    “Ooh, gitu … syukurlah,” ucap Dio sembari mengusap dadanya dengan lega.   “Eh iya,” sela Mayang, “kemarin ibuku juga sempat nanya, kalau kamu mau ngelamar aku secepat ini, terus kira-kira kapan mau nikahnya?”   “Hah ….” Dio tampak terpaku mendengar pertanyaan Mayang, membuat Mayang merasa geli teringat dirinya sendiri kemarin yang juga tampak terkejut saat ibunya menanyakan hal ini.   “Nah, aku juga kemarin kaget kayak kamu gitu,” ucap Mayang sambil terkikik. “Soalnya kita berdua kan memang baru bahas soal lamaran ya, belum mikir mau nikahnya kapan. Mikir mau membujuk ibu supaya mengizinkan kita menikah aja udah bingung dan pusing kita, jadi memang belum mikirin tanggal pernikahan.”   “Iya, bener. Aku kemarin itu mikirnya, yang penting ibu kamu, juga pakde dan bude kamu bisa nerima aku dulu. Itu aja,” ucap Dio. “Kira-kira enaknya kapan, ya?” Dio malah balik bertanya.   “Kalau ibu aku sih nggak mau kita terlalu buru-buru amat, soalnya kan aku baru dua bulan ditinggal mendiang Mas Bayu. Takutnya nanti aku jadi bahan omongan orang yang nggak baik,” ucap Mayang. “Yah … gitu deh, tinggal di negara kita ini, melakukan hal yang berbeda dikit langsun dianggap nggak lazim atau nggak sopan atau aneh atau bahkan kurang ajar.”   “Bukan di negara kita aja, sih,” sela Dio, “di negara lain juga banyak yang kayak gitu.”   “Eh iya yah,” ucap Mayang sambil tertawa. “Ya udah nanti kalau ditanya sama ibu, kita kasih perkiraan kapan, ya?”   “Mmm … bulan depan?” tembak Dio langsung.   Mayang mendelik pada Dio. “Nggak sekalian minggu depan aja?” celetuknya pura-pura kesal, Kemudian keduanya tertawa sambil menutup mulut, agar tidak membangunkan penghuni kost lain yang mungkin sudah tidur.   “Kalau dua bulan lagi, kira-kira masih terlalu cepat nggak, yah?” tanya Dio.   “Mungkin cukup,” sahut Mayang. “Nanti waktu kamu datang, kamu utarakan aja. Setuju atau nggak ibuku tentang itu, nanti kan kita bisa diskusikan lagi bareng-bareng.”   “Oke, gitu aja,” ucap Dio menyetujui. “Eh, kalau dari pihak keluarga kamu, bakal ada siapa lagi yang hadir?”   Mayang menggeleng. “Nggak ada,” ucap Mayang. “Pakde sama budeku kan, ngga punya anak. Ibu dan Pakde hanya dua bersaudara. Sedangkan keluarga bude juga jauh di kampung sana. Palingan mereka nanti datangnya pas nikahan aja.”   “Oh, syukurlah. Jadi aku nggak deg-degan amat harus menghadapi banyak orang,” ucap Dio sambil nyengir malu.   “Emang kamu bisa deg-degan juga yah?” tanya Mayang seolah tak percaya.   “Bisa, laah,” ucap Dio. “Waktu ngomong sama kamu di tenda kemarin itu … aku deg-degan banget, loh!”   Mayang terkikik lagi mendengar jawab Dio yang begitu polos. “Masa, sih? Keliatannya kamu peraya diri dan cool banget.”   “Cool apanya, aku aja gemeteran. Kamu nggak liat, ya?” tanya Dio dengan wajah bertanya-tanya.   Dan Mayang justru semakin geli melihatnya. Laki-laki satu ini memang berbeda. Dia lucu dan apa adanya. Tingkahnya kadang seperti anak kecil namun hatinya sangatlah dewasa.   “Nggak tuh, aku nggak liat, soalnya aku sibuk deg-degan juga dengerin omongan kamu,” ucap Mayang sambil tersenyum.   “Makasih, ya,” ucap Dio sambil menatap Mayang dengan tatapan sendu.   “Makasih buat apa?” tanya Mayang.   “Makasih udah mau nerima semua kata-kata aku, memegang janji aku, dan menerima lamaran aku,” ucap Dio. “Makasih juga udah mau berusaha meyakinkan orang tua dan keluarga kamu buat aku.”   “Sama-sama,” ucap Mayang. “Itu semua juga sebagian besar atas hasil usaha kamu sendiri, loh. Ibu aku aja sampai jatuh hati sama kamu gara0gara diambilin kursi buat duduk.” Mayang tertawa kembali.   Dio ikut tertawa. “Sesimpel itu ternyata yah, memenangkan hati ibu kamu. Anaknya malah lebih sulit,” seloroh Dio dengan wajah usil.   “Ya maaf,” ucap Mayang sembari nyengir.   “Ya udah aku pulang dulu, ya, udah malem nih,” ucap Dio. “Besok kamu ngantor kayak biasa, kan?” tanya Dio.   “Iya, ngantor pagi,” ucap Mayang.   “Oke, selamat istirahat aja kalau gitu,” ucap Dio. “Tidur yang nyenyak, yah.”   Dan dengan gerakan cepat namun halus, Dio mendekatkan kepalanya ke dahi Mayan dan mengecupnya sekilas. Mayang yang tak bisa menghindar hanya bisa menerimanya dengan wajah tersipu.   “Hati-hati, ya, Dio,” ucap Mayang.   “Iya. Bye!” ucap Dio sembari melambai dan meninggalkan teras rumah kost itu untuk menuju ke mobilnya yang diparkirkan di luar.   Dengan hati berdebar-debar dan dahi masih terasa panas akibat ciuman sekilas Dio tadi, Mayang kembali masuk ke kamarnya untuk beristirahat sembari membayangkan Dio.   Keesokan paginya, seperti yang sudah diduga oleh Mayang, saat ia tiba di ruangan kantornya, Sarah dan Reindra yang sudah datang sejak pagi sekali menyerbunya.   “Pagi. Lo udah sehat, May?” tanya Reindra sembari mengamati wajah Mayang.   “Udah enakan kan?” tanya Sarah yang juga ikut mengamati Mayang.   Mayang tersenyum dan mengangguk. “Udah, udah fit banget, nih. Enak juga ya sekali-sekali cuti istirahat,” ucap Mayang.   “Emang enak, makanya cuti tuh dipake, kayak gue sama Reindra,” celetuk Sarah, “jangan kayak lo, May. Mau ngambil cuti kok pake nggak enak sama bagian HRD. Itu kan hak karyawan.”   Mayang tertawa. “Iya, iyaa. Itu kan kemarin udah gue kurangin sehari tuh, jatah cuti gue,” sahut Mayang.   “Eh, jadi gimana, May, gimana waktu pulang dari Bandung kemarin?” tanya Sarah dengan wajah sangat penasaran. Gadis itu langsung duduk pada kursi yang ada di depan meja Mayang.   “By the way, Dio masih utuh, kan? Nggak dibantai sama pakde lo?” tanya Reindra sembari cengengesan. Pemuda itu bertumpu pada tepi meja dan bersandar pada sisi kursi yang diduduki oleh Sarah.   Mayang tertawa geli. “Sadis amat bahasa lo, Rein?” ucap Mayang. “Masih utuh laah, semalam dia habis dari kosan gue. Pas gue datang dari Bekasi, dia datang ke kosan.”   “Syukurlah, temen gue nggak berkurang satu,” ucap Reindra sembari mengusap d**a pura-pura lega.   “Terus, terus, gimana tanggapan nyokap lo?” tanya Sarah. “Terus semalam lo bahas apa sama Dio?” Sarah menumpukan kedua lengannya di atas meja dan meletakkan dagunya dia atas kedua tangan, menatap lekat-lekat kepada Mayang yang duduk di hadapannya.   “Iya, May, ayo ceritain!” tuntut Reindra. “Dari kemarin kita berdua udah penasaran nunggu lo masuk. Mau nanya kelanjutan soal Dio.”   Dan akhirnya Mayang menceritakan semuanya pada Sarah dan Reindra. Mulai dari saat Dio mengantarkannya pulang setelah mereka kembali dari Bandung, kemudian pembicaraannya dengan ibunya keesokan paginya, dan terakhir adalah dikusinya dengan Dio semalam di teras kamar kostnya.   “Waaaaw! Syukurlah ternyata semuanya berjalan lancar ya, May,” ucap Sarah.   Mayang mengangguk dan tersenyum. “Iya, gue juga ngerasa lega banget, ternyata nggak sesulit yang gue dan Dio bayangkan,” ucap Mayang.   “Itu karena Dio orangnya keliatan jujur dan tulus,” ucap Reindra kemudian. “Dio mungkin nggak ngomong apa-apa malam itu, tapi ibu lo dan pakde lo bisa langsung ngeliat May, kalau Dio benar-benar serius sama lo.”   “Iya, bener,” ucap Sarah. “Dio itu orangnya nggak pernah keliatan pura-pura atau berusaha untuk disukai. Dia benar-benar biasa aja, gitu. Natural aja dalam bersikap, nggak terlalu berlebihan dan pura-pura sopan atau sok perhatian, tapi malah jadi terlihat memuakkan dan palsu.”   “Iya ya, bener ….” ucap Mayang menyetujui perkataan Sarah dan Reindra, dalam hati merasa senang akan komentar positif dari teman-temannya kepada Dio, calon suaminya.   “Jadi dua bulan lagi nih ya, kita bakal kondangan Sar,” ucap Reindra sembari nyengir.   “Wah, iya, gue harus beli baju baru buat kondangan, nih,” ucap Sarah.   “Eh, belum pastiiii,” ucap Mayang, “kan, itu baru rencana gue sama Dio aja. Belum tentu disetujui, loh.”   “Iya iyaa, paling juga kalau diundur cuma sebulan,” ucap Reindra. “Gue yakin.”   Mayang tertawa. “Makasih yah Rein, atas keyakinan lo," ucap Mayang senang mendapatkan dukungan dari teman-temannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN