Bab 172

2194 Kata

Tangisan itu menggema begitu keras di halaman belakang rumah yang luas dan hijau. Sarah spontan menoleh ketika mendengar suara itu. Jantungnya berdegup cepat, sapu di tangannya terjatuh begitu saja ke tanah, dan tanpa pikir panjang ia berlari ke arah sumber tangisan. Di bawah pohon flamboyan yang sedang mekar merah, Alvano duduk di rumput, lutut kecilnya lecet, dan air matanya mengalir deras di pipinya yang bulat. “Alvano!” seru Sarah dengan napas terburu. Ia segera berlutut, memeluk tubuh kecil itu erat. “Sayang, kenapa? Aduh, jatuh ya, Nak?” Tangisan Alvano semakin keras, suaranya tersendat karena isak yang begitu dalam. Ia menunjukkan lututnya yang berdarah, meski hanya sedikit. “Mama... sakit...” katanya terbata di sela tangis. Sarah merasakan dadanya menegang. Walau luka itu tidak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN