Sore itu langit memancarkan warna jingga yang hangat, menyapu perlahan permukaan taman kota yang mulai dipenuhi keluarga kecil. Anak-anak berlarian, tawa mereka bercampur dengan suara burung yang hendak kembali ke sarang. Sinta duduk di salah satu bangku taman, mengenakan blus putih dan celana panjang krem. Di tangannya ada secangkir kopi dingin yang sudah kehilangan dinginnya. Pandangannya kosong, seakan tak tahu harus melihat ke mana. Awalnya dia hanya ingin berjalan santai, mencari udara segar setelah seminggu bekerja di bawah tekanan dan tatapan dingin atasannya. Namun takdir seolah mempermainkannya ketika di kejauhan matanya menangkap sosok yang membuat dadanya sesak. Kavindra. Lelaki itu. Lelaki yang selama ini hanya bisa dia kagumi diam-diam dari balik meja sekretarisnya. Sinta ti

