Bab 133

1922 Kata

Malam itu udara kampung terasa dingin dan senyap. Lampu jalan berjarak jauh satu sama lain, cahaya kuningnya memantul pelan di aspal yang sedikit berlubang. Fiona berjalan dengan langkah terseok, tubuhnya kurus, pakaian kusam, rambut berantakan — bayangan seorang yang hidup pada ambang putus asa. Dompet tipis yang tersisa ia pegang erat, tiga puluh ribu rupiah yang hampir tak berarti sama sekali. Ia menyusuri pinggir jalan, mencari peluang—satu harapan kecil agar bisa mendapatkan uang untuk makan. Di kepalanya berputar-putar kata‑kata muak dan dendam: betapa ia merasa dunia telah merampas segalanya. Namun malam itu ada sesuatu yang tidak ia rasakan semata-mata ketakutan: ada rahasia bahwa matanya mudah tertutup, langkahnya lemah, dan pikirannya sering melayang, membuatnya tidak selalu was

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN