13. Perang Dingin

1017 Kata

Sani terbangun dengan keringat membanjir, dengan napas memburu, dengan kerutan penuh di dahi. Sudah beberapa hari ini gadis itu terbangun dengan cara serupa. Meski setelah membuka mata tak ada satupun yang ia ingat dari mimpi buruknya. Mimpi buruk? Bisakah Sani menganggap demikian? Walau sebenarnya ia tidak tahu apa yang membuatnya terbangun dengan cara seperti itu. Sani mengusap peluh, bangkit dari ranjang setelah memakan waktu cukup lama hanya untuk mengingat apa yang membuatnya terjaga. Gadis itu membasuh wajah, berusaha mengenyahkan apa pun yang ada dalam pikirinannya saat itu. Waktu terus berputar, dan ia tidak bisa terus terpaku pada apa yang tidak bisa diingatnya. *** Sudah sepuluh menit Asta mondar-mandir di depan mobil kantor sambil berkali-kali melirik jam di pergelangan tanga

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN