Perjanjian (POV Dareen)

1402 Kata
"Dareen ...." "Ya, Nek?" "Kamu tahu kan aku tak pernah minta apa pun pada keluargamu?" Wanita yang matanya tengah dipenuhi kaca-kaca itu, tiba-tiba mengungkit masalah pengorbanan. Sesuatu masalah yang besar sedang menimpa keluarga ini. Puteri sulung mereka harusnya menikah. Namun, adiknya tiba-tiba datang mengatakan hamil anak mempelai pria. Tentu saja orang tua mereka bukan hanya malu, tapi juga syok berat. Setelah tadi Nenek terjatuh di depan semua orang, aku segera membopongnya ke mari. Ke kamarnya. Benar yang Nenek katakan, banyak hal yang Papi tawarkan. Namun, Nenek selalu saja menolaknya. "Nenek tahu kamu pria baik, karena selama ini kita dekat," katanya lagi. Aku tak menjawab. Entah, apa kemauan Nenek kali ini? "Setahu Nenek kamu tak pernah menjalin hubungan dengan gadis, Dareen." Wanita mengingatkanku pada kebiasaan. Bagaimana aku bisa menjalin hubungan dengan para gadis? Aku terlalu sibuk mengurus perusahaan keluarga. Karena putera tunggal Keluarga Biantara, pekerjaan seolah tak ada habisnya. Tak ada waktu mempermainkan gadis-gadis apalagi bermain serius dengan mereka. Lalu apa aku tak punya naluri laki-laki? Aku punya, tapi karena tak ada yang memancingnya, semua aman-aman saja di tempatnya.. "Hem. Ya. Nek. Mana ada gadis yang mau denganku? Aku terlalu tampan," sahutku asal. Nenek pun tersenyum mendengarnya. Syukurlah, aku suka membuat orang lain tertawa karena ucapanku. "Benar, banyak gadis takut punya kekasih tampan, karena pasti akan diincar oleh gadis lain." Nenek menimpali. Seolah kesedihan yang baru tampak tadi menguap dalam sekejap. "Menikahlah dengan Kalila, cucu Nenek. Dia gadis baik, dia berhak mendapatkan pria baik dan bahagia." "Menikah dengan Kalila?" Jelas saja aku terkjeut. "Tapi ... apa dia mau?" Tanyaku kemudian. Aku yang dikenal bad boy, mana mungkin Kalila mau. Dibanding calon suaminya yang gagal dinikahi, kepribadian kami sangat jauh. Seperti langit dan bumi. Ah, bukankah di situ letak daya tariknya. Banyak wanita tak paham. Lelaki pendiam dan tampak sopan seperti Dewa itu menghanyutkan. "Dia pasti mau." Nenek menyahut. "Kenapa Nenek seyakin itu?" "Karena yang menawarkan diri adalah kamu, seorang Dareen Biantara." Aku tersenyum mendengar itu. Nenek satu-satunya wanita yang bisa melihat dan memuji kebaikanku. Dari beliau juga, aku banyak mendapat kepercayaan diri. "Baiklah jika itu permintaan Nenek." Akhirnya kuturuti permintaan pertama wanita yang kulitnya sudah mengeriput nyaris di seluruh bagian. Kudengar helaan napas panjang dari seseorang yang duduk di sebelah. Aku terhenyak. Seketika bayangan Nenek pun menghilang. Setelah meyakinkan Kalila, akhirnya perempuan itu mau mendengar. Meski kenyataanya, ia tak mempercayaiku. Kami pun berjalan masuk ke mobil dan bergegas pulang. Yah, itu resiko. Gara-gara mulut sialan Dewa. Bisa-bisanya dia melibatkan dan memfitnahku? Dulu ... di malam yang Dewa ceritakan aku memang sempat mampir ke kostan Qinara, atas permintaan nenek. Tapi, karena tak bertemu kupilih pulang saja, itu pun atas mandat dari Nenek juga. "Halo, Dareen. Nenek sudah bertemu Qinara di rumah. Makanannya gantung di pintu kostnya saja," ucap Nenek di telepon kala itu. Setelah menggantung makanan dengan bungkus sebuah restauran, kutinggalkan pulang segera. Sayangnya aku tak bertemu dengan Dewa, atau barangkali bertemu tapi ... karena tak saling mengenal, kuabaikan begitu saja. Namun, mau bagaimana, aku tak bisa mengendalikan apa yang boleh dan tak boleh diucap pria itu. Meski itu sangat merugikanku. Aiish, padahal aku baru saja mendapat satu goal dengan mencium Kalila. Tapi kenapa malah Dewa menyebut namaku sebagai penjahat. Sebentar ... kalau dia melihat dan ingat itu aku, berarti hari itu dis sudah mengenaliku. Bagaimana bisa? Aku saja yang memendam perasaan lama pada Kalila, tak tahu kalau dia yang jadi calon suaminya. Aku mengenal keluarga Kalila sudah dari kecil. Nenek yang kenal baik dengan kedua orang tuaku, terutama almarhumah Mami. Karena dulunya Nenek pernah bekerja sebagai orang kepercayaan Papi di rumah. Sepeninggal Mami, Papi lebih percaya pada Nenek untuk merawatku dibanding baby sitter lain. Hanya saja, aku tak bisa mengakrabkan diri dengan kedua cucu Nenek. Karena mereka perempuan. Ya, alasan yang klasik memang. Walau begitu, bisa menatapnya dari kejauhan, bahwa Nenek punya satu cucu yang sangat cantik. Namanya Kalila, gadis yang berbeda dengan penampilan gadis-gadis lain. Siapa yang sangka, gadis dengan pakaian tertutup itu memiliki calon suami. Ck. Sial! Aku kalah start. Barangkali karena sikapku yang slengehan dan suka bercanda, Kalila pikir aku tak bisa serius menjalin hubungan. Namun, siapa menduga, aku dan Kalila terikat dalam hubungan perkawinan. Benar kata orang, kalau jodoh emang gak ke mana. Meski, pernikahan ini adalah buah dari penderitaannya, pernikahan yang membawa serta luka dalam dari adiknya, Qinara. Suasana jadi tak seperti sebelumnya. Kalila jadi diam. Ah, tadi kan berangkatnya juga diam. Bedanya sekarang aku tak leluasa menggodanya, apalagi sampai bisa melakukan serangan berikutnya seperti tadi. Aku cukup tahu diri untuk tidak menganggu Kalila. Entah, apa yang dia pikirkan sekarang tentangku? Yang jelas perempuan itu bersikap dingin dan ... kejam. Tak lama, wanita itu bergerak merogoh ponsel dalam tas, lalu sibuk menarik ulur beranda ponsel miliknya. Kalila ... bagaimana aku membuktikan kalau aku tak terlibat hubungan dengan Qinara? Kenapa juga kamu masih memercayai pria sebrengsek Dewa? Terang saja dia akan mencari segala cara agar bisa kembali padamu? "Berhenti sebentar di Mini market, ya." Suara Kalila terdengar. Kali ini ia sudah tenang. Tak uring-uringan seperti tadi. "Ya?" Aku yang terkejut mendengarnya bicara segera menoleh. Berharap dia tak lagi marah padaku. "Jangan ge-er Mas. Aku bukan mau baik padamu," ketusnya. Ck. Masih galak juga. "Oh, ya, ya." Aku manggut-manggut pelan. Begitu mobil telah sampai ke mini market, kuputar setirnya dan berbelok ke sana. "Tunggu di sini. Aku harus membeli sesuatu," pamitnya sembari membuka pintu. Sekitar sepuluh menit menunggu, perempuan itu akhirnya datang. Kalila menenteng sebuah bungkusan. Dan meletakkannya di kursi belakang. Saat masuk wanita itu memberikan kaleng kopi dingin padaku. "Ini." "Apa ini?" "Anggap saja aku temanmu," ucapnya kemudian. "Mana bisa? Kamu kan istriku," ucapku usil. Kalila langsung menatap tak suka padaku. Mungkin dia sedang mengingatkan, bahwa pria berengsek seertiku, tak boleh ngadi-ngadi menganggapnya sebagai istri. Seseorang yang didapat dari ikatan sakral bernama pernikahan. "Yah, aku tau apa yang dalam pikiranmu sekarang, Kalila. Tapi aku bukan penjahat. Jadi kalau kamu tak percaya padaku, itu bukan salahku sebenarnya." Aku mencebik. Menggedikkan bahu. Memperlihatkan padanya bahwa sikap dinginnya tak akan menghalangiku berbuat seperti biasa. Kalila diam. Lalu mendesah lagi. "Yah, terserah kamu saja, Mas." Aku mengangguk. Tak masalah sikapnya dingin. Yang penting pernikahan ini tidak bubar. Aku tak bisa membayangkan bagaimana sedihnya Nenek kalau saja, Kalila tak bisa berpikir jernih dan mengakhiri semua ini. Namun, aku yakin ... seiring berjalannya waktu, aku akan bisa membuktikan padanya, juga pada Dewa yang sialan itu, kalau aku tak pernah menjalin hubungan dengan Qinara. Ponsel Kalila kembali berbunyi. Tak sengaja saat meliriknya, tampak nama Dewa di layar ponsel. Kalila tak menjawabnya dan mematikannya. Barangkali pria itu masih berusaha keras dengan mengirim pesan ke nomor wanita yang kini berstatus menjadi istriku. Karena Kalila tak kunjung membalas, mungkin dia sampai menghubunginya. Besar juga nyalinya. Dia bukan tipe yang mudah menyerah. Padahal jelas-jelas Kalila sudah menolaknya tadi. Gawat, dia akan jadi ancaman besar pedekateku pada Kalila. "Jadi ... kamu tak berniat kembali pada Dewa?" tanyaku memberanikan diri. Kalila kemudian menoleh padaku. "Menurut Mas, baiknya gimana? Kembali padanya atau bertahan di sisi Mas Dareen? Toh keduanya sama, sama-sama buaya!" Aku tertawa masam mendengar jawabannya. Sekitar 20 menit akhirnya mobil kami sampai ke rumah. Kulihat mobil papi masih bertengger manis di halaman rumah Kalila. "Kenapa Papi belum pulang? Bukannya dia sangat sibuk?" gumamku. Saat masuk rumah, kami disambut hangat oleh mereka. "Gimana? Dapat lingerienya?" tanya Mama. "Wah, sayang sekali Ma. Kalila tak sabar ingin pulang," ucapku. Jangan sampai mereka tahu kalau Kalila marah padaku. Dan tahu apa alasannya. "Papi, nggak kerja?" tanyaku kemudian pada Papi yang masih asik dengan Papa mertua. "Papi kan lagi cuti." Lah, aku yang nikah. Kenapa dia ikut-ikutan curi? "Papi lucu sekali," ucapku menahan kesal. Ini sangat tak menguntungkan. Kalau Papi juga tak bekerja, pekerjaanku akan sangat menumpuk begitu masuk nanti. "Oh ya, Dareen. Kamu tenang saja. Papi cuma dua hari minta cuti. Dan memberikanmu cuti full seminggu. Ini ...." Pria itu menyodorkan dua tiket penerbangan. "Apa ini?" tanyaku mengerutkan kening. "Tiket bulan madu untuk kamu dan Kalila." "Apa?! Kami? Bulan madu?" tanyaku bingung. Kapan mereka mempersiapkan ini. "Ya, kami kan pengen cepat dapat cucu. Siapa tahu kalau kalian bikinnya jauh-jauh dari kebisingan di sini. Cucu kami akan cepat jadi." Astaga Papi ... apa yang ada dalam pikiran mereka semua? Apa dikira membuat anak itu semudah menandatangani tander? Apalagi sekarang Kalila sedang marah padaku. Boro- bikin anak .... Kalila juga sampai salah tingkah sendiri. Papi mengerlingkan mata. Seolah tengah mengingatkanku sesuatu, sebuah perjanjian dengannya ... bahwa aku harus memberinya seorang anak tahun ini. Kalau tidak .... Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN