Rasa Sakit Yang Sama

2056 Kata
Sayangnya tatapan yang diberikan Zaitunna malah terlihat biasa saja dan gadis itu juga lebih memilih mengusap-usap lengan Lily lembut hingga membuat wanita paruh baya itu yang awalnya ingin marah dengan para staff lainnya seketika menjadi lebih tenang dan tanpa bisa Lily sangka-sangka rasanya ia cukup terharu dengan sikap bijaksana Zaitunna. “Dia yang di pandang sebelah mata oleh orang lain eh malah bisa-bisanya Zai juga yang bersikap tenang padahal Zaitunna tidak salah apapun dan melihatnya yang seperti ini membuatku merasa tak bisa memarahi orang-orang yang membuat hati Zai sedih karena yang di sakiti saja bisa tegar begini lalu bagaimana bisa aku marah di saat Zai saja sabar,” batin Lily sendu. “Apapun yang mereka katakan tentangku itu bukan urusanku melainkan itu apa yang mereka pikirkan dan ibu tidak perlu mengkhawatirkan hal ini karena aku tidak masalah dengan apapun yang orang katakan padaku kok ibu! Tenang saja ya? Semua akan baik-baik saja jadi ibu tidak usah ikut terpancing emosi dengan hal yang sebenarnya bukan masalah besar juga kok hal ini bu,” ucap Zaitunna lembut. Mata Lily berkaca-kaca saat melihat sikap dewasa Zaitunna yang lebih memilih tidak mencari masalah padahal ia bisa saja membalas ucapan staf itu, terlebih Zaitunna adalah putri dari pemilik panti asuhan ini jadi seharusnya Zaitunna bisa menunjukkan siapa dirinya sayangnya gadis itu tak bertindak seperti itu dan lebih memilih jalan damai. “Hatimu benar-benar begitu baik sayang, ibu bangga karena di saat seperti ini kamu masih bisa tetap memilih untuk memaafkan mereka bahkan kamu tidak mencari masalah dengan orang-orang yang menilai dirimu sembarangan loh! Di saat kamu bisa membalas mereka kamu malah memilih untuk hidup damai seperti ini sayang, ibu benar-benar bangga padamu Zai,” ucap Lily bangga. Sejenak ruangan itu terdengar begitu hening setelah mendengar ucapan Lily yang sepertinya benar dan cukup menyadarkan staf-staf itu bahwa sikap mereka telah sangat keterlaluan bahkan tidak seharusnya mereka bersikap demikian pada Zaitunna sedangkan gadis cantik itu lebih memilih untuk pamit kembali ke kamarnya. “Mungkin Zai terlihat masih muda dan seharusnya bisa mengikuti keinginan kalian, tetapi sebagai orang yang lebih dewasa dan paham akan banyak hal seharusnya kalian juga lebih bisa menghargai Zai karena bagaimanapun juga kalian dan Zai harus saling bisa menjaga tidak boleh saling menyakiti satu sama lain seperti ini jadi saya harap kejadian ini tidak terulang lagi! Kalian paham?” ujar Lily serius. “Tak apa ibu, aku sudah memaafkan mereka dan tidak perlu lagi di permasalahkan mengenai ucapan mereka toh nantinya mereka akan paham sendiri bahwa ada hal yang wajar di ucapkan dan ada juga yang keterlaluan untuk di bahas! Ya sudah karena aku perlu istirahat jadi aku pamit kembali ke kamar aku dulu ya bu? Ibu tidak perlu mengkhawatirkan soal ini kok bu,” ucap Zaitunna santai. Tatapan beberapa staf sekilas terlihat seperti menatap Zaitunna dengan pandangan kesal sekaligus iri sementara Zaitunna sendiri juga mengerti bahwa ada saja orang yang tidak menyukainya jadi hal semacam ini lebih baik tidak usah di pikirkan lalu dengan santai Zaitunna berpesan pada Lily untuk istirahat saja sebab hal seperti ini hanya akan membuang-buang waktu saja. “Ibu juga sudah lelah seharian ini kan? Kalau sekarang ibu tidak sibuk sebaiknya ibu istirahat saja dan jangan sampai ibu kelelahan karena hal ini ya, bu? Penilaian orang yang tidak menyukaiku adalah hal biasa yang hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga ibu saja! Untuk itu aku mohon ibu juga harus memikirkan kesehatan ibu ya,” tutur Zaitunna lembut. Lily juga memikirkan hal yang sama dengan Zaitunna hingga akhirnya ia memilih untuk menanyakan Zaitunna ingin di siapkan makanan apa untuk di bawa ke kampusnya lalu gadis cantik itu memilih ia akan menyiapkan makanannya sendiri agar ibu asuhnya bisa fokus mengurus adik-adiknya di banding dirinya yang bisa mengurus dirinya sendiri. “Ucapanmu ada benarnya juga sayang, oh iya! Untuk besok kamu mau di siapkan makanan apa, Zai? Besok kamu pergi ke kampus tidak nak? Mau ibu masakan apa biar sekalian ibu masak juga untuk adik-adik kamu yang lainnya? Kamu boleh mengatakan makanan yang ingin kamu masak kok! Kalau ibu masakan daging sapi di tumis mau, Zai?” tanya Lily lembut. “Ibu boleh memasakkan apapun untuk adik-adik kok bu! Nanti kalau soal bekal biar aku yang siapkan sendiri supaya ibu bisa fokus mengurus adik-adikku di banding mengurus aku yang bisa mengurus diriku sendiri kok! Ya sudah aku pergi ke kamarku dulu ya, bu? Jika ada hal yang ingin ibu tanyakan padaku nanti aku akan ke kamar ibu agar ibu tidak repot ke sana-sini ya bu,” sahut Zaitunna santai. Tak lama langkah gadis berjalan ke kamarnya sementara Lily meminta para staf untuk jangan sampai melakukan seperti ini lagi karena Zaitunna sudah di anggap seperti anak Lily sendiri jika mereka menyakiti Zaitunna maka artinya mereka juga menyakiti hatinya dan tanpa berlama-lama lagi para staff mengangguk-anggukkan kepala tanda mereka mengerti lalu kerumunan orang itu pun bubar. “Kali ini saya tidak mempermasalahkan ucapan kalian pada putri saya, tetapi apa yang tadi kalian katakan sudah sangat keterlaluan dan saya minta agar hal seperti ini jangan sampai terulang lagi karena mungkin di mata kalian Zai hanya anak angkat saya sedangkan di hati saya dia sudah saya anggap seperti putri kandung saya dan kalian sebagai pekerja harusnya tau batasan?!” ujar Lily serius. Sementara Zaitunna yang baru sampai di kamarnya sudah di sapa oleh 4 mahluk halus yang menatap dirinya dengan pandangan yang terlihat penasaran sekaligus khawatir, tetapi tak banyak kata yang di ucapkan Zaitunna hingga kuntilanak dan pocong berusaha menghibur Zaitunna dan gadis itu malah mengabaikan dua mahluk halus ini. “Wajah kamu seperti habis bertemu hantu saja, Zai! Aturan kalau pulang dari aktifitas itu ekspresi muka dirimu itu bahagia dong bukan malah muram begini! Kamu tidak sedang kesambet hantu atau semacamnya kan? Mau aku panggilkan ustad atau orang bisa membantu kamu tidak, Zai? Oh iya salam kenal aku hantu yang terpaksa pindah dari rumah sebelah ya? Kadang aku dan kunti sering ngobrolin kamu juga sih Zai,” ujar pocong santai. “Bisa gak kalo di kasih informasi itu diem aja! Apa perlu mulut kamu itu aku kasih kafan sekalian biar gak usah kayak ember bocor begini, hm? Ngomong-ngomong ada apa denganmu Zai? Apakah tadi di kampusmu ada masalah ya? Kamu jarang masuk ke kamar dengan ekspresi wajah yang muram seperti ini jadi pasti terjadi sesuatu ya di luar tadi itu?” sahut kuntilanak datar. Rulhan dan Fajn yang mengerti jika penghiburan tak dibutuhkan oleh Zaitunna saat ini membuat mereka berdua berusaha basa-basi untuk sekedar mengajak bicara Zaitunna dan tak lama gadis itu mulai tersenyum dan menenangkan Fajn sama Rulhan sebab ia hanya sedang lelah saja dengan orang-orang yang menyalahkan dirinya. “Apakah ada masalah yang terjadi sebelum kamu naik ke kamarmu? Mungkin kami belum tentu bisa memberikanmu solusi hanya saja kau bisa merasa sedikit lebih baik jika bercerita dengan kami jadi tadi kamu sedang kenapa sampai-sampai wajahmu terlihat sedih dan seperti banyak masalah begitu? Yakin tidak ingin bercerita pada kami ha, Zai?” ucap Fajn lembut. “Tidak perlu menjawab jika Zai tidak ingin jawab kok! Terkadang memang tak masalah jika kamu sedang merasa lelah atau ingin sendiri hanya saja kalau bisa kamu jangan terlalu membiarkan dirimu menahan semua masalah ini seorang diri, Zai! Masalah memang kadang mendewasakan hanya saja kamu tidak perlu memaksakan dirimu untuk bijaksana di saat seperti ini,” ujar Rulhan santai. “Aku baik-baik saja kok, cuma aku sedang lelah saja dengan orang-orang yang menyalahkan dan kadang memandang rendah diriku ini! Sebenarnya memang hal semacam ini tidak perlu aku pikirkan cuma entah kenapa rasanya hatiku lelah saja di simpulkan tanpa pernah di mengerti sedikitpun dan pengen aja menenangkan diriku sendiri di dalam kamar ini,” gumam Zaitunna sendu. Nada dari ucapan Zaitunna membuat kuntilanak dan pocong ikut menimpali ucapan Zaitunna yang terdengar sedih sementara apa yang mereka pernah lalui lebih dari ini dan Rulhan menyahuti bahwa setiap masalah tiap manusia itu berbeda-beda dan tidak patut jika dua mahluk halus ini terus-terusan menyamaratakan masalah tiap orang. “Manusia memang seperti itu kan? Bahkan tanpa sadar mungkin kamu juga pernah menyimpulkan orang lain seperti apa yang kamu rasakan saat ini Zai, lagipula apa yang kamu lakukan masih belum ada apa-apanya di banding apa yang pernah aku lalui dahulu! Jadi lebih baik kamu tenangkan dirimu dan tidak perlu memasukkan ke hati ucapan seperti ini,” ujar pocong itu santai. “Ucapan pocong tidak sepenuhnya salah sih! Ya terkadang memang ada hal-hal yang terjadi hanya karena masalah penilaian orang lain itu di luar kendali kita dan setiap kita pasti memiliki masalah yang menyulitkan jadi kalau soal lelah lalu kamu ingin sendiri ya tidak salah juga sih sebenarnya cuma kalau kamu tau hal yang pernah aku lalui pasti kamu akan mengerti rasa sakit yang sama dengan masa lalu aku dulu,” sahut kuntilanak datar. “Kalian berdua ini berbicara apaan sih? Setiap masalah yang di miliki tiap manusia itu berbeda-beda dan tidak seharusnya kalau kalian berdua menyamaratakan masalah tiap orang itu harus sama atau sampai merasa jika kalian lebih buruk dari Zaitunna juga tak baik! Mana kalian pahami sesakit apa bertahan menjadi Zaitunna jadi sebaiknya jaga saja ucapan kalian berdua ini,” ucap Rulhan serius. Zaitunna yang merasa jika ucapan dari kuntilanak dan pocong tidak sepenuh salah membuat gadis itu berusaha menenangkan Rulhan sementara Fajn yang merasa jika ucapan Rulhan seperti ia juga pernah mengalami rasa sakit yang sama membuat sosok pelindung itu menimpalinya dengan santai dan Rulhan bilang bahwa ucapan Fajn tidaklah salah. “Aku rasa mereka hanya berusaha menghiburku dan tak sepenuhnya salah juga sebab mungkin aku saja yang terlalu memandang sebelah mata masalahku ini jadi Rulhan tenang saja ! Aku tidak apa-apa jika di nilai seperti ini toh mungkin ucapan mereka bisa menjadi pengingat diriku yang mungkin lupa mensyukuri apa yang aku miliki saat ini Rulhan,” sahut Zaitunna santai. “Dari nada ucapanmu yang akan melindungi perasaan Zai membuat aku bisa merasakan kalau kamu juga pernah merasakan rasa sakit yang sama dengan Zaitunna ya? Emosimu benar-benar terlihat jelas dari cara kamu menjelaskan bahwa apa yang kamu lalui selama hidup juga sulit dan menyakitkan untuk dirimu ya, Rulhan?” ujar Fajn serius. “Pemikiranmu tak salah dan aku juga memiliki masa sulit, masa yang melelahkan dan menyakitkan hatiku juga pernah aku lalui cuma semua hal itu sudah berakhir begitu saja kan ya? Aku jadi tak perlu menjelaskan bagaimana rasa sakit yang pernah aku lalui dulu kan? Pokoknya tiap dari kita yang hidup pasti akan menelan rasa sakit yang sama dulu,” gumam Rulhan santai. Suasana kamar Zaitunna seketika menjadi hening saat mendengar ucapan Rulhan yang terkesan tak ingin membahas hal yang ia rasakan hingga tiba-tiba kuntilanak bergumam jika hal serupa adalah hal yang biasa di rasakan oleh manusia dan dulu kuntilanak juga pernah merasakan rasa sakit yang sama. “Menelan rasa sakit yang sama seperti batu loncatan yang harus kita pijaki dan aku juga pernah merasakan masa lalu dan memori yang menyakitkan dan hal serupa yang dibicarakan Rulhan itu hal yang biasa di rasakan tiap manusia! Jadi dari hal-hal semacam ini aku jadi belajar banyak hal baru yang kalau di pikir-pikir tidak ada salahnya juga untuk terjadi sih,” gumam kuntilanak datar. Mendengar nada ucapan kuntilanak yang terasa menahan kesedihannya membuat Zaitunna tak lama menanyakan apakah sampai saat ini kuntilanak masih belum melupakan dan memaafkan rasa sakit yang ia katakan barusan dan jawaban yang di dapatkan Zaitunna malah hal yang berbeda seakan-akan kuntilanak memilih membahas hal lain di banding rasa sakitnya. “Sepertinya bukan hanya Rulhan yang tanpa sadar larut dengan rasa sakitnya yang dulu ya? Kunti juga masih memiliki luka yang membekas dihatimu ya? Apakah sampai saat ini kunti masih belum bisa untuk melupakan dan memaafkan rasa sakit yang masih tersisa di dalam ingatan dirimu ya, kunti? Tidakkah kamu ingin berdamai dengan rasa sakit itu? Hm?” tanya Zaitunna lembut. “Berdamai katamu? Aku tidak terlibat dalam peperangan jadi untuk apa berdamai? Lagipula aku yang telah hidup beriring dengan waktu yang terus berubah membuat banyak memori dan ingatan akan masa laluku hanya tersimpan jadi mari kita sudahi dan lebih baik anggap saja kita tidak membahas apapun mengenai hal yang tidak penting ini ya Zai,” ucap kuntilanak santai. Dalam diam baik Rulhan, Fajn, pocong dan Zaitunna hanya bisa memandang kuntilanak dengan tatapan sendu bercampur ingin menenangkan arwah penasaran itu hanya saja mereka juga cukup sadar jika bukan hal semacam itu yang di butuhkan oleh kuntilanak, mungkin dia butuh waktu yang akan memulihkan rasa sakit yang tersisa di hatinya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN