"Hahaa emang kamu aja yang bisa kasih kejutan? Aku juga bisa kali. " Ucap Karin sambil tertawa.
"Rinnn... "
"Sabar aja Key. Nggak lama koq. Hehee" Karin masih tidak mau mengatakannya. Akhirnya aku mengalah dan kembali pada posisi duduk menghadap ke depan.
* * * *
Setibanya di cafe, kami masuk ke dalam dan menuju ke tempat duduk yang biasanya tempat kami nongkrong bersama. Ternyata di sana sudah ada Erick yang duduk menunggu. Aku kira cuma kami berdua. Ternyata Karin sudah mengabarkan pada Erick untuk berjumpa disini.
Kami duduk dan memesan minuman seperti biasa. Sambil menunggu, kami berbincang-bincang. Aku teringat soal kejadian di mobil tadi. Sebaiknya aku tanyakan sekarang. Mumpung ada Erick, mungkin dia bisa bantu buat Karin menbuka mulut.
"Rin, tadi katanya mau cerita? " kataku sambil nyengir kuda. Kulihat Erick mengangkat alisnya. Sepertinya dia juga penasaran.
"Cerita apa nih? " tanya Erick antusias.
"Ini Karin! Tadi kayanya happy banget. Pas aku nanya kenapa, dia bilang tunggu sampai disini dulu baru mau cerita. Nggak tau apa, kalau aku penasaran banget." jelasku dengan wajah kesal yang kubuat-buat, agar Karin kasian dan Erick juga membantuku memujuk Karin untuk menceritakannya.
"Ouhhh.. " Erick ber oh ria sambil tersenyum yang kurasa sedikit aneh. Beda dengan harapanku, ternyata Erick sama sekali tidak membantu. Aku semakin kesal karna mereka sepertinya acuh.
Sambil menikmati minuman pesanan kami, kami berbincang ringan. Saat sedang asik berbincang, tiba-tiba seorang waitress menghampiri meja kami sambil membawa sebuah kueh. Diatas kueh tersebut ada tulisan
"Happy Anniversary Honey. I Love U"
Sepertinya salah meja. Aku memandang pada Karin dan juga Erick yang sama-sama tidak mengeluarkan suara. Tapi ekspresi Karin sepertinya berlebihkan. Dia sampai membuka mulut lebar dengan mata yang hampir keluar. Mungkin sama herannya denganku.
"Mbak, kayanya salah meja nih. " akhirnya aku yang membuka suara.
"Nggak koq mbak. Ini beneran. Pesanannya atas nama Mas Erick." Waitress tadi berucap sambil tersenyum dan menoleh kepada Erick.
"Beneran Rick? " Aku mengalihkan pandangan ke Erick. Kali ini aku yang syok. Tapi sedikit kurang mengerti. Apa yang dimaksudkan happy Anniversary? Honey? Apa dia ngundang pacarnya bersama kami disini? Atau mau minta tolong buat ngasih kejutan untuk pacarnya?
Erick tetap dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Tapi pandangan matanya tidak beralih dari wajah Karin. Kulihat Karin, dia juga masih belum bersuara. Tangannya menutup mulut dengan mata yang berkaca-kaca.
Aku jadi semakin pusing dengan tingkah mereka. Mereka sepertinya hanyut dalam perasaan masing-masing. Terlebih lagi Karin. Aneh tapi nyata.
"Hellooo" aku menaikkan sedikit suaraku sambil memetik jari di depan mereka berdua.
"Ini sebenarnya ada apa sih? " kulontarkan pertanyaan pada Erick. Erick hanya menoleh sebentar padaku, lalu kembali menatap Karin lagi.
"Happy Anniversary Honey." ucap Erick sambil memegang sebelah tangan Karin.
"What? " Spontan aku berteriak dan berdiri. Semua mata yang ada di Cafe ini menatapku dengan masing-masing tatapan. Aku benar-benar kaget dengan semua ini.
"Ihh.. Kamu tu ngerusak moment aja sih Key." Erick berucap sambil memutar bola mata. Aku semakin melongo melihat respondnya itu.
"Iya nih. Kamu diam aja dulu kenapa sih Key. Biar kami menikmati moment ini sebentar." Karin ikut menimpali.
"Eh, itu mulut ditutup Key. Nanti kemasukan lalat baru tau." Erick bersuara lagi. Spontan aku menutup mulutku.
"Makasih ya Beb. Aku kira kamu lupa sama Anniversary kita. Ternyata kamu ingat juga ya." Ucap Karin kepada Erick. Setelah itu aku tidak lagi menyimak obrolan mereka karna tenggelam dengan fikiranku sendiri.
Apa mungkin mereka pacaran? Tapi koq Karin nggak cerita ya sama aku? Ah. Jadi ini kejutannya. Tapi koq selama disini, mereka biasa-biasa aja? Nggak ada sama sekali gelagat aneh dari mereka.
"Key, nggak cape apa berdiri terus? Nggak mau duduk dulu? " kata Karin, mengejutkanku yang asik memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi saat aku di Singapura.
Eh, aku sampai lupa kalau belum duduk. Segera ku tarik kembali bangku tadi dan duduk di posisi semula. Aku menatap pada Erick dan juga Karin bergantian.