Part 9

701 Kata
"Udah! Sebaiknya kamu lupain aja dia. Masih banyak cowok yang baik diluar sana, yang bisa mencintai dan menghargai kamu!" kata Erick penuh emosi. "Yang dibilang sama Erick itu benar Key. Masih banyak cowok yang lebih baik diluar sana." kata Karin tak kalah emosinya. "Tapi aku udah terlanjur cinta banget sama dia." Air mata Keyla kembali mengalir dengan deras. "Key, kamu harus bisa lupain dia. Dia itu udah hianatin kamu!" ujar Erick. "Tapi.. " Belum sempat Keyla menyelesaikan ucapannya, malah dipotong sama Erick. "Ngak ada tapi-tapi. Kamu pasti bisa. Buat apa kamu pertahanin cowok penghianat kaya gitu? Lagian dia itu juga udah nikah. Jadi ngak mungkin bisa balikan lagi sama kamu! Kalaupun bisa, emang kamu mau, dicap sebagai pelakor? " kata Erick panjang kali lebar dengan berapi-api. Keyla merasa dadanya seperti dihimpit batu besar. Kata-kata Erick sangat menusuk, tapi ada betulnya juga. "Udah, udah. Mending sekarang kamu mandu dulu ya Key. Setelah itu kita keluar. Kita refreshing. " kata Karin lembut. Keyla mengangguk lemah sambil berjalan ke kamar mandi. Karin dan Erick keluar dari kamar Keyla dan duduk di ruang keluarga sambil menunggu Keyla datang. "Rik, jangan kasar-kasar gitu sama Keyla. Dia kan baru pertama kali putus cinta. Kamu juga tau sendiri kan, kalau Arya itu pacar pertamanya Keyla." ujar Karin sambil menatap Erick. "Ya mau gimana lagi. Aku tuh kesel banget sama dia. Udah jelas jelas dihianatin. Tapi masih aja bilang cinta." "Tapikan kamu bisa ngomongnya pelan- pelan. Kesian Keyla. Yang salah itukan Arya. Bukan Keyla." kata Karin ya. "Arya harus dikasih pelajaran! Biar dia tau rasa dan nyesal karna udah nyakitin hati Keyla. " kata Erick sambil mengeraskan rahangnya. "Kamu bener banget Rik. Akan kubuat kau menyesal, Mas Arya!" suara Keyla mengejutkan Erick dan juga Karin. Mereka menoleh dan mendapati Keyla yang sedang berdiri di belakang mereka. "Kamu bikin kaget aja Key, " Karin sambil memegang dadanya. "Lebay" Ucap Erick pelan, tapi masih bisa didengar jelas oleh Karin. Karin memutar mata malas mendengar ucapan Erick. "Kamu sejak kapan disitu Key?" tanya Karin. "Udah dari tadi." Jawab Keyla dengan tersenyum. Karin dan Erick sampai terbengong melihatnya. "Hallo.. Halloo.." Keyla sambil memetik jari di depan wajah Keyla dan Erick bergantian. "Kalian kenapa sih? " tanyanya lagi. Keyla beranjak duduk di tengah-tengah Karin dan juga Erick. Dengan cepat Karin meletakkan punggung tangannya di kening Keyla. "Kamu ngak papa Key?" tanyanya Karin sambil tangannya masih di kening Keyla. "Kamu apaan sih! " kata Keyla ketus sambil menangkis tangan Karin. "Ya, aku heran aja. Tadi nangis-nangis. Sekarang malah senyum-senyum. " jawab Karin lagi. Keyla tersenyum lagi. "Trus kamu maunya aku nangis lagi? Aku sih ogah. Udah cukup aku nangis. Sekarang aku mau cari kebahagiaan aku. Seperti yang kalian bilang tadi, ada banyak cowok yang jauh lebih baik dari dia!" Keyla berucap cuek. "Udah yuk! Kita jalan. " kata Keyla sambil menarik tangan Karin dan juga Erick yang masih diam mematung, sejak Keyla keluar tadi. * * * * Di Mobil "Kita mau kemana nih? Cafe atau taman? " tanya Erick yang sedang duduk di bangku kemudi. "Kita ke Mall! " jawab Keyla dengan cepat. "Serius? " tanya Karin. "Ya iyalah. Emangnya kalian liat aku lagi bercanda? " Jawab Keyla lagi. Erick dan Karin berpandangan. Jelas saja mereka heran. Keyla bukanlah orang yang suka pergi ke Mall. Biasanya mereka bertiga akan nongkrong di cafe atau taman. Mereka akan menghabiskan waktu dengan ngobrol dan bercanda. Kalaupun mereka ke Mall, pasti Karin yang akan mengajak duluan. Tidak lupa dengan drama penolakan dari Keyla. Tapi saat ini, Keylalah yang mengajak. Dan itu menjadi sesuatu yang sangat langka juga aneh bagi mereka. Walaupun merasa aneh, Karin dan Erick tetap saja mengikuti kemauannya Keyla. Sesampainya di Mall, Keyla mengajak mereka untuk ke bagian pakaian. Keyla berjalan didepan sambil menarik tangan mereka. Setelah itu, Keyla memilih banyak dress tanpa mencobanya terlebih dulu. Karin dan Erick yang ada di sana sampai terbengong bengong melihat kelakuannya itu. Setelah selesai memilih pakaian, Keyla mengajak mereka ke bagian sepatu. Saat sampai, Keyla berdiri sambil melihat deretan sepatu yang ada. Sambil melihat, jari telunjuknya diletakkannya di dagu seperti seorang yang sedang berfikir keras. Lama dia berdiri tanpa memilih sepatu. Tidak lama setelah itu, dia melihat ke arah Karin dengan pandangan yang sulit diartikan sambil tersenyum lebar. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN