“Mas..,” panggil Pramesti lirih. Mereka berdua sedang berada di dalam kamar. Pramesti baru saja selesai menyiapkan beberapa perlengkapan yang akan di bawa suaminya.
“Hemm..”
Wanita itu berdiri di belakang suaminya, menatap punggung Anggana yang sedang memastikan barang yang akan dia bawa ke masa lalu. Pramesti terlihat menarik nafas kuat lalu menghembuskan perlahan. Pikirannya berkecamuk saat mendapatkan informasi keberangkatan suaminya malam ini juga. Ada perasaan khawatir dan tidak rela dengan kepergian Gana. Bagaimana pun keputusan laki-laki itu untuk masuk ke dalam mesin waktu sama saja dengan misi bunuh diri. Jika gagal, mungkin saja laki-laki itu tidak akan kembali.
Anggana berbalik arah saat istrinya tak lagi bersuara. Anggana melihat Pramesti yang berdiri dengan kaku sambil menundukkan wajahnya dengan kedua tangan saling bertaut karena cemas. Saat tatapan mata mereka bertemu, Anggana menemukan raut wajah sedih istrinya.
“Kenapa?” tanya Anggana mendudukkan tubuhnya di ranjang. “Sini,” titah Anggana.
Pramesti menurut, duduk di samping suaminya tetapi tertahan, Anggana menginginkan Pramesti duduk di pangkuannya. Pramseti menurut, dia mendudukan tubuhnya di pangkuan suaminya. Wajah mereka kini semakin dekat, Anggana menelisik wajah Pramesti yang biasanya ceria, kali ini sendu. Anggana mengambil rambut Pramesti yang terurai lalu menyelipkan di belakang telinga.
“Aku pasti kembali.”
Pramesti masih menunduk, tetapi sekali lagi Anggana mengangkat wajah istrinya untuk bertatapan. “Aku janji aku pasti kembali.”
Pramesti masih membisu.
“Selama aku pergi, aku hanya ingin kamu tetap setia menungguku, menjaga kandunganmu,” ucap Anggana yang mendapatkan anggukan kepala dari istrinya.
“Hey, jangan sedih.”
“Permintaan konyol,” jawab Pramesti sebal.
Anggana tersenyum, selama kepergiannya nanti pasti dia sangat merindukan Pramesti dan wajahnya yang sebal seperti sekarang ini. Laki-laki itu mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir istrinya pelan.
“Aku mencintaimu, Paduka,” ucap Pramesti.
Sebelum kepergian suaminya, inilah yang ingin Pramesti ucapkan, kalimat inilah yang ingin dia sampaikan kepada suaminya. Pramesti sadar hubungan mereka jauh dari kata cinta. Mereka menikah karena sebuah keharusan dan hubungan mereka juga baru berjalan tidak lebih dari satu bulan. Bagaimana dengan penolakan Anggana di awal saat dia tahu bahwa pilihan Denayu adalah Pramesti? Semua itu menjadi kemelut di hati Pramesti, tetapi tidak sedikit pun mengurangi niatnya untuk menyampaikan perasaannya.
Anggana membeku, lidahnya tidak sedikit pun mampu menjawab pernyataan istrinya yang begitu mengejutkan. Cinta? Bahkan Anggana sama sekali tidak pernah terfikirkan dengan kalimat itu. Dia menyayangi Pramesti, tentu saja. Tetapi untuk cinta? Anggana tidak tahu.
“Aku terima ucapan cintamu,” jawab Anggana akhirnya. Jawaban yang mampu menciptakan rasa ngilu di hati Pramesti. Apakah Anggana menolak cintanya?
“Tidak usah terlalu di fikirkan,” ucap Anggana sambil memindahkan tubuh istrinya ke sisi ranjang. “Aku harus pergi, ingatlah dengan titahku Pramesti.”
“Baik, Paduka.”
“Kamu tidak perlu mengantarkanku, tempat itu terlarang dan hanya bisa di masuki kami bertiga.”
Sekali lagi Pramesti mengangguk. Sebelum benar-benar pergi, Anggana menatap wajah Pramesti lama. Ingin sekali Anggana menjawab pernyataan cinta dari istrinya tetapi lidahnya terlalu kelu. Dia tidak akan mengucapkan sesuatu yang tidak diyakini, untuk saat ini biarkanlah hubungan mereka seperti ini saja. Anggana mencium kening istrinya, lalu berjalan pergi keluar rumah.
Di luar rumah, Bima dan Prof. Leiden sudah menunggu. Di belakang golf car sudah ada daya yang beruntungnya di dapatkan Prof. Leiden dengan cepat. Anggana meletakkan barangnya berada di belakang mobil lalu duduk di samping Prof. Leiden.
“Galau, Gan? Ninggalin istri?” goda Bima yang berada di balik kemudi.
Anggana menendang tempat duduk yang di duduki Bima dari belakang. “Sudah jalan!” perintahnya.
Bima dan Prof. Leiden hanya tertawa lalu Bima melaksanakan permintaan Anggana.
Malam ini, ditemani hujan rintik-rintik dan malam yang mencekam, Anggana melaksanakan misi bunuh diri untuk berjalan ke sebuah masa yang sangat jauh dari hari ini. Ada terselip perasaan takut di dalam hatinya, terlebih karena keberadaan Pramesti dan calon anak yang membuatnya kacau.
Tepat pukul dua belas malam, mesin waktu mulai bisa nyala dengan daya yang besar. Suara gemuruh dan kilatan cahaya dari dalam mesin itu menciutkan nyali mereka bertiga. Mesin itu kokoh dan besar, bisa menelan Anggana bulat-bulat. Kilatan cahaya itu bisa membuat tubuh Anggana gosong seketika di dalam sana.
“Kamu yakin, Gan?” tanya Bima yang mulai ragu.
“Bukannya kamu yang mendorongku untuk melakukan ini malam ini juga, Bim?”
“Semakin mendekati, semakin aku was was, bagaimana kalau kamu ndak bisa balik ke masa sekarang?”
“Aku titipkan Pramesti kepadamu. Kalau aku berhasil membunuh Maharaja Kanugara, walaupun aku tidak berhasil kembali setidaknya hidup anakku tidak terbatas waktu,” jawab Anggana dengan pasti. “Bilang sama anakku kalau aku mencintainya bahkan sebelum dia di lahirkan, aku mempertaruhkan nyawaku demi anakku dan keturunanku selanjutnya.”
“Gan..”
“Hem?”
“Kata-katamu membuatku ngeri.”
“Cemen kamu!” ujar Anggana meremehkan.
Anggana memeluk Bima lalu berpamitan dengan Prof. Leiden yang setia menunggu. Prof. Leiden menyerahkan sebuah benda panjang dengan ukiran yang memukau di sepanjang sisinya.
“Apa ini?” tanya Anggana.
“Pedang keturuan Wisnukancana,” jawab Prof. Leiden.
Anggana tersenyum sinis, “bahkan aku tidak pernah menggunakan pedang sama sekali seumur hidupku.”
“Untuk berjaga-jaga.”
Anggana mengangguk lalu menggantungkan benda itu di balik punggungnya. “Aku siap.”
Bima menahan nafasnya saat Anggana mengucapkan kalimat itu. Laki-laki itu membantu membukakan pintu mesin waktu lalu mempersilahkan Anggana untuk masuk.
Dengan pelan Anggana masuk ke dalam mesin besar dihadapannya. Matanya memindai ruangan kecil dan sempit tempatnya beralih waktu. “Apakah aku nggak bisa request di sediakan bantal? Siapa tahu aku bisa tidur selama perjalanan.”
Candaan Gana sontak membuat mereka bertiga tertawa, cukup mengurangi ketegangan yang mereka rasakan saat ini. “Sepertinya tidak bisa, ya sudah aku masuk saja,” ucap Anggana selanjutnya.
Laki-laki itu melengkah memasuki ruangan dengan menggunakan kaki kanan terlebih dahulu.
“Aku bangga sama kamu, sahabatku,” ucap Bima menguatkan Anggana.
“Aku lebih bangga sama kamu karena sudah mau di repotkan.” Bima mengangguk. “Masuklah, dan kembalilah.”
“Pasti!”
Anggana memasuki pintu mesin waktu, medudukan tubuhnya di dinginnya tembaga yang menjadi penghantar listrik dengan baik. Tangannya menggenggam kuat kitab Jiva berwarna coklat yang akan dia jadikan peneman saat berada di masa lalu. Saat pintu di tutup, Anggana memejamkan matanya. Ribuan doa laki-laki itu ucapkan di dalam hati.
Gelap dan sesak.
Suara bunyi mesin mendesing mulai memenuhi telinga Anggana. Semakin berjalan, suara itu semakin menggelegar hebat. Suara bising mengakibatkan telinga Anggana sakit sehingga dia harus menutupi telinganya dengan kedua tangannya kuat.
“Aaaarrghh..”
Anggana kesakitan, mulutnya sibuk merintih menyakitkan. Telinganya berdenging lalu sakit yang sebelumnya berada di telinganya kini menjalar di kepala. Rasa sakit luar biasa hebat dan berputar. Perut Anggana ikut merasa mual, Anggana berusaha sekuat tenaga menahan muntahannya.
“Aaarggh, Tuhan ini sakit sekali,” keluh Anggana.
Kesakitan yang terjadi cukup lama hingga membuat pandangannya tiba-tiba menggelap dan Anggana kehilangan kesadarannya.