Adrian mengusap wajahnya entah sudah yang ke berapa kalinya. Sejak berada didalam pesawat tadi, ia lebih banyak melamun bahkan menangis tanpa sadar. Perasaannya benar-benar kacau. Yang ia inginkan hanyalah cepat-cepat bertemu dengan istrinya dan membawanya pulang. Dan sekarang...waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Meski 16 jam terlewati hanya berada didalam pesawat, tapi tubuhnya sama sekali tidak merasa lelah. Perasaannya-lah yang justru teramat lelah karena terus berkecamuk hebat. Ia sudah mengantongi alamat rumah apartemen Rea dan kediaman keluarga Vino. Ia langsung memutuskan untuk ke apartemen Rea lebih dulu. Tapi saat ia baru keluar dari bandara, dari jauh ia melihat seorang perempuan yang memiliki postur tubuh seperti Rea yang terlihat sedang sibuk mencari sesuatu atau se

