Ya Sudah, Cerai Saja

2224 Kata

Pagi yang sangat tidak segar. Lesu dan lemah, seperti orang terkena tipes. Padahal harus melakukan perjalanan jauh ke perbatasan Belgoat. Semua itu gara-gara si suami tidak berperasaan yang terus mengungkit indentitas diriku sebagai seorang penyihir. Sepanjang malam dihabiskan dengan cek-cok tak berkesudahan. Saat aku meminta untuk menyudahi perdebatan, dia malah mengira aku akan menyihirnya jika tidak berhenti. Bahkan dia menuduhku menggunakan sihir untuk memikat hatinya. Katanya aku mengerikan. Licik. Dan penggoda. Padahal dialah yang selalu menggodaku, malah bersikap seolah dirinya mangsa. Menyebalkan. "Kenapa melihatku begitu? Ingin menggunakan sihir lagi?" Saat bersiap-siap untuk pergi pun dia masih menyindirku menggunakan mulut tidak budimannya. Belum lagi ekspresi sudut bibi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN