Kok tega? Pertanyaan itu selalu terlintas di benakku setiap mendengar kasus kejahatan yang terlalu kejam untuk diterima akal sehat. Apa lagi jika penyebabnya tak sebesar akibat yang ditimbulkan. Seorang suami sanggup membunuh istri sendiri hanya karena tidak merasa dicintai. Aku tidak bisa menerimanya, sekalipun bukan suamiku sendiri yang menjadi pelaku pembunuhan tersebut. Aku memang tidak bisa mencintai Dion, tetapi apakah aku pantas mati untuk itu? Kurasa tidak ada manusia yang harus bertanggungjawab atas perasaan orang lain. Sejak Gwen menunjukkan kebenarannya, seluruh isi kepalaku menjadi porak poranda. Aku tidak mampu berpikir jernih. Rasa bersalah, marah, benci, semuanya bercampur aduk menjadi satu. Aku baru tersadar saat jiwa Gwen sudah menguap begitu banyak. Ada hal penting

