Udara sangat dingin. Ditambah lagi hujan turun dengan deras pagi ini. Gemuruh hujan terdengar jelas saat sedikit kubuka jendela kamar. Angin segar seketika memasuki ruangan, dingin menyapa wajahku yang mendekat ke jendela dengan tangan terulur ke keluar. Ketika hujan turun, aku merasa senang sama seperti dulu sewaktu dalam tahanan. Kami bergembira menyambut tetes-tetes air dari langit sebagai penghilang dahaga. Aku ingin menyentuh air hujan meski udara sangat dingin. Sayangnya air jatuh begitu jauh dari jendela, maka aku hanya termenung di bingkai jendela dengan tangan menopang dagu. Saat-saat seperti ini, aku kembali memikirkan Tante Ratih, di mana dia tinggal? Lalu tertuju pada Witra, masih hidupkah ia? Dan kemudian ... Zia dan Andra. Aku sangat ingin menghadiri pesta pernikahan mereka,

