“Teleponan sama siapa?” tanya Kim, penuh selidik. Aku menarik napas lega. Sukurlah Kim tidak tahu siapa tadi yang menghubungiku. Tetapi aku melihat sorot mata Kim masih berkilat tajam. “Orang rumah, katanya aku gak boleh pergi lama-lama hari ini.” Aku beralasan. Semoga Kim tidak curiga. “O, ya? Disuruh pulang jam berapa?” Kim bersedekap. Gayanya seperti seorang ayah yang tengah menginterogasi sang putri. Aku mengangkat kedua bahu. “Gak tau,” ucapku kemudian. aku memang tak tahu mau pulang jam berapa. Jika aku buru-buru, aku takut justru Kim semakin curiga. “Yaudah, kalau gitu, aku urus pembayaran dulu, ya. Kamu tunggu di sini. Ingat, jangan ke mana-mana,” pesan Kim, sebelum dia kembali meninggalkanku sendirian di ruangan yang dikelilingi dinding kaca besar. “Lama gak?” Aku memastikan

