“Bang Junet!” Aku segera menghampiri laki-laki itu, dia terlihat berbeda sekarang. Penampilan Bnag Junjet sangat berantakan, kalau bukan karena bekas luka di wajahnya, mungkin aku tak akan mengenali anak Bu Darmi itu. Melihatku, Bang Junet seperti ketakutan. namun aku segera menenangkannya. “Abang masih ingat aku nggak?” tanyaku memastikan, “Abang beneran Bang Junet, kan?” Kim di sampingku, kedua matanya terus mengawasi Bang Junet, mungkin dia takut Bang Junet akan bersikap kasar padaku. “Hati-hati, Rania. Orang gila ini bisa aja nyakitin kamu.” Kim mengingatkanku, namun ucapan Kim seketika disambar oleh Bang Junet. “Aku gak gila. Kalian mau apa?” Tajam, Bang Junet menatap ke arah kami, bergantian. “Aku Rania, Bang. Gak mungkin Abang lupa.” “Aku lupa. Aku gak tau. Mending kalian perg

