Mencari teman itu mudah, apalagi mencari musuh. Meyakinkan seseorang itu gampang, yang sulit adalah menjaga kepercayaannya. Saat bertemu Sopir Bis dan putranya, aku percaya mereka orang baik yang tak mungkin mengkhianatiku. Tak terbersit pikiran buruk tentang mereka akan memanfaatkan keadaan. Nyatanya, semua diluar pikiran. Ayahnya Andra—entah siapa lagi yang ikut andil—tega membuat skenario atau drama kecil demi agar anak buah David berhasil menangkapku. Aku baik-baik saja hingga saat ini, begitu juga mereka, yang rusak adalah kepercayaan. Aku kembali bertemu dengan seorang pengusaha bakso, bersama putranya, kali ini aku lah yang merusak kepercayaan mereka. Padahal aku tahu, nilai kejujuran itu berharga dan nilai kepercayaan itu tinggi. Tetapi aku seperti gadis bodoh yang tak tahu diri.

