Dipantara siapa? Aku mengerjap lagi. Separuh kesadaran yang tadinya masih bersembunyi kini berhasil berkumpul jadi satu. Meskipun demikian, rasa pening tak dapat terhindarkan. Bibirku bergerak lagi, agak susah, lalu dua orang berseragam putih-putih masuk ke dalam setelah kudengar orang asing di sampingku tadi menekan tombol panggilan menghubungi dokter. Lantas mereka berbicara menggunakan bahasa yang tak kumengerti. Kalau dari kedekatan bahasanya dengan bahasa Jawa, aku rasa... Bali? “Tidak apa. Biarkan dia istirahat dan jangan diajak bicara dulu. Dia butuh banyak waktu memulihkan kondisinya. Kamu pergi saja, Sayang,” kali ini dokter wanita yang terlihat sedikit mengabur di mataku berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Ia memandang aku dan mengulum senyum manis madu. “Tapi, Bu...” “Dip
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


