Padang Bulan

2618 Kata
Mataku tak beralih dari Bhisma yang tengah memberikan sambutan sekaligus membuka acara Bulan Bahasa ini dengan mata takjub. Kejadian di restoran waktu itu, entah mengapa tak mampu membuat separuh akal sehatku kembali lagi. Perempuan yang diajaknya kemarin memang salah satu teman perempuannya, tidak lebih—begitulah ia menjelaskan padaku hari ini sebelum acara dimulai. Ia senang memuji kawan-kawannya yang berbakat. Malam ini akulah yang menjadi perhatiannya. Di depan tamu undangan, aku dipujinya sampai membikin pipiku tersipu. “Nirbita Arunika, tanpanya, acara ini tidak akan sehebat ini. Tolong berikan tepuk tangan atas ide-ide briliannya.” Suara tepuk tangan milikku terdengar serempak memenuhi aula. Usai memberikan sambutan, Bhisma turun panggung dan menyalami panitia. Rangkaian acara mulai dijalankan dengan pementasan sebuah musikalisasi puisi dari anak-anak junior. Menghampiriku, Bhisma tak lupa menyalami aku. Tiap berhadapan dengan orang yang kusuka, sebisanya aku menghindari kontak mata. Sebab, aku bisa salah tingkah dan ia dapat menangkap kegelisahanku. “Tamu kita lebih banyak dari tahun kemarin. Kamu sukses, Bi.” “Kok aku? Ini kan kerja keras yang lain juga.” Ditepuknya pundakku perlahan, mengirim sinyal macam seleret petir samar di sana. Hampir-hampir aku tak berkedip menatapnya. “Gabung sama yang lain yuk.” Telunjuknya teracung pada gerombolan panitia di pojok aula. Mulutku terbuka hendak memberikan balasan ‘ya’, tetapi sosok Abimanyu di balik kerumunan tamu undangan mengundang perhatianku. Tatapannya seakan merajamku dari kejauhan. Apa yang dilakukannya di sini? Abimanyu entah mengapa seperti bayangan di belakangku, yang mengikuti dan memimikri segala hal yang aku suka. “Ngg... nanti aku gabung deh. Aku keluar dulu ya,” pamitku pada Bhisma yang dibalas dengan kedikan bahu. Keluar aula, aku ikuti Abimanyu turun tangga, lantas berhenti di birai balkon penghubung tangga pertama dengan selanjutnya. Tangannya disandarkan pada birai, memandang lurus ke depan pada pemandangan malam kota padat ini tanpa menoleh ke arahku. Bersebelahan dengannya, aku perhatikan ia dari sebelah. “Kemarin aku mimpiin kamu. Kita berdansa di atas bukit,” padahal bukan kalimat itu yang ada dalam pikiranku. Ia tertawa pendek. “Pantas aja aku nggak bisa tidur. Rupanya aku terjaga di mimpi orang lain.” Suara penyanyi perempuan dari dalam aula samar-samar mampir di tempat kami, menepiskan kegemingan sementara kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Kami berteman sangat lama, sampai dapat kurasakan kehadirannya di setiap helaan nafasku. Ia bukan makhluk virtual sepertiku. Maksudku, yang tak bisa berjauhan dari teknologi—internet. Cara kami berkomunikasi, seperti melalui pikiran, saling memahami. Di mana aku membutuhkannya, ia langsung datang, sedangkan ia sama sekali tak pernah berbagi rahasianya padaku. Sang penyimpan rahasia ini dipenuhi dengan rahasia pula. “Map berisi puisi, lirik lagu, sketsa, dan outline ceritaku ilang,” aku mengadu padanya. “Aku cari lagi di tempat terakhir menaruhnya udah nggak ada.” “Ingat-ingat lagi, kamu sama siapa waktu itu?” Pertanyaannya ibarat alarm yang dibunyikan sangat keras di kupingku. Bayangan Nala sontak mencambuk ingatanku. Mulutku terbuka, mendesah kesal mulai menyimpan segala tuduhan jahat padanya. Pasti ia yang mengambil mapku! Ada dendam apa sih ia denganku? “Nala.” Aku mengepalkan tangan menahan dongkol. “Nala?” Kupandang Abimanyu tanpa mengubah raut wajahku yang kesal. “Cowok yang nolong aku dari kerusuhan demo itu, aku ketemu lagi sama dia di tempat fotocopy. Ternyata kita satu kampus.” Aku yakin Tuhan sedang bercanda dengan pertemuan kami. Bagaimana tidak? Hampir tiga tahun aku tidak pernah melihat bocah itu berkeliaran di kampus, lantas setelah insiden demonstrasi, sekonyong-konyong ia muncul di depan wajahku? Padahal bisa dikatakan aku aktif di kampus. Mahasiswi yang jauh dari label kupu-kupu (kuliah pulang). Oh, mungkin ia yang kupu-kupu. “Aku yakin dia yang ngambil mapku,” nadaku naik lagi, menghentak-hentakkan kepalan tanganku serampangan hingga Abimanyu tertawa kecil melihat tingkahku. Ia menahan tanganku, memintaku tetap tenang. “Kalau dia orang baik pasti dikembalikan kok.” “Gimana kalau dia bukan orang baik??” Aku sudah membayangkan yang bukan-bukan. Coba saja kau bayangkan jika tiba-tiba saja ada penyanyi baru yang menyanyikan laguku di televisi, kemudian aku tak terima karena merasa hak ciptaku telah dilanggar, dan terjadilah keributan sampai menyeret namaku di setiap acara gosip yang hobi ditonton teman-teman asrama. “Nirbita,” nadanya melunak. Aku dan ia ibarat air dengan api. Kusadari, aku membutuhkan air ini untuk memadamkan api dalam diriku. Abimanyu satu-satunya yang dapat melakukan itu. Dielusnya rambutku lembut. “Aku yakin dia baik.” “Kok kamu malah belain orang asing daripada aku?” “Karena aku udah kenal kamu sangat baik, makanya aku belain dia. Kamu suka sembarangan menilai orang. Orang baik kamu nilai jelek, orang jelek kamu nilai baik. Lain kali kalau kenal orang, jangan langsung dinilai.” Ditepuknya pipiku sampai membuat aku mengedip cepat. Kami tak lagi bicara dan membiarkan kesenyapan menari riang.   *   Selain kamera, mapku hilang. Tidak adakah yang lebih baik dari semua itu, Gusti? Aku mendengus kesal acap kali teringat benda-benda yang nasibnya naas itu. Meratapi kehilangan pun tak akan mengembalikan mereka padaku. Kini, hanya dapat kupandangi layar laptopku tanpa kata, seperti orang t***l yang bingung bagaimana mengoperasikan komputer. Sampai jarum pendek menunjuk angka satu malam—usai Bulan Bahasa tadi—aku tak dapat memejamkan mata. Telunjukku hanya bergoyang ke kanan dan kiri, tiada kutahu harus menekan pilihan mana. Ketak-ketik jemariku hanya memainkan kursor tak berguna. Klik sana, klik sini, menekan backspace, dan mendesah pendek. Memeriksa akun ask.fm, aku menemukan bertumpuk-tumpuk pertanyaan dari berbagai username dan anonim. Dahiku mengernyit mendapatkan satu pertanyaan dari anonim di antara pertanyaan wajar lainnya.   Untuk apa kamu hidup, Padang Bulan? – anonim   Aku sangat jengah. Peduli setan soal kesopanan, aku membalas pertanyaan tersebut dengan menahan dongkol.   Untuk apa kamu hidup, Padang Bulan? – anonim Yang pasti, tidak untuk meladeni orang aneh sepertimu.   Orang ini pasti orang yang sama. Sambil membalas pertanyaan dari penggemar tulisanku, aku mulai sedikit was-was terhadap si anonim. Sempat terbersit di pikiranku bahwa anonim ini adalah sosok misterius bertopeng porselen yang kerap menguntitku. Benarkah?   Aku kurang puas dengan jawabanmu. Padahal, aku sangat menyukai tulisanmu, termasuk yang kamu terbitkan di media cetak dengan kode ‘pbl’. Pikirkan jawaban yang tepat, Sayang. Jangan sia-siakan kesempatanmu. Untuk apa kamu hidup? Pikirkan, lakukan, selagi sempat. – anonim   Tanganku mendadak kaku. Orang ini mengancamku atau bagaimana? Belum pernah seumur hidup aku diancam manusia aneh tak berotak macam ini. Kututup laptopku kasar, menyingkirkan anak rambut di sekitar dahiku yang berkeringat. Sial, si anonim malah membikin aku gelisah. Ia tahu aku kontributor di beberapa media cetak dengan kode ‘pbl’, singkatan Padang Bulan, nama penaku. Padahal itu kode. Kode! Tak sembarang orang tahu kode wartawan! Terlebih aku hanyalah kontributor, alias freelance. Tak berselang lama, aku mendapatkan pemberitahuan email masuk. Ekor mataku mengikuti arah jempolku bergerak untuk mengecek email itu. Biasanya aku tak pernah memedulikan kotak masuk. Kali ini, perhatianku tersedot habis sejak anonim k*****t itu menggangguku.   from: alismatales@yahoo.com to: padang.bulan@icloud.com subyek: (no subject)   aku masih menantikan jawabanmu.     Sepertinya, aku harus pindah ke Mars.   *****   Selain pandai mengambil angle dan menangkap keindahan, kemuraman, dan cacatnya dunia melalui lensa kamera, gadis ini memiliki bakat luar biasa. Ia mencoret-coret partiturnya dengan nada-nada indah. Aku mempraktikkan nada-nada buatannya itu dengan piano di ruang tengah. Kendati malam makin larut, jemariku terus menari lihai menyetubuhi tuts-tuts dengan mata mengikuti garis paranada. Aku seperti mendapatkan sesuatu dari partitur di depanku saat ini. Kalau kau seorang musisi, kau akan memahami maksudku. Ruh mungkin? Sesuatu yang sangat abstrak dan menyentuh tepat di jantungku. Dari nada ini aku dapat menaksir ia membuatnya dari kerinduan terhadap seseorang. Mungkin ayahnya. “Kamu ini ngagetin aja malam-malam main piano kayak Suzanna. Maman sampai merinding dengernya,” suara sopran di belakangku sontak membuatku berhenti. Menoleh ke belakang, sudah kudapati ibuku dengan gaun tidur panjangnya, bersedekap dengan wajah horor. “Bentar lagi berhenti kok, Ma.” “Nggak ada bentar lagi. Tidur.” Mengabaikannya, aku justru mengganti kertas partitur selanjutnya. Sebelum jemariku menyentuh tuts lagi, dari belakang daun telingaku ditarik kasar. “Aduh!” “Salah apa sih ya Gusti punya anak bandel kayak gini.” “Ini sakit, Ma!” Maman melepaskan tangannya dari daun telingaku yang aku yakin memerah. Tengadah, aku bersipandang dengan Maman, melihat matanya dikobari api yang bisa saja meledak saat ini dan membakarku habis. “Kalau Papa bangun, habis kamu.” Daripada singa di kamar lantai dua sana mengaum dan menerkamku sampai tewas, lebih baik aku mengalah saja. Kusambar kertas-kertas partitur tersebut dan melenggang gusar seraya mendengus pendek. Maman tak melepaskan tatapan ngerinya sampai aku lenyap ditelan pintu kamar. Untung aku tak sekurang ajar Malin Kundang. Alih-alih tidur, aku melirik kertas-kertas di atas meja belajarku yang berantakan. Laptop terkuak; lampunya berkedip-kedip biru, seakan berbisik padaku agar segera menghidupkannya. Dalam sekejap aku sudah duduk di sana dan menghidupkan benda yang ingin aku jamah ini. Selain perempuan, benda pun mendambakan sentuhanku. Andai saja mereka bisa bicara. Layar menampakkan kolom berita terakhir yang k****a. Sepulang dari apartemen Mara, aku langsung membuka seluruh portal berita dengan kode ‘pbl’ dan mencari tahu siapa pemilik asli nama pena itu. Bukan hanya karena aku jatuh cinta pada puisinya, tapi karena rasa kemanusiaan. Ada yang mengintainya karena ia menceburkan diri ke dalam lubang buaya. Jangan ada kasus Lentera Dewi lagi. Memang sudah menjadi resiko seorang wartawan bila tulisannya dianggap mengancam pihak-pihak tertentu. Bukan hanya di era edan macam sekarang, nasib tragis dan sial wartawan telah ditentukan sejak dulu. Aku teringat kemalangan Tirto Adhisuryo, pemilik kantor berita Medan Prijaji sekaligus wartawan yang menggegerkan Hindia-Belanda lewat tulisannya. Akibat tulisannya, ia diuber-uber Belanda dan dibikin sengsara. Lalu ada Pramoedya Ananta Toer yang sampai masuk bui akibat dituduh sebagai komunis. Dan Maman pernah diinterogasi selama seminggu akibat kesalahan berita yang ditulisnya di era Orde Baru. Kalau ada wartawan waras yang ingin menguliti sebuah kasus tanpa peduli telunjuk atasannya, pastilah ia dalam bahaya. Biasanya, wartawan zaman sekarang lebih patuh telunjuk atasan demi kepentingan golongan. Sekali mengungkap kebejatan dunia, pasti banyak mata pisau membidiknya. Kolom di hadapanku itu, salah satu tulisan ‘pbl’ alias Padang Bulan yang menampar si ‘pelaku’ dengan membeberkan kecurigaannya terhadap kejanggalan kasus yang mulai meredup ini. Kalau kau punya uang banyak dan terlibat kasus pembunuhan, kau bisa membungkam mulut kantor berita dengan uang. Percayalah, akan ada berita tak masuk akal lain yang muncul sebagai pengalihan isu dan lambat laun berita pembunuhan itu tak terendus lagi. Ponselku bergetar di sebelah tanganku. Tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop, aku menjawab panggilan tengah malam ini. “Aku nyoba nyari tahu tapi belum ketemu,” suara Mara terdengar berat di seberang sana. “Udah kali, biarin aja, nggak usah ikut campur. Salahnya sendiri ngapain tuh bocah cari mati.” “Terus cari sampai ketemu.” “Darling, ini kan bukan ranah kamu. Kalau dia merasa terancam toh bisa lapor polisi entar.” Ponsel kuletakkan di atas meja setelah menekan pilihan loudspeaker. Aku terdiam mendengarnya mengoceh seraya memasukkan kertas partitur Nirbita ke dalam mapnya. Penasaran isi di dalam map itu, aku melongok memerhatikan ke dalam, dibuat penasaran dengan beberapa kertas. Isi di dalam map berhamburan di atas lantai begitu kubalik map tersebut dan menggoyang-goyangnya. Sebuah sketsa lebih banyak menyita perhatianku daripada kertas lain yang diisi barisan kata yang—mungkin—membosankan. Aku memungut kertas sketsa tersebut, berdecak dalam hati. Sketsa yang dibuatnya sungguh kurang ajar bagusnya. Sketsa seorang laki-laki, mungkin pacarnya, tersenyum lengkap dengan lesung pipi di dekat bibirnya. Ia menuliskan ‘Abimanyu’ di bagian bawah dan memberikan watermark berukuran kecil di samping gambar baju si Abimanyu ini. Saat aku mendekatkan kertas sketsa tersebut sampai tak menyisakan jarak dari mukaku, aku mendengar Mara memanggil namaku. “Anarki, are you there, honey?” “Bangsat.” “What?? Siapa yang b*****t?!” Kertas sketsa di tanganku jatuh di bawah kakiku. Aku menahan nafas entah berapa lama dengan ekspresi yang tak kutahu separah apa. Mara masih memanggil-manggil namaku, bertanya siapa kiranya yang aku sebut b*****t tadi, agak sentimen. “Mara,” dengan lunglai aku menyambar ponselku lagi. “Aku menemukan Padang Bulan.”   *   Kalau aku tahu Padang Bulan adalah gadis tulalit dengan badan seukuran anak TK yang sedang berdiri celingukan di seberang sana, aku tak akan pernah mengaku bahwa aku jatuh cinta padanya, maksudku, tulisannya. Selain puisi, artikel dan cara berpikir kritisnya menarikku bertekuk lutut di bawah kakinya bagai sahaya pada ratu. Sekarang aku tak tahu macam mana hatiku dipertemukan si Padang Bulan, yang kuimpi-impikan dan kuharapkan jadi kekasihku. Aku seperti ditelanjangi di muka umum. Nirbita menemukan aku, lalu berlarian kecil menyeberang jalan dan duduk di depanku dengan muka masam. Setelah berjibaku dengan pikiranku semalaman, di sinilah aku berakhir. Aku memburu nomor Nirbita Arunika dari kantor akademik dan mendapatkannya, lantas menghubunginya untuk menjelaskan bahwa kamera dan mapnya ada padaku. Sempat ia memakiku dan berkata aku sengaja menyembunyikan barang-barang berharganya. Hampir saja kuputus sambungan dan mengubur dalam-dalam keinginanku mengembalikan barang-barang miliknya sekaligus membantunya menghindari mara bahaya. Aku memenangkan pembelaan saat Sabrang, adikku yang memiliki nada yang meluluhkan, membantuku membujuk bocah ini dengan mengatakan aku telah membiayai perbaikan lensa kamera yang sangat mahal itu. Pada akhirnya ia mau menemuiku demi mendapatkan barang-barangnya. Aku menyodorkan map dan kamera miliknya yang telah kureparasi tanpa menyelipkan kalimat. Hanya kupandangi ia, masih tak menyangka gadis inilah pemilik nama pena Padang Bulan. Padang Bulan! Iya, yang aku imajinasikan memiliki tubuh seseksi Djenar Maesa Ayu, seeksotik Laksmi Pamuntjak, secerdas Ayu Utami, secantik Dewi Lestari, dan semisterius Intan Paramaditha. Hancur sudah ekspektasiku. “Kenapa kamu lihatin aku kayak gitu?” ia menyengal tak terima. Ditariknya gelas milikku, lantas tanpa permisi, ia menyedot jus jeruk yang aku pesan tadi sampai tandas. “Sori, panas banget. Aku haus.” Tangannya terangkat memanggil pelayan kedai untuk memesan segelas jus jeruk lagi. Kalau aku langsung menodongnya dengan kalimat ‘Kamu sedang dalam bahaya’, bisa-bisa aku ditampar dan dituduh gila. “Map sama kamera kamu. Lensanya udah aku ganti.” Ia mengamati lensa kameranya sembari berusaha menyembunyikan senyum senang dari bibirnya. Lalu bergantian memeriksa kelengkapan di dalam mapnya. Senyumnya makin terkembang lebar. “Makasih,” kali ini ia berkata sungguh-sungguh. Baguslah kalau ia mengerti bagaimana mengucapkan kata terima kasih. “Kamu anak UA juga?” aku mencari celah mencari topik pembicaraan sekadar basa-basi. Ia mengangguk. Jemarinya diketuk tak sabar menunggu pesanannya. Berulang kali kepalanya diputar ke kanan-kiri mencari pelayan kedai. “Baru tahu kamu juga di sana. Nggak pernah lihat. Jurusan apa?” tanyanya. “Politik. Nggak ada kerjaan di kampus. Lagian, tinggal tiga mata kuliah aja kok.” Begitu mudah ia dibaca, seperti ensiklopedia terbuka. Dari gesturnya, ia canggung berbicara denganku dan berusaha menghindari kontak mata. “Aku bisa tebak kamu di Humaniora. Sastra... Indonesia?” “Hm. Aku kira di sana ada Sastra Jawa atau Nusantara.” Bahunya terangkat. “Bundaku yang nyaranin ke jurusan itu. Ya... karena nggak ada, aku masuk Sasindo deh.” “Heran, biasanya orangtua nggak suka anaknya studi sastra, apalagi lokal.” Ia mencebikkan bibir, tampak tak ingin menceritakan ibunya. Aku tak memaksa. Kubiarkan ia bicara sekenanya, terserah, yang pasti ada topik pembicaraan di meja ini. Pelayan akhirnya datang membawakan pesanannya. Nirbita mengaduk-aduk minumannya tanpa melirik lagi padaku. “Padang Bulan.” Mendengar aku memanggil nama penanya, matanya mendelik. Berarti memang tidak ada yang tahu identitas Padang Bulan yang sebenarnya. Aku yakin mereka juga belum tahu siapa target yang mereka incar setelah Lentera Dewi. “Aku suka tulisan kamu.” Tiba-tiba badannya mengejang. Ia berdiri dengan jeri. “Jadi kamu anonim yang menerorku di ask.fm?” What the... Tak memberikan kesempatan padaku untuk membela diri, ia menyiramku dengan minuman yang dipesannya tadi dan ngeloyor membawa map dan kameranya, meninggalkan aku yang basah kuyup. Aku membuka mulut ingin mengumpatnya, seandainya tak kuingat itu seorang perempuan. Memisuhi seorang perempuan di depan umum bisa menurunkan harga diri. Terpaksa, aku menahan umpatanku. Pengunjung kedai di sekitarku saling melemparkan pandangan dan menahan tawa. Tidak ada yang mempermalukan aku di depan umum macam ini. Aku tak pernah ditertawakan orang. b*****t! Baiklah, biarlah ia mati di tangan mereka menyusul Lentera Dewi. Peduli setan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN