“Ayo, masuk Carissa,” Lisa, pemimpin tertinggi di firma arsitek tempat Carissa bekerja mempersilakan gadis itu masuk ke dalam ruangannya. “Ayo, duduk.” Carissa duduk di kursi berhadap-hadapan dengan pemimpinnya yang selalu tampak modis dan berwibawa meski di usia yang sudah di penghujung empat puluh itu. “Ada yang bisa saya bantu, Bu?” “Ris, kamu tau kan kita lagi bikin kantor baru di Makassar. Untuk mengcover area Gowa, Takalar, Janeponto dan ke atas-atasnya. Kantor yang ada sekarang tidak akan efektif jika harus meng-handle seluruh wilayah Makassar.” Carissa mengangguk, “Iya, Bu.” Tentu saja Carissa ingat. Itu adalah kantor yang dibiayai oleh bank tempat Gemma bekerja. Itu adalah proyek yang mereka perbincangkan tempo hari di ruang meeti

