Lima tahun yang lalu. Setelah menerima sebuah telepon siang itu, Maxi Maramis tidak dapat menyembunyikan keterkejutan di wajahnya. Kapak yang sedari tadi dipegang olehnya lepas dari genggaman. Gemma, cucu bungsu Maxi, yang sedari tadi menemaninya memotong kayu-kayu menatap ke arah kakeknya dengan tatapan heran. “Opa? Siapa yang telpon? Opa baik-baik saja?” Maxi beranjak dari pekarangan rumahnya, bergegas menuju mobil jeep tua yang terparkir di kolong rumah panggungnya tanpa mempedulikan pertanyaan-pertanyaan Gemma. Gemma yang melihat tingkah Maxi menjadi semakin khawatir dan menyusulnya. “Opa mau ke mana?” wajah Gemma menyiratkan kecemasan. “Ke Manado.” Maxi menjawab singkat. Usianya yang memasuki tujuh puluh lima tahun itu tidak mengurangi kegesitannya melompat ke da

