Mario melirik ke arah Gemma yang sedang duduk di sampingya sekilas. Setelah itu ia kembali membuang pandangannya jauh melampaui jendela mobil yang tengah mereka tumpangi. Mobil hitam itu membelah jalanan padat kota Makassar di siang hari terik seusai jam makan. Kedua sahabat tersebut duduk bersisian di kursi penumpang. Ini adalah mobil kantor cabang Makassar yang melayani Gemma sepanjang perjalanan dinasnya di Kota Daeng ini. Tapi, yang membuat Mario heran, sesuai dengan jadwal yang dibuat oleh asisten Gemma di kantor, perjalanan dinas mengunjungi nasabah yang memiliki bisnis di Makassar seharusnya sudah berakhir kemarin. Lalu mengapa hari Jumat ini bukan bandara yang mereka tuju, justru ke pusat kota? “Gem, sebenarnya kita mau ke mana? Ada prospekan lagi yang mau lu temui?” Mario menge

