Chapter 49

1159 Kata
Sama seperti sebelum-sebelumnya, Matteo tidak melakukan apapun lagi selain mengatakan, “Kamu akan baik-baik saja, Kalila. Aku akan melindungi kamu di sini, selama yang aku bisa. Atlas, kakak kamu itu tidak akan berani untuk menyentuh kamu barang seujung rambut pun.” Jujur saja, emosinya juga tersulut ketika Atlas mencoba mencari celah untuk menemui Kalila. Apalagi lelaki itu bisa saja menemui Kalila di jam-jam atau tempat manapun yang jauh dari jangkauan Matteo. “Jika aku sempat ada di sana, Kalila, mungkin saat ini dia sudah babak belur,” ujar Matteo dengan senyuman tipis di wajahnya. “Tidak usah khawatir, ya.” Dia mengusap pipi Kalila dan mencubitnya pelan, bermaksud untuk membuat Kalila terhibur. Kalila sudah lebih tenang dari sebelumnya dan dia memberikan senyuman tipis pada Matteo karena sudah mencoba untuk menghiburnya. “Terima kasih, Matty.” Kalila tidak tahu sejak kapan dia mengubah panggilannya pada Matteo. Dari ‘Pak Matteo’, lalu ‘Matteo’, dan sekarang ‘Matty’. Namun, apapun alasannya, Matteo senang ketika tahu Kalila sudah tidak menganggapnya orang asing. “Kal.” Tangan Matteo terulur untuk mengusap pipi Kalila. “Hm?” jawab Kalila pelan. Dia memberanikan diri untuk menatap Matteo tepat di matanya, dan memejamkan matanya ketika usapan Matteo pada pipinya benar-benar membuatnya tenang. “Aku tidak ingin melanjutkan perjanjian itu dengan kamu.” Satu kalimat itu berhasil membuat Kalila membuka matanya dan mengeryitkan dahinya. Heran kenapa Matteo tiba-tiba ingin melakukan itu. “Apa aku berbuat kesalahan?” tanyanya sedikit panik. Dia melepaskan tangan Matteo dari pipinya dan beralih untuk menggenggam tangannya. “Aku—aku tahu aku memang belum melakukan apapun untuk membuat Aya melepaskan kamu. Tapi—tapi, bisakah kamu … tidak membatalakannya? Bukan apa-apa, tapi … aku tidak tahu harus kabur ke mana lagi jika kamu mengusir aku.” Kalila panik. Matteo yang mengusir dirinya adalah mimpi buruk. “Aku … sudah berada di fase, di mana aku tidak bisa—” “Apa?” Kalila menggigit bibir dalamnya. Sial. Dia tidak mau mengakui secara langsung bahwa Matteo sudah membuatnya ketergantungan dan dia tidak bisa hidup atau pergi dari Matteo. Itu intinya. Tapi, Kalila terlalu takut untuk mengatakan semuanya. “Kal, apa?” desak Matteo. “Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika tidak ada kamu, Matteo.” Matteo hanya tersenyum lembut dan itu membuat Kalila kesal bukan main. Ketika dirinya panik setengah mati seperti ini, Matteo masih bisa sempat-sempatnya untuk tersenyum? Astaga, jika situasinya tidak membuat Kalila merasa terpojokkan mungkin dia akan memarahi Matteo sekarang. “Kamu takut?” Kalila berdecak pelan. Dia mendelik kepada Matteo. “Iya,” lirihnya. “Kalila, sekarang biarkan aku yang berbicara.” Tangan Matteo menggenggam lebih erat Kalila. “Siapa yang mengatakan kalau aku ingin kamu pergi?” Kalila kebingungan. Well, Matteo memang tidak mengatakannya secara langsung—mungkin karena pria itu takut jika dia mengatakan langsung maka itu hanya akan menyakiti Kalila. Tapi, bukankah sama saja? Jika perjanjian mereka usai, berarti memang Kalila sudah sepatutnya untuk pergi. Kalila sadar diri. “Tidak ada, tapi kamu secara tidak langsung mengatakannya,” jelas Kalila. Matteo hanya tertawa kecil. “Aku memang tidak bermaksud untuk mengusir kamu, Kalila. Tidak mungkin juga aku melakukannya. Aku hanya mengatakan kalau … aku tidak peduli dengan perjanjian konyol kita sebelumnya.” Matteo mendekatkan wajahnya pada Kalila. “Karena aku sudah … jatuh pada pesona kamu, Kalila. Benar-benar jatuh.” Kalila bukan gadis yang naif dan polos. Dia tau apa maksud dari Matteo. Buktinya, kini pipinya merona merah karena apa yang diucapkan oleh Matteo. “Kamu mengerti, Kalila?” Kalila tersenyum malu-malu. Dia mengangguk pelan sambil menundukkan kepalanya. “Iya.” “Bagus.” Ingin sekali Matteo mengecup bibir Kalila. Namun, dia tahu hal itu mungkin berlebihan, akhirnya dia mecium ringan pipi Kalila. Sambil berbisik, “aku akan selalu melindungi kamu, Kalila. You’re save now.” Entah bagaimana nasibnya Kalila dan jantungnya. *** Atlas pulang dengan tangan kosong. Dia tidak berhasil membawa Kalila dan itu membuatnya kesal bukan main. Dia menendang-nendang batu kecil yang ia lewati ketika berjalan menuju rumahnya. “Atlas?” Atlas mendongakkan kepalanya. Tidak sadar bahwa dia sudah melewati rumahnya. Dia menoleh ke arah pagarnya dan mengeryit tidak percaya ketika melihat seorang wanita yang sangat yang ia kenal. “Mama?” “Atlas,” panggil wanita itu dengan senyuman terpatri di wajahnya. Atlas melangkahkan kakinya mendekat ke arah ibu tirinya. “Apa yang Mama lakukan di sini?” tanya Atlas keheranan. Apalagi mengingat ketika ibu tirinya juga yang meninggalkan mereka. Rianna Mathias, tidak pernah menjadi sosok ibu yang baik bagi Atlas dan Kalila. Sehingga, ketika Atlas bertemu lagi dengan ibu tirinya itu, dia sama sekali tidak merasa senang. “Mama … pulang kemari.” Ibunya berkata lirih dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Mungkin wanita itu berpikir bahwa kepulangannya akan disambut dengan derai air mata bahagia. Padahal kenyataannya, tidak pernah Atlas rasakan kesenangan ketika melihat ibu tirinya. Karena tidak ingin menimbulkan keributan, akhirnya Atlas memilih untuk membukakan pintu rumahnya. Dia sama sekali tidak peduli apakah ibunya ingin ikut masuk dengannya atau hanya ingin berdiam diri di depan pintu. Namun ternyata, ibunya mengikutinya sambil membawa koper besarnya. “Di mana Kalila?” tanyanya sambil melihat-lihat rumah yang sudah ia tinggalkan selama empat tahun lamanya. “Pergi.” “Bekerja?” tanya Rianna sambil duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Atlas mendengus. Dia melangkahkan kakinya untuk mengambil minuman dingin di kulkas. “Pergi,” ujar Atlas lagi. Dia tidak mau repot-repot untuk menjelaskan pada ibu tirinya bahwa anak perempuannya itu pergi dengan pria asing yang baru saja ia kenal. “Atlas, kapan ayah kalian pulang?” Atlas tidak tahu apakah ibu tirinya itu sudah bercerai dengan ayahnya atau belum, tapi mendengar panggilan yang diucapkan ibu tirinya pada ayahnya, membuat ia berpikir bahwa hubungan mereka sama sekali tidak membaik. Lagipula, bagaimana mau membaik ketika ibu tirinya memilih untuk kabur dari pada menyelesaikan apapun masalahnya dengan ayahnya. “Tidak tahu. Dia sudah tidak pernah kembali.” Atlas masih ingat perkataan ayahnya yang mengatakan bahwa dia tidak boleh menemui Kalila lagi atau dia akan mendapatkan konsekuensinya. Atlas melirik ibu tirinya yang tidak memberikan respon apapun, namun dia bisa melihat tatapan terkejut dari ibu tirinya itu. “Apa?” tanyanya tidak percaya. Atlas hanya mengendikkan bahunya. “Kenapa Mama terlihat terkejut? Bukankah Mama juga melakukan hal yang sama pada kami? Seharusnya, Mama tidak perlu kaget ketika tahu bahwa Ayah juga melakukan hal yang sama pada kami.” “Atlas, jadi selama ini kalian tinggal berdua?” “Hm.” Ibunya menyugar rambut sebahunya dan mengembuskan napasnya lelah. Dia memalingkan wajahnya agar Atlas tidak melihat raut wajah sedihnya. “Kenapa Ayah kalian meninggalkan kalian berdua? Seharusnya dia bertanggung jawab atas kalian. Lalu, bagaimana kalian berdua—” “Kenapa Mama bertanya seolah Mama peduli?” Ucapan ibunya terhenti. “Mama yang pertama kali meninggalkan kita dan Mama sekarang berlagak seolah Ayah-lah yang paling salah?” Lelucon macam apa lagi ini? Atlas benar-benar tidak mengerti dengan yang dipikirkan ibu tirinya itu. “Maaf, Atlas.” ***      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN