Kalila sempat lupa bahwa mereka sekarang masih berada di kafe dan bisa saja pengunjung yang lain mendengar pekikan tertahannya. Kalila menarik napas dalam-dalam. Dia terdiam untuk sementara. Menyadari bahwa dia sudah berbicara terlalu keras. Namun, dia juga berhasil membuat ibunya terdiam. Entah karena sadar atas apa yang sudah diperlakukannya selama ini pada sang anak, atau karena sebatas terkejut dengan suara Kalila yang naik beberapa oktaf. “Mama tahu Mama salah sejak awal. Tapi, Mama tetap ibu kamu. Suka atau tidak suka, Mama yang sudah menjaga kamu dan merawat kamu selama ini. Kalila, kamu tidak bisa melupakan keluarga kamu sendiri.” Kalimat itu baru saja keluar dari seseorang yang dengan tega meninggalkan keluarganya tanpa pertimbangan terlebih dahulu. Kalila tersenyum sinis. Dia s

