“Apa masalahmu sebenarnya?”
Matteo berhasil membuat gadis di hadapannya ini kesal bukan main, dan dia sama sekali tidak takut. Alih-alih takut, Matteo merasa terhibur karena wajah kesal gadis itu sangat menggemaskan. “Tidak ada. Aku hanya penasaran, karena itu pula aku menatap kamu—makanya, jangan salah paham dulu.”
“Aku tidak—!” Gadis itu menahan umpatan yang sebentar lagi akan keluar dari bibir kecilnya. Gadis di hadapan Matteo itu sejenak mengalihkan pandangannya dan kembali menghembuskan napas kasar. “Dengar, Tuan, aku menjalani hari-hari yang buruk dalam hidupku, dan tolong, jangan merusak malam kerjaku karena aku tidak butuh seseorang untuk membuatnya lebih buruk lagi.” Jangan mengira gadis dengan rambut hitam legam sebahu itu mengatakannya dengan nada memohon, justru gadis itu menatapnya datar dan dingin.
Matteo menatapnya semakin intens. “It’s not just you.”
Gadis itu mengeryitkan dahinya. “Apa? Yang ditatap c***l olehmu? Well, aku merasa hanya aku di sini yang mendapatkan perilaku tidak senonoh itu.”
“Yang memiliki kehidupan buruk.” Matteo mengoreksi.
Gadis itu mendengus. “Jadi, apa? Kita mengadu nasib sekarang?”
“Jangan bodoh. Tidak ada gunanya.”
Gadis itu tersenyum miring. “Fine, now leave.”
“Kamu mengusir pengunjung klub ini?”
“Karena kamu mengganggu, ya. Aku mengusir kamu karena itu—dan tentu saja itu diperbolehkan.”
“Aku tidak mau.”
Gadis itu berdecak dan hampir melempar nampan yang sedari tadi dibawanya jika saja dia tidak ingat bahwa klub masih ramai dan dia tidak ingin membuat keributan yang akan mengancamnya menjadi jobless. “Apa mau kamu sebenarnya?!” desis gadis itu. Herannya, semakin dia kesal, semakin Matteo senang untuk bertindak menjengkelkan.
“Kamu tahu aku bisa memanggil atasan kamu dan melaporkan pelayanan kamu yang tidak menyenangkan ini, Gadis Kecil.”
Gadis itu berdesis dan melemparkan kata-kata umpatan yang tidak terlalu jelas. Tapi, Matteo tahu gadis ini sedang menahan amarahnya. “Sialan!” Umpatan yang keluar itu didengar oleh rekan gadis tersebut yang langsung menoleh terkejut.
“Jasmine,” tegur pria itu pada gadis yang ada di hadapan Matteo.
“Jasmine,” gumam Matteo. “Jadi, nama kamu Jasmine?”
Gadis itu tersenyum meledek. “Apa penting untukmu?” Dan langsung meninggalkan Matteo begitu saja.
Matteo berhasil membuat gadis kecil bernama Jasmine itu kesal.
***
“....beberapa kelas sedang berada di bawah perbaikan, Pak Matteo. Semuanya berkat bantuan Anda...”
Matteo melangkahkan kakinya dengan langkah lebar menuju lapangan upacara Sekolah Anak Mandiri yang terasa sangat jauh dari parkiran. Di sampingnya, Kepala Sekolah dari SMA ini terus mengikutinya dan memujinya soal seberapa besar dampak positif yang sudah diberikan Matteo pada sekolahan ini. Dengan kata lain, pria berbadan gemuk dan berkacamata ini seolah menuntutnya untuk mengucurkan dana lebih banyak lagi.
“....beruntung sekali kami mendapat kesempatan untuk bekerja sama dengan Pak Matteo dan..”
“Apa acaranya akan dimulai?” Matteo memelankan langkahnya dan membuat pria tua di sampingnya ini keheranan.
“Iya? Bagaimana, Pak?”
“Acaranya...apa sudah dimulai?”
Kepala Sekolah itu mengangguk. “Sudah. Setelah ini Bapak akan dipanggil untuk memberikan pidato singkat dan akan ada penyerahan piagam untuk siswa berprestasi yang mendapatkan beasiswa dari perusahaan Bapak.”
Matteo tidak terlalu mendengarkan ucapan pria itu karena dia lebih dulu memerhatikan gadis dengan rambut yang dikuncir asal-asalan yang baru saja masuk ke dalam barisan secara sembunyi-sembunyi. “Lalu, kenapa salah satu murid itu bisa masuk begitu saja?” tanya Matteo sambil menunjuk gadis yang tadi dia perhatikan.
Pandangan pria di samping Matteo mengikuti arah tunjuknya dan setelah mengetahui siapa gadis yang dimaksud—walaupun gadis itu membelakangi mereka. “Dia...ah sudahlah, Pak. Saya tidak bisa menghukumnya karena...begitulah.”
Matteo mengeryitkan dahinya mendengar nada bicara pria tua ini yang sangat aneh. Namun, dia sama sekali tidak ingin berpikir lebih jauh soal itu.
Matteo memberikan pidatonya di depan seluruh murid SMA dari Sekolah Anak Mandiri. Setelah itu—seperti yang dikatakan Kepala Sekolah tadi—Matteo memberikan piagam sebagai bentuk penyerahan bantuan beasiswa pada beberapa siswa berprestasi di sekolah itu.
“Kita panggilkan, Kalila Beatrice sebagai siswi berprestasi untuk tahun ajaran ini!” Tepuk tangan meriah terdengar ketika seorang siswi yang tadi diperhatikan oleh Matteo, berjalan dari arah paling belakang barisan para siswa itu.
Mata tajam Matteo tidak bisa lepas dari seorang gadis bernama Kalila itu. Saat gadis itu sudah berada tepat di hadapannya dan mendongak, Matteo tersentak. “Jasmine?” panggilnya refleks.
Sepertinya, bukan hanya Matteo yang terkejut, tapi gadis yang memiliki dua nama untuk Matteo itu sama terkejutnya juga.
“Jasmine?” Gadis itu melongo. Bibirnya sedikit terbuka saking terkejutnya.
“Kalila, silakan berdiri di samping Pak Matteo,” ujar salah satu guru mengarahkan Kalila karena gadis itu terpaku diam di hadapan Matteo tanpa berniat untuk menggeser tubuhnya.
Gadis itu masih menatap Matteo bahkan ketika kamera sudah mengarah pada keduanya. Tangan Matteo dan gadis itu memegang piagam penghargaan sebagai bukti penyerahan beasiswa tersebut, namun tatapan mereka saling menjurus satu sama lain.
“...hm....bisa kalian menghadap ke kamera?” Fotografer yang memfoto mereka kebingungan karena sudah membidik beberapa foto, namun keduanya masih dalam posisi yang sama.
Matteo tersadar dan berdehem canggung. Sialan. Bagaimana bisa dia menatap gadis itu terlalu lama hingga tidak sadar bahwa mereka kini berada di kerumunan?
Matteo membenarkan posisi mereka, diikuti oleh gadis itu. Setelah sesi foto tersebut, upacara dibubarkan dan masing-masing murid kembali ke kelas mereka. Berbeda dengan Kalila yang masih berada di tempatnya, walaupun kini Matteo juga sudah melangkahkan kainya menjauh seolah dia sama sekali tidak mengenali Kalila tadi.
“Sial,” gumamnya. Jika pihak sekolah tahu pekerjaan sampingan yang dia lakukan, mungkin Kalila terancam di drop out, dan kemungkinan dia bisa kehilangan pekerjaannya—pekerjaan yang menghidupinya selama ini.
Tidak ingin mengalami masalah lagi dalam hidupnya, Kalila memutuskan untuk mengejar pria berbadan tegap dan tinggi semampai itu. pria itu berjalan beriringan dengan Kepala Sekolahnya dan juga satu wanita yang Kalila anggap bahwa itu adalah sekretarisnya. “Permisi!”
Kalila sedikit berteriak dan membuat ketiga orang itu menoleh padanya.
“Kalila?” Kepala Sekolahnya terlebih dahulu menyuarakan rasa penasarannya. “Apa yang kamu lakukan di sini? Jam pelajaran pertama akan dimulai.”
Kalila tersenyum pada pria tua itu. Senyuman yang sedikit memaksakan karena kini dia merasa sangat canggung sekarang. “Saya ingin berbicara dengan Pak...” Kalila melirik pria itu—yang kini menatapnya tajam dengan mata elangnya. Astaga, kemarin malam saat mereka bertengkar, pria itu sama sekali tidak berhasil untuk membuatnya gugup, tapi sekarang?
Kalila gugup setengah mati.
“Pak Matteo?”
Kalila langsung mengangguk. “Iya, Pak Matteo.” Dia bahkan baru tahu nama pria itu adalah Matteo.
Pria yang menjabat sebagai Kepala Sekolah di SMA-nya selama tiga tahun terakhir itu menghela napas. “Baiklah. Silakan, Pak.”
Matteo tidak menatap pria di sampingnya, tatapannya lurus pada gadis urakan yang kemarin mengajaknya berdebat dan sekarang bertemu lagi dengannya sebagai siswi berprestasi di sekolahnya. Matteo tersenyum miring.
Pria itu mengikuti langkah Kalila yang membawanya ke samping gedung sepi.
“Jadi, ada apa?”
***