Chapter 47

1132 Kata
Pagi itu, suasana hati Matteo sangat-amat baik. Entah karena dia melihat Kalila yang sarapan bersama keluarganya atau karena Kalila yang terlihat lebih baik dari sebelumnya. Apapun itu, Matteo menyadari bahwa suasana hatinya membaik karena Kalila Beatrice. Beberapa karyawan wanita di tempat ia bekerja bahkan sampai menatapnya lebih lama dari biasanya ketika Matteo berjalan menuju lobi kantor. Memang ketampanan Matteo dapat membuat semua orang berpaling. Untungnya, Matteo tidak bersikap terlalus dingin kepada karyawan-karyawannya—tidak seperti kebanyakan tokoh CEO dalam novel romansa—jadi, tidak heran kenapa banyak yang tertarik pada dirinya. “Saya hanya ingin bertemu Pak Matteo!” Matteo mengeryitkan dahinya ketika melihat pekikan wanita di meja resepsionis. Matteo mengeryitkan dahinya heran. Kebingungan kenapa ada wanita yang terlihat emosi dan berapi-api pagi ini. “… maaf, Bu. Tapi …” “Di mana etika kalian?! Kalian tidak bisa menolak kedatangan saya begitu saja!” Matteo memilih mendekat ke arah wanita itu. Selain karena dia penasaran—mengingat namanya disebutkan oleh wanita itu tadi, dia juga tidak ingin ada keributan di kantornya pagi-pagi seperti ini. Semakin lama, Matteo akhirnya tahu bahwa wanita itu adalah Aya. Yap, wanita yang membuat harinya bisa buruk dalam satu waktu. Dan benar saja, raut wajah Matteo langsung berubah masam. Dia ingin berbalik dan berusaha tidak peduli dengan Aya. Dia tidak ingin bertemu wanita itu dan biarlah staff-nya yang mengurus sisanya. “Matteo …” Sial. Matteo yang sudah membalikkan badannya hanya bisa menghela napas lelah ketika mendengar namanya dipanggil oleh wanita itu. Matteo memelankan langkahnya untuk beberapa detik. Bermaksud untuk mengetahui respon wanita itu. “Matteo, tolong dengarkan aku …” Matteo tersenyum miring dan kembali melanjutkan langkahnya dengan tenang walaupun dirinya tahu Aya tidak akan menyerah begitu saja. Dan benar perkiraannya, wanita itu sungguh mengejarnya dan bahkan memegang pergelangan tangannya. Untung saja, Matteo sudah tidak berada di tengah-tengah lobi, sehingga walaupun berada di tempat yang sama, posisinya sekarang sudah tidak menarik perhatian banyak orang. “Aya, lepaskan.” Matteo berujar pelan, hampir bergumam. Dia tidak mungkin berlaku kasar pada wanita itu di sini. Dia hanya akan mendapat masalah jika begitu. Maka, dengan segenap hatinya yang kini ingin sekali menepis tangan Aya dari pergelangan tangannya, dia hanya terdiam dan tidak sudi menoleh pada Aya. “Kenapa kamu harus memperlakukan aku seperti ini, Matteo? Kenapa karyawan kamu mengatakan kalau aku tidak bisa diterima di kantor ini?” Aya berkata lirih. Tanpa mereka sadari, kini mereka sudah menjadi perhatian banyak orang. “Aya …” Matteo dengan perlahan melepaskan pergelangan tangannya, benar-benar perlahan. Dia membalikkan badannya dan melihat mata wanita itu yang berkaca-kaca. Sungguh, Matteo tidak peduli sekali pun Kalila menangis darah sekarang. Dia hanya ingin wanita itu pergi, tapi satu-satunya cara untuk melakukan itu adalah dengan paksaan. “… pergilah. Kamu hanya akan membuat diri kamu semakin malu.” Matteo yakin orang-orang di sini juga tahu bahwa Aya sudah memiliki suami dan dengan tidak tahu dirinya, dia mendekati pria lain—mantan pacarnya sendiri! Aya mungkin menutup mata dan telinganya dari tatapan sinis setiap orang di sana dan juga bisikan-bisikan tidak baik soal dirinya. “Matteo, aku hanya ingin bertemu dengan kamu. Bukankah kita masih memiliki proyek yang sama? Kamu tidak bisa memperlakukan aku seperti ini!” Aya tiba-tiba saja memukul d**a Matteo. Walaupun tidak terasa sama sekali oleh pria itu, tetap saja dirinya was-was karena takut orang-orang berpikir bahwa dirinya sudah mengatakan sesuatu yang tidak baik. Apalagi ditambah Aya yang menangis tersedu-sedu di depannya sekarang. “Aya, hentikan. Kamu sekarang membuat kita berdua malu.” Aya mendongakkan kepalanya. “Oh, kamu lebih mementingkan apa yang dipikirkan orang lain dibandingkan aku?! Matteo, kamu sangat berengsek!” Matteo menarik napasnya perlahan. Oke, ini sudah keterlaluan. “Pergilah sebelum aku menyuruh petugas keamanan menarik kamu, Aya.” Aya melongo. “Matteo …” “Kamu tidak akan mendapatkan apapun di sini. Hanya akan membuat kamu malu. Sebenarnya aku tidak masalah sekalipun kamu dengan sukarela mempermalukan diri kamu di sini. Sungguh, aku sama sekali tidak mempermasalahkannya, tapi di sini kamu membawa-bawa aku dan juga pandangan orang lain terhadapku. Jika kamu ingin mencari perhatian, tolong, lakukanlah di tempat lain.” Matteo berujar dengan sangat tenang. Sekalipun dirinya juga tersulut emosi. Dia tahu, semua ini tidak akan berakhir dengan baik jika dia juga emosi. Aya terdiam di tempatnya dan menatap Matteo dengan mata berair. “Matteo, aku masih mencintai kamu, kamu tahu itu, bukan? Semua ini aku lakukan agar aku bisa mendapatkan kamu kembali. Aku rela bekerja bersama suamiku dan itu semua karena kamu!” Alasan Aya tidak masuk akal dan hanya membuatnya terlihat semakin bodoh. “Apa tidak bisa kamu berikan kesempatan untuk kita?” Matteo menggeleng tegas. Dia sudah pasrah dengan Aya dan memilih untuk membalikkan badannya. Sayangnya, ketika dia melakukan itu, Aya melihatnya sebagai kesempatan emas agar semua orang tahu apa yang akan dia lakukan. Aya dengan tidak tahu dirinya memeluk Matteo dari belakang tubuhnya. “Aya—” “Semua orang akan berpikir banyak hal, bukan?” Aya berbisik. Matteo tahu bahwa dirinya mendapatkan masalah nanti. *** “Jadi, kerja kelompoknya pulang sekolah nanti?” tanya Kalila pada Zoe yang kini sedang memotong kertas berwarna menjadi bentuk-bentuk yang indah. “Hm.” Zoe terlalu fokus pada apa yang sedang dikerjakannya. Mereka ada tugas besar dari pelajaran Seni Budaya sebagai tugas akhir sebelum kelulusan. Untungnya, Zoe dan Kalila berada dalam satu kelompok yang membuat mereka lebih mudah dalam pengerjaannya. Untungnya, di sekolah, pikiran Kalila sama sekali tidak terganggu dengan masalahnya. Dan ketika pulang sekolah, seperti yang sudah disepakati bersama, mereka tidak langsung pulang karena harus kerja kelompok. Kalila ikut berpartisipasi. Hingga tidak terasa, waktu berlalu begitu cepat. “Ayo, Kal, kita pulang.” Kalila mengangguk. Mereka membereskan terlebih dahulu barang-barang yang tersisa dan membuangnya ke tempat sampah. Setelahnya, mereka berjalan menuju gerbang sekolah untuk pulang. “Kamu dijemput?” tanya Kalila pada Zoe yang kini sedang mengotak-atik ponselnya. “Iya. Kamu?” “Tidak.” “Oh—” Mata Zoe memincing ketika melihat kakak dari Kalila berjalan menuju gerbang sekolah. “Lalu, kenapa kakak kamu di sini?” “Tidak, dia—” “Apa?” Kalila tergagu. Dia langsung bisa merasakan ketakutan mulai merayap dalam dirinya dan dengan ragu dia menolehkan kepalanya ke arah yang ditatap oleh Zoe. Dan benar saja, Atlas sedang berjalan pelan ke arah mereka. “Astaga,” gumam Kalila. Dia kelimpungan. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Tidak boleh ada yang tahu masalahnya dengan Atlas, termasuk Zoe. Tapi, dia tahu kalau dia menolak Atlas sekarang, dia pasti akan memancing keributan. “Kal, kamu kenapa?” Zoe terlihat kebingungan dengan respon temannya. “Hm … aku tidak meminta dia menjemputku. Jadi, aku tidak tahu kenapa dia ada di sini.” Zoe tersenyum kecil. “Pulanglah lebih dulu, dari pada Kakak kamu menunggu terlalu lama di sini.” “Kalila, ayo pulang.” Sial! ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN