“Kamu tidak ke kampus?” tanya Rianna ketika melihat anak tirinya kembali ke rumah. Dia mengeryitkan dahinya ketika melihat ekspresi Atlas yang sedikit aneh. “Ada apa?” tanyanya sekali lagi. Atlas membalasnya dengan gelengan kepala. Namun, senyuman dari lelaki itu masih terpatri jelas di wajahnya. “Kamu tidak membuat masalah, ‘kan, Atlas?” Atlas yang akan melangkah kembali ke kamarnya. Namun, terhenti ketika Rianna menanyakan hal itu. “Memangnya kenapa?” “Atlas, kamu bersikap aneh, dan Mama curiga kalau kamu sudah melakukan sesuatu yang tidak benar.” Atlas hanya tertawa sinis. “Astaga, sejak kapan ibu tiriku berubah peduli?” Rianna menghela napas lelah. Dia tahu bahwa anaknya itu memang tidak akan pernah mendengarkannya, tapi sungguh, Rianna cukup khawatir. Dia memiliki firasat bahwa A

