Peluru itu menembus tepat di d**a kanannya, bersamaan dengan suara sirine ambulan dan suara sirine mobil polisi yang baru saja tiba di sana. Darah mengalir perlahan lahan dengan kesakitan yang tak bisa dia desekripsikan, air mata yang tertahan oleh hilangnya kesadaran seketika berhamburan menjadi sebuah penderitaan. Semua yang semula menyaksikan ketegangan di dalam ruangan itu, satu persatu mundur dan menghilang dengan langkah ketakutan oleh suara sirine polisi tersebut. "Ara! Ara!" Adimas berseru dengan histerisnya, satu tangan menahan tubuh istrinya yang sudah tumbang. Detak jantung perempuan itu semakin melemah setelah tertembak, dan Adimas semakin berteriak supaya ada orang yang mendengar dan dapat menolongnya. Tepatlah, beberapa polisi datang dengan petugas medis. Mereka terkejut d

