Memperbaiki sesuatu yang salah sudah menjadi hal yang seharusnya dilakukan, terutama sebuah kesalahan yang dilakukan kepada seseorang. Bagiamanapun caranya, lakukan yang terbaik agar kesalahan itu bisa termaafkan.
Sudah dua hari berlalu Hasan tidak pergi ke kantornya dan melaksanakan semua pekerjaannya dari rumah, dia yang biasa sangat tidak bisa meninggalkan perkerjaan barang sedikitpun tiba – tiba memutuskan tidak pergi ke kantor karena harus menyelesaikan sebuah perkajaan penting.
“De, nih tadi Kakak masakin ikan goreng, Kakak ambilin ya” ujar Hasan, sambil mengambil satu ikan goreng berukuran sedang ke piring adiknya.
Namun, belum sempat ikan goreng itu mendarat di piring sang adik, dia sudah lebih dulu menolaknya. Padahal Hasan sangat tahu jika adiknya itu sangat menyukai yang namanya ikan goreng, dan mendengar jawaban adiknya yang dia tahu adalah sebuah kebohongan, berhasil membuat mood Hasan seketika langsung runtuh.
“Maafin Kakak dong, Lin, Kakak ngaku salah, tapi kemarin tuh beneran kepepet” ujar Hasan, kepada adiknya yang belum juga memberikan maaf paska acara makan malam di rumah Maryam yang dia tinggalkan begitu saja, sambil memasang wajah memelasnya.
Melihat putra pertamanya yang terlihat memohon – mohon kepada adiknya dengan wajah memelas membuat Risa tidak mampu menahan tawanya, begitupun dengan Angga yang tampak tersenyum kecil melihat tingkah putranya. Mereka, masih merasa tidak habis pikir bagaimana bisa seorang Hasan yang selalu tegas dan disiplin dihadapan semua karyawannya dan terhadap semua pekerjaannya, bisa berubah menjadi Hasan yang tidak berdaya saat adiknya marah.
“Bunda … Ayah ….” ujar Hasan, sambil menatap kedua orang tuanya saat dia sadar mereka sedang menertawakan sikapnya.
“Alina sayang, jangan begitu dong, Kakak kamukan udah minta maaf, dimaafin aja yah, kan gak baik kita marahan lebih dari tiga hari” ujar Risa, penuh kelembutan.
Mendapat maaf dari Alina adalah pekerjaan penting yang membuat Hasan meliburkan diri dari pekerjaannya. Beruntung posisinya sebagai pemilik perusahaan, jadi dia bisa sedikit bebas, meskipun kedisiplinan selalu dia terapkan dalam pekerjaannya.
“Baru tiga hari Bun, jadi belum dosa, lagian aku masih marah sama Kak Hasan” ujar gadis, itu berhasil membuat senyuman di bibir Hasan yang semula mengembang lebar karena mendapat bantuan dari bundanya seketika langsung lenyap.
“Udah besar loh kalian, masa marahan gini” ujar Angga, yang akhirnya membuka suara.
“Oke, perjuangan mu belum usai Hasan” gumam Hasan, sambil menghembuskan nafas lelah dan mengangkat kepalan tangannya keudara seakan sedang menyemangati dirinya sendiri, dan lagi – lagi hal itu berhasil membuat senyuman kembali mengembang di wajah kedua orang tuanya saat mereka melihat tingkah aneh putra mereka yang sudah berkepala tiga itu.
Tepat setelah acara makan malam selesai, Hasan langsung membuatkan adiknya segelas s**u dan mengantarkannya ke kamar. Saat itu, Hasan masih belum menyerah sedikipun, dia masih terus berupaya membujuk adiknya agar bisa memaafkannya dengan tulus.
“Aku udah minum s**u tadi, jadi Kakak aja yang minum” ujar Alina, saat Hasan berniat menyimpan susunya diatas nakas.
Sesaat, Hasan terdiam kemudian dia berusaha menerbitkan senyuman dari bibirnya, karena nyatanya jika boleh jujur kemarahan Alina dan Bundanya selalu berhasil menimbulkan rasa sakit dalam hatinya, kesedihan Alina dan Bundanya adalah kelemahannya. Jadi, saat Alina terus – terus menerus menolaknya selalu ada kesakitan yang dia simpan meskipun dia tahu adiknya hanya kesal bukan marah dalam arti yang sesungguhnya.
Kemudian, Hasan melangkahkan kakinya mendudukan tubuhnya tepat dipinggir ranjang Alina, setelah itu meneguk s**u berwarna putih itu dalam satu tegukan. Hal itu, sempat membuat Alina tertegun, karena yang dia tahu Kakaknya sangat tidak suka yang namanya s**u, apalagi s**u berwarna putih.
“Susunya udah Kakak minum, tidur ya, jangan bergadang, Kakak sayang kamu” ujar Hasan, sambil mendaratkan satu kecupan hangat di dahi adiknya.
Setelah itu, Hasan memutuskan keluar, sudah cukup hari ini dia merecoki adiknya, dia akan membiarkan adiknya beristirahat dengan tenang. Besok, adalah hari baru yang akan menjadi perjuangan Hasan lagi agar mendapatkan maaf dari adiknya.
Ruang kerja, adalah tempat yang Hasan tuju setelah dia keluar dari kamar adiknya. Karena, ada project yang berhasil di dapatkan perusahaannya setelah bersaing melawan beberapa perusahan lainnya, dan Hasan harus memeriksa rincian dan project tersebut sebelum dikerjakan oleh tim programmer di kantornya.
“Kak, gak istirahat ? ini udah hampir setengah satu loh,” Hasan langsung menoleh karena kaget bundanya sudah tiba – tiba ada disampingnya, mungkin karena dia terlalu fokus dengan pekerjaan jadi tidak menyadari kehadiran Bundanya.
“Iya, sebentar lagi Bun, ini project besar kantor ku, jadi aku harus melakukannya dengan sebaik mungkin” ujar Hasan, sambil tersenyum kecil menatap bundanya, kemudian kembali fokus menatap layar leptopnya lagi.
Risa hanya mampu menghela nafas saat Hasan tetap menjadi Hasan putranya yang gila bekerja, sejak dia memutuskan menjauh dari Ayahnya dulu, dia memang di tuntut menjadi tulang punggung keluarga untuk menghidupinya yang saat itu sedang mengandung Alina. Namun, Risa pikir hubungan mereka yang sudah kembali membaik dengan Angga akan membuat Hasan hidup layaknya remaja lain yang bisa menikmati masa muda mereka, tapi nyatanya dia tetap menjadi Hasan yang gila kerja, karena mungkin hal itu sudah menjadi sebuah rutinitas baginya.
“Yasudah, jangan lupa istirahat ya, tidur.”
Hasan menganggukan kepalanya sambil tersenyum menatap bundanya, kemudian mencium tangan bundanya. Setelah bundanya pergi, Hasan kembali melanjutkan pekerjaannya dan berusaha menyelesaikannya secepat mungkin, karena jika bundanya datang untuk yang kedua kalinya dan dia masih belum bergerak dari posisinya, dia pasti akan merebut paksa leptopnya kemudian menyimpannya tanpa di ketahui siapapun.
Namun, fokus Hasan yang sedang menatap layar leptopnya terusik saat dia mendengar suara dering ponsel. Dahi Hasan seketika berkerut bingung saat dia melihat nama Maryamlah yang terpampang di layar handphonenya, tanda jika gadis itulah yang menghubunginya. Hasan tentu merasa heran, karena seingatnya Maryam masih marah juga kepadanya sama seperti Alina.
“Kak Hasan, Umma ...”
“Aku takut ..,” Hasan langsung bangkit dari posisi duduknya dan berjalan tergesa menuju kamar saat dia mendengar isak tangis Maryam dan penjelasannya yang sedikit terbata tapi Hasan bisa mengerti maksudnya.
“Kamu tenang ya, semuanya akan baik – baik saja, Kakak ke sana sekarang juga, jangan takut” ujar Hasan, sambil menulis sebuah pesan untuk ayah, ibu, dan adiknya untuk memberitahukan agar mereka menyusul ke rumah Maryam besok pagi.
Kemudian, setelah menulis pesan singkat, Hasan langsung menyambar jaketnya lalu segera pergi menuju rumah Maryam dan Intan. Beruntung, jarak rumah mereka cukup dekat, Hasan hanya perlu berkendara selama 15 menit dan dia sudah sampai.
Tepat setelah Hasan mengetuk pintu, dan pintu di buka oleh Lili, Hasan langsung melangkahkan kakinya menuju kamar Intan. Namun, langkah Hasan yang semula sangat terburu – buru seketika langsung terhenti sambil menatap lurus sosok yang sedang menangis pilu di depan pintu. Kemudian, Hasan berjalan pelan untuk menghampirinya, berusaha mendekat tanpa menimbulkan suara.
“Maryam kenapa enggak tidur ? ini udah malem banget” ujar Hasan, sambil berjongkok dihadapannya.
Melihat Hasan yang saat itu ada dihadapannya, bukannya berhenti tangis Maryam justru semakin kencang.
“Umma Kak, Umma pingan di kamar mandi, tapi Om Adrian gak bisa membawanya ke rumah sakit karena orang suruhan Kakek sedang berkeliaran di daerah ini” jelas Maryam, dengan isak tangis yang semakin deras saat dia menjelaskan semuanya kepada Hasan.
“Sekarang Maryam tenang, semua akan baik – baik saja, Maryam harus yakin itu, ya” ujar Hasan, berusaha membuatnya tenang.
“Aku mau di sini, mau temani Umma saja, dan tolong Kak, tolong bawa Umma ke rumah sakit sesegera mungkin, lebih baik aku yang tertangkap dari pada Umma yang kenapa – napa, aku gak bisa kehilangan Umma” ujar Maryam dengan isak tangis yang belum mereda.
Melihat kesedihan dan ketakutan terpancar jelas dari mata Maryam, rasanya saat itu Hasan ingin sekali membawa dia ke dalam dekapannya, berusaha menenangkannya agar dia tidak perlu merasa takut. Hatinya terasa perih setiap kali melihat tangis kesedihan Maryam, karena jika tangis kesedihan Alina dan Bunda adalah kelemahannya, maka melihat tangis Maryam adalah duka dan sakitnya.
“Maryam masuk temani Umma, Kakak akan pergi sebentar, Kakak baru ingat kalau Kakak punya kenalan Dokter, jadi Kakak akan mengajaknya datang ke sini” ujar Hasan, langsung mendapat anggukan dari Maryam.
Hasan langsung bergegas pergi menuju suatu tempat, lebah tepatnya Dokter yang akan memeriksa keadaan Intan. Namun, tepat di ruang tamu tanpa sengaja Hasan berpapasan dengan Adrian yang barus saja dari luar memeriksa keadaan, dan laki – laki itu meminta Angga untuk bersikap tidak mencurigakan karena ternyata orang – orang suruhan Kakek Maryam berada di dekat rumah Maryam dan Intan.
***
Maryam menatap sosok yang saat itu baru saja datang bersama Hasan dengan tatapan bingung. Karena, yang gadis itu ingat Hasan pamit untuk menjemput Dokter, tapi saat itu Hasan datang bersama perempuan yang masih menggunakan setelan piayama. Meskipun Maryam belum pernah menginjakan kakinya seumur dia hidup ke rumah sakit, tapi dia merasa tidak mungkin seorang Dokter berpenampilan sesantai itu.
“Nat, tolong periksa Mbak Intan dengan sebaik mungkin, tolong pastikan keadaannya baik – baik saja, aku mohon,” lagi – lagi Maryam kembali dia buat bingung saat mendengar percakapan Hasan dengan perempuan yang dipanggilnya Nat itu, karena mereka terlihat sangat akrab, bahkan terlihat sangat dekat.
“Hasan, kamu tenang dulu, biarkan aku memeriksa keadaannya lebih dulu, tenang ya” ujar perempuan itu sambil mengelus lengan Hasan, dengan senyuman menenangkan yang terbit dari bibirnya.
Hasan balas menganggukan kepalanya sambil tersenyum kearah Natasya. Melihat interaksi yang tanpa sadar dilakukan Hasan dan Natasya, berhasil membuat Maryam yang sejak tadi memperhatikan mereka merasa tersentil, sebagain hatinya merasa sakit saat melihat senyum teduh Hasan di tujukan untuk perempuan lain.
Kemudian, laki – laki itu berjalan menghampiri Maryam yang saat itu masih tampak diam di sofa setelah kedatangan Natasya, karena sebelumnya gadis itu duduk disamping ibunya.
“Namanya Natasya, dia sahabat kecil Kakak, kebetulan pekerjaannya Dokter jadi Kakak minta bantuan sama dia” ujar Hasan, memceritakan sosok perempuan yang sedang memeriksa keadaan ibunya.
“Kebetulan dia sedang menginap diapartemet Kakak agar bisa lebih dekat dengan tempat kerjanya” ujar Hasan, sambil tersenyum saat menceritakan tentang Natasya kemudian menoleh kearah Maryam.
Maryam hanya mampu tersenyum kelu dibalik cadar yang menutupi wajahnya, saat dia melihat senyum ketulusan terbit dari bibir Hasan ketika laki – laki itu sedang menceritakan tentang Natasya. Tidak tahu kenapa, Maryam merasa tidak suka melihat Hasan tersenyum untuk Natasya.
“Sebaiknya kita bawa saja ke rumah sakit, aku merasa sepertinya ada komplikasi ginjal, diabetes, dan darah tinggi” ujar Natasya, yang saat itu sudah berdiri dihadapan Hasan dan Maryam.
“Tensinya tinggi, dan saat aku cek gula darahnya juga tinggi, jadi kemungkinan komplikasi itu memang ada, lebih baik kita bawa saja ke rumah sakit, karena jika di biarkan seperti ini di sini bisa membahayakan nyawa pasien” lanjut Natasya, sambil menatap Hasan dan Maryam yang saat itu sedang duduk dihadapannya.
“Ginjal ? diabeter ? darah tinggi ? sejak kapan Umma mengalami semua penyakit itu ? kenapa dia tidak pernah mengatakannya kepada ku” ujar Maryam, dengan suaranya yang sudah terdengar bergetar dan air mata kembali berjatuhan dari pelupuk matanya.
“Itu masih kemungkinan, jadi sebaiknya kita bawa segera ke rumah sakit untuk memastikan semuanya, kita tidak mungkin merawatnya di sini dengan peralatan seadanya seperti ini” ujar Natasya, sambil mendudukan tubuhnya di samping Maryam, kemudian tanpa rasa canggung berusaha menenangkannya, karena meskipun dia sering salah paham kepada Hasan mengenai Maryam, tapi Natasya berusaha mengerti jika Maryam adalah adik Hasan juga.
Sedangkan Hasan dan Adrian, sama – sama terdiam memikirkan cara paling aman untuk membawa Intan ke rumah sakit, dan malam itu memang akan menjadi yang malam membingungkan bagi Hasan dan Adrian, meraka seakan hidup dihutan yang sudah di kepung banyak musuh, sehingga harus selalu waspada karena orang suruhan kakek yang sudah berkeliaran disekitar rumah Maryam dan Intan.