#R – Pertahanan Hasan

2088 Kata
Keluarga, adalah sesuatu yang sangat berharga bagi Hasan, terutama bundanya dan Alina. Mereka, adalah dua wanita yang mampu membuat Hasan bertahan kuat melewati kerasnya perjalanan hidup yang tidak mudah. Mereka, adalah dua malaikat tanpa sayap yang tuhan kirim untuk menjadi penguat hatinya yang saat itu hancur. Selain itu, kehadiran Maryam di dalam hidup Hasan menambah warna baru dalam kehidupannya yang saat itu hanya dia habiskan untuk belajar dan bekerja. Mempunyai dua gadis yang dia anggap sebagai adiknya sendiri membuat tanggung jawab dalam diri Hasan tumbuh semakin besar, terlebih Hasan adalah sosok kakak yang sudah merawat dan membiayai Alina sejak dia masih dalam kandungan, hanya saja beban itu lepas saat ayahnya kembali datang. Begitupun dengan Maryam, gadis itu lahir dan menjadi bayi kedua yang Hasan adzani setelah Alina. Dalam pertumbuhan Alina dan Maryam ada campur tangannya juga, sehingga saat Alina terluka maka dia akan lebih merasa terluka, saat Maryam menangis sedih saat itulah dia merasa tidak rela dan selalu ingin menjadi penenangnya. “Kak Hasan, Kakak belum tidur ya, jangan kerja terus nanti cepet tua” ujar Alina, yang tidak tahu sejak kapan sudah duduk di samping Hasan. “Kenapa ?” tanya Hasan, yang semula sedang fokus menatap layar leptop melanjutkan pekerjaan yang semalam belum sempat dia selesaikan, akhirnya beralih menatap kearah Alina. Laki – laki itu tersenyum sambil memandang adiknya yang sudah tumbuh besar, setiap kali melihat Alina tidak tahu kenapa rasa lelahnya seakan selalu memudar dan selalu ada semangat baru yang tumbuh di dalam dirinya. Bahkan, meskipun saat itu dia belum sempat memejamkan matanya sedikitpun, dengan adanya Alina di dekatnya, Hasan merasa jika dia tidak bisa mengeluh satu kalipun, karena bayang – bayang menyakitkan beberapa tahun lalu selalu membuat Hasan belajar untuk siap siaga menjaga adiknya . “Aku gak tahu siapa perempuan bernama Natasya itu Kak, aku gak tahu juga bagaimana jelasnya hubungan Kakak bersama dia, aku juga gak tahu bagaimana perasaan Kakak kepada dia, tapi kalau misalkan Kakak menikah apakah Kakak akan tetap sayang aku dengan cara yang sama ? apakah kasih sayang Kakak kepada ku akan sama besarnya setelah Kakak menikah ?” tanya Alina, sambil menatap mata Hasan yang saat itu sedang menatapnya juga. “Apa kamu lagi cemburu ?” tanya Hasan, sambil menahan bibirnya agar tidak tertawa saat sadar adik kesayangannya itu sedang menakutkan suatu hal yang pada dasarnya tidak perlu dia takutkan. “Kak Hasan …” rengek Alina, saat sadar Hasan sedang menggodanya. Hasan, langsung tertawa saat dia sadar jika Alina sedang mengkhawatirkan perhatiannya yang dia takutkan akan terbagi. Kemudian, Hasan mengelus kepala adiknya dengan penuh kasih sayang. Saat itu, Hasan mengerti ke khawatiran apa yang sedang adiknya rasakan, Hasan akan berusaha memastikan jika apa yang dia khawatirkan tidak akan pernah terjadi, karena bagi Hasa, Alina adalah segalanya. “Kamu tahu, sampai detik ini kamu tetap menjadi semangat dalam hidup Kakak, kehadiran kamu yang tanpa pernah Kakak dan Bunda sangka benar – benar menjadi keberkahan bagi kami Alina, kamu yang saat itu masih tumbuh dalam rahim Bunda, kamu yang saat itu belum terlahir dan bahkan belum pernah Kakak lihat wujudnya, bisa membuat Kakak menjadi kuat, bersemangat menjalani waktu Kakak tanpa rasa keluh, karena Kakak sadar Kakak harus terus bertahan agar bisa berjumpa dengan peri Kakak ini, kamu adalah harta berharga dalam hidup Kakak Alina, posisi kamu gak akan pernah tergantikan dalam hidup Kakak” ujar Hasan, sambil membelai kepala Alina dengan penuh kasih sayang. “Kakak bisa pergi meninggalkan siapapun yang ada dalam hidup Kakak, tapi Kakak gak akan pernah bisa pergi dan menjauh dari kamu, Bunda, Ayah, Maryam, dan Mbak Intan” ujar Hasan, sambil tersenyum menenangkan dan berhasil membuat mata Alina seketika langsung berkaca – kaca mendengar ungkapan dari kakaknya.  Alina langsung menubruk tubuh Kakaknya hingga membuat senyuman yang terlukis di bibir laki – laki itu semakin mengembang lebar. Kemudian, Hasan membalas pelukan adiknya dengan penuh kasih sayang, karena bagi Hasan tidak ada yang lebih penting dalam hidupnya selain Alina dan keluarganya. Namun, suasana haru dan hangat yang sedang terjadi diantara sepasang kakak beradik itu akhirnya terganggu oleh suara dering ponsel Hasan. Sesaat, laki – laki itu mengerutkan dahinya bingung saat melihat kontak nomor Natasyalah yang muncul sebagai orang yang menelfonnya saat itu. “Nat, kamu kenapa ? kamu tenang dulu, terus bilang pelan – pelan sama aku” ujar Hasan, saat mendengar Natasya terisak menangis dalam sambungan teleponnya. “… tolong aku takut, tolongin aku …” “Kamu tenang, aku ke sana sekarang” ujar Hasan, sambil mematikan sambungan telepon. Melihat Kakaknya yang terlihat panik dan membereskan leptopnya dengan tergesa – gesa, Alina sempat merasa kaget. Namun, sesaat kemudian dia langsung ikut berdiri karena penasaran dengan apa yang membuat Kakaknya terlihat sangat khawatir. “Alina tetap di rumah bersama Maryam, jangan pergi kemanapun, dan jangan buka pintu untuk siapapun, kalau ada apa – apa langsung hubungi Kakak, Kakak harus pergi dan secepatnya akan langsung kembali, kamu mengerti ?” tanya Hasan, saat mereka sudah berdiri di depan pintu sebelum Hasan keluar dari dalam rumah. Saat itu, melihat kakaknya yang bicara penuh keseriusan dengan ke khawatiran yang terpancar jelas dari kedua belah matanya, membuat Alina hanya mampu menganggukan kepalanya  tanpa mampu berkata apapun, walau itu hanya sekedar bertanya kemana kakaknya akan pergi. Setelah melihat anggukan kepala Alina, Hasan langsung pergi meninggalkan Alina bersama Maryam ditemani Lili di rumah. *** Hasan mematung menatap pintu apartementnya yang terbuka begitu saja, kakinya melangkah masuk dengan waspada saat dia melihat keadaan ruang tamu apartemennya terlihat sangat berantakan. Tubuhnya, kembali mematung untuk yang kedua kalinya saat dia melihat sosok yang selama ini tidak pernah Natasya sukai sedang berdiridi depan pintu kamar yang Hasan yakin di huni oleh Natasya. “Natasya ! buka pintunya atau aku dobrak ! buka !” teriaknya, sambil menggedor pintu kamar, dengan penuh amarah. “Jadi ini penyusup yang datang ke apartemen orang tanpa ada sopan santu itu ?” ujar Hasan, penuh ketenangan dan hal itu berhasil membuat sosok laki – laki itu menoleh menatap Hasan dari kepala hingga ujung kakinya.  Ada senyum evil yang yang laki – laki itu tunjukan saat melihat kemunculan Hasan. Kemudian, dia melangkahkan kakinya mendekati Hasan yang masih berdiri tenang di tempatnya tanpa melakukan pergerakan apapun. Saat itu, Hasan seakan sedang menyambut laki – laki itu agar lebih mendekat kearahnya, menunggu apa yang akan laki – laki itu lakukan kepadanya. “Jadi ini tersangka yang sudah menculik calon istri ku, akhirnya kamu muncul di hadapan ku, karena tangan ini sudah benar – benar gatal ingin menghajar mu, mematahkan tulang dan kaki mu agar tidak bisa berkutik lagi” ujarnya, sambil menatap Hasan dengan tatapan sinis membuat senyuman sinis juga terbit dari bibir Hasan. Kemudian, tanpa aba – aba laki – laki itu langsung melayangkan satu pukulan kearah Hasan, hanya saja beruntungnya saat itu Hasan bisa langsung menghindar dan melayangkan pukulan balasan beberapa kali hingga membuat laki – laki itu terkapar. Hasan tersenyum saat dia berhasil mendaratkan satu pukulan di pipi, perut, kemudian d**a dan berhasil membuat laki – laki itu tidak berkutik lagi. “Apakah hanya ini kemampuan yang di miliki oleh laki – laki sok jago seperti mu ?” tanya Hasan, sambil tersenyum meremehkan. Kemudian, Hasan langsung menduduki perut laki – laki itu sambil mencengkram kerah bajunya erat – erat, ada kemarahan yang terpancar dari mata Hasan saat dia menatap mata laki – laki yang sudah tidak berdaya itu, kemudian untuk yang kesekian kalinya Hasan kembali mendaratkan satu pukulan tepat di wajah laki – laki itu dengan sangat keras. “Itu untuk mu yang pernah merendahkan kehormatan Natasya” ujar Hasan, tanpa melepas cengkraman tangannya dari kerah baju laki – laki itu. “Dan ini untuk mu yang selalu membuat Natasya menangis sedih dan ketakutan” ujar Hasan, sambil mendaratkan satu pukulan lagi di wajah laki – laki itu hingga membuat darah keluar dari hidungnya. “Terakhir, ini peringatan dari saya agar jangan pernah mengusik hidup Natasya lagi” lanjut Hasan, sambil mendaratkan pukulan terakhir di wajah laki – laki itu. Setelah itu, Hasan langsung bangkit dari posisinya yang sedang duduk diatas perut lawannya. Hasan menatap laki – laki itu selama beberapa saat, menatapnya dengan tatapan tajam seakan dia memperingati laki – laki yang sedang terkapar itu untuk jangan pernah main – main dengannya. “Mau pergi sendiri atau saya tambah lukisan diwajah mu itu agar ambulance datang untuk menjemput mu ?” tanya Hasan, sambil menatapnya dengan tatapan mengintimidasi. Laki – laki itu langsung bangkit dari posisinya kemudian berjalan keluar dengan sedikit tertatih. Melihat kepergian laki – laki itu Hasan menghela nafasnya lega, kemudian dia berusaha menenangkan diri agar tidak terlihat emosi lagi karena dia tidak ingin Natasya melihatnya saat dalam keadaan marah. Setelah merasa jauh lebih tenang, Hasan berjalan menuju pintu kamar, membukanya dengan kunci cadangan. Tepat saat pintu terbuka, saat itulah Hasan bisa melihat sosok Natasya kembali terisak menangis di pojok kamar dan terlihat sangat ketakutan, dan melihat pemandangan itu hatinya selalu merasa tidak suka, dia tidak suka melihat kesedihan yang terbit dari wajah Natasya. “Hey, tenang ini aku, kamu aman sekarang” ujar Hasan, penuh kelembutan sambil mengelus pundak Natasya. Gadis itu mendongakan kepalanya, menatap Hasan dengan mata yang sudah terlihat memerah dan air mata yang sudah membanjiri kedua belah pipinya. Melihat sosok yang saat itu ada dihadapannya adalah Hasan, tangis Natasya terdengar lebih kencang, gadis itu langsung memeluk Hasan, menyalurkan rasa takut yang saat itu masih melingkupi perasaannya. “Dia ngikutin aku …” ujar Natasya, dalam pelukan Hasan di sela tangisnya. “Dia ngikutin aku pas pulang dari supermarket depan, dan maksa aku ikut pulang, aku takut Hasan …” lanjut Natasya, dengan isak tangisnya yang terdengar memilukan. Hasan mengelus punggung Natasya, berusaha menenangkan gadis itu dengan semua ketakutan yang menghantui dirinya. Higga perlahan tangis gadis itu mulai mereda, dia sudah terlihat tenang dalam dekapan Hasan. Namun, tiba – tiba seseorang dari arah belakang memukul punggung Hasan dengan benda keras yang tidak tahu itu apa hingga mempuat laki – laki itu meringis kesakitan dan perlahan melepas pelukannya pada Natasya, karena laki – laki itu sudah terkulai kehilangan kesadaran diatas lantai. “Hasan, bangun, Hasan ..,” panggil Natasya, sambil terus mengguncang tubuh Hasan dengan air mata yang sudah kembali berjatuhan. “Kamu bukan manusia ! kamu iblis yang gak punya hati ! sampai kapanpun aku gak akan pernah mau ikut sama kamu !!” teriak Natasya, sambil menunjuk laki – laki yang saat itu hanya menatapnya dengan senyum evil yang terbit dari bibirnya. Dia mengangguk – anggukan kepalanya selama beberapa saat setelah mendengar perkataan Natasya, kemudian dengan penuh emosi dia langsung menduduki peret Hasan seperti yang sempat Hasan lakukan padanya. Kemudian, dia memukuli Hasan dengan membabi buta layaknya orang kesetanan. Melihat Hasan yang terus di pukuli bahkan hingga hidung dan sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah, Natasya hanya bisa menjerit berusaha menghentikannya, tapi semua itu hanya berakhir sia – sia. “Kamu pilih ikut aku pulang menemui orang tua kamu, atau memilih tetap bertahan di sini dan aku akan memukili dia sampai dia mati” tanyanya, sambil menatap Natasya yang saat itu hanya mampu terisak menangis. “Jangan … ikut … dia …” ujar Hasan, dengan suarannya yang terbata – bata. Laki – laki yang tadi sempat berkelahi dengannya itu tersenyum mendengar perkataan Hasan, kemudian dia kembali melancarkan aksinya dengan terus menerus memukuli Hasan hingga membuat wajah Hasan sudah benar – benar babak belur. Melihat Hasan yang terus menerus di pukuli, Natasya hanya bisa menangis filu, karena dia tidak bisa melakukan apapun untuk menolong Hasan. “Aku ikut dengan mu, dan BERHENTI MEMUKULNYA !!!” teriak Natasya, berhasil membuat laki – laki itu berhenti mumukuli Hasan. “Gue harap besok bangkai lo di temuin, biar lo gak jadi kutu yang nyusahin gue lagi” ujarnya, sambil menendang perut Hasan. Kemudian, laki – laki itu langsung menarik Natasya pergi bersamanya, tidak ada yang bisa Natasya lakukan selain menurutinya. Sementara Hasan, meskipun pandangannya sudah terlihat berkunang – kunang, tapi sebisa mungkin dia terus mempertahankan kesadarannya, karena dia merasa ada banyak hal yang harus dia jaga. Sampai akhirnya, dering suara ponsel berhasil membuat Hasan semakin berusaha terus mempertahankan kesadarannya, setelah menarik nafas dan menghembuskannya, Hasan menempelkan ponsel itu di telinganya tanpa mengatakan apapun setelah dia mengangkat panggilan telepon itu. “Kak Hasan, tolong …” “Kami takut” Hasan yang saat itu masih kesakitan, langsung bangkit dari posisinya, kemudian berjalan terburu – buru dengan langkah tertatih saat dia tahu suara siapa yang baru saja bicara dengannya di telepon sambil terisak menangis. Tubuhnya yang saat itu sudah sangat kesakitan, tidak dia hiraukan sedikitpun, karena yang ada dalam kepalanya saat itu adalah Alina dan Maryam.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN