#R – Satu Hati Yang Terluka Dua Hati Yang Menyatu

1857 Kata
Hasan berjalan setengah berlari menyusuri koridor rumah sakit setelah dia mendapat kabar dari seseorang yang menolong Natasya ketika gadis itu terserempet motor. Kakinya berhenti tepat di depan ruang UGD, di sana masih duduk sosok perempuan yang Hasan pikir adalah orang yang tadi menelponnya beberapa saat lalu. “Mas, ini telepon milik Mbaknya, tadi Dokter bilang keadaanya baik – baik saja dan tidak ada luka serius, kaki Mbaknya terkilir dan ini barang – barangnya” ujar perempuan itu, sambil menyerahkan tas milik Natasya. Setelah menjelaskan dan menceritakan bagaimana keadaan Natasya, perempuan itu memilih pamit pulang, sedangkan Hasan memilih untuk langsung masuk ke dalam ruang UGD tepat dimana ada Natasya yang sedang duduk diatas blangkar dengan sebelah kaki di perban. Sesaat Hasan terdiam diambang pintu, kemudian langsung berlari dengan cepat memeluk tubuh Natasya hingga membuat tubuh perempuan itu terhenyak kaget. Sesaat, Natasya terdiam menikmati rasa kaget yang sempat dia alami karena Hasan tiba – tiba memeluk tubuhnya, tapi sesaat kemudian perempuan itu membalas pelukan Hasan, hingga pelan – pelan suara isak tangis terdengar keluar dari bibir Natasya. “Nat, jangan buat aku takut lagi, tolong jangan melakukan apapun untuk melindungi ku dengan cara menyiksa diri kamu sendiri, karena yang seharusnya adalah aku melindungi kamu bukan sebaliknya” ujar Hasan, sambil memeluk tubuh Natasya dengan erat. “Besok aku lamar kamu ke rumah, malam ini kamu ke apartemen aku aja” ujar Hasan, sambil melerai pelukannya dan menghapus lelehan air mata yang berjatuhan di pipi Natasya. Tidak ada kalimat apapun yang Natasya katakan, perempuan itu hanya diam sambil memandang wajah Hasan, sampai kemudian air mata kembali menetes dari pelupuk matanya ketika Hasan berbicara. Kemudian, Natasya kembali memeluk Hasan, menumpahkan semua beban yang hatinya rasakan. “Udah jangan sedih – sedih lagi, semua akan baik – baik aja, sekarang ayo kita pulang” ujar Hasan, sambil tersenyum menenangkan. Setelah itu, Hasan pergi mencari kursi roda, hanya saja tidak lama dia kembali tanpa membawa apa – apa. Kemudian, tanpa aba – aba dia langsung membawa tubuh Natasya ke dalam gendongannya hingga membuat perempuan itu sempat menjerit kecil karena kaget. Namun, saat itu Hasan seakan tidak peduli, laki – laki memilih terus berjalan menggendong Natasya dengan penuh percaya diri melewati lorong rumah sakit, padahal saat itu sedang banyak orang. “Kamu ngapain gendong, kan ada kursi roda” ujar Natasya, sambil menyembunyikan wajahnya di balik d**a Hasan karena malu pada orang – orang yang sedang menatap mereka sambil menahan senyum.            “Biar Sosweet” hanya jawaban itulah yang Natasya dengar dari Hasan sampai akhirnya laki – laki itu sudah sampai di parkiran dan mendudukan Natasya di kursi penumpang yang bertempat disampaingnya.            Sesaat, Hasan terdiam sambil memandang lurus kearah depan, kemudian dia menoleh menatap kearah Natasya yang saat itu ikut terdiam sambil memandang Hasan seakan saat itu dia sedang menerka apa yang sebenarnya sedang Hasan pikirkan. Kemudian, Hasan membawa tangan Natasya ke dalam genggaman tangannya, terdengar helaan nafas yang keluar dari mulutnya.            “Nat, tolong jangan kaya gini lagi, kita bisa laluin semuanya sama – sama, jangan mengorbankan diri kamu seperti kemarin, karena saat kamu melakukan itu saat itulah bagian hatiku hancur, Nat” ujar Hasan, dengan suaranya terdengar rendah atau lebih terlihat seperti menunjukan jika saat itu dia memang berada di titik terlemah.            “Aku pernah mengalami ada di fase yang paling hancur, di tuntut bangkit dan kuat dalam waktu bersamaan, tolong jangan pergi, karena setelah bersama kamu aku baru merasakan lagi gimana bermaknanya hidup, Nat” ujar Hasan, sambil memalingkan wajahnya keluar kaca mobil.            Mendengar perkataan Hasan, Natasya langsung memeluk Hasan dalam diam, tangannya dengan lembut membelai punggung Hasan, berusaha memberi laki – laki itu ketenangan. Karena, Natasya tahu apa yang saat itu Hasan rasakan, perjalanan yang penuh liku di masa lalu yang pernah Hasan lalui, membuat laki – laki itu selalu di tuntut untuk mampu oleh keadaan hingga tanpa laki – laki itu sadari, hatinya sudah melemah karena terlalu sering menerima tekanan yang sebenarnya belum saatnya dia terima di saat usianya yang masih remaja.             “Maafin aku, aku hanya terlalu takut Alex melakukan sesuatu yang berbahaya sama kamu, gimana bisa aku hanya berdiri diam saat pisitol – pistol itu sudah mengarah sama kamu dan dalam beberapa hitungan pelurunya akan segera melesat menyasar tubuh kamu, kamu pikir aku gak takut” ujar Natasya, dengan nada yang dia buat manja di akhir kalimatnya sehingga membuat Hasan menoleh dan terkekeh mendengarnya.            “Setidaknya, karena Alex aku tahu seberapa cintanya kamu sama aku” ujar Hasan, sambil tertawa keras membuat Natasya semakin mengerucutkan bibirnya karena kesal.            Namun, sesaat kemudian Hasan membawa Natasya ke dalam dekapannya. Setidaknya, dengan adanya Natasya Hasan merasa memliki tempat pulang, tempat dimana dia bisa membagi semua beban, sakit, dan tekanan yang selama ini dia rasakan dan tidak pernah bisa dia bagi kepada siapapun. Bersama Natasya, Hasan seakan bisa menamukan cara baru untuk mengekspresikan apapun yang dia rasakan tanpa rasa takut membabani orang lain. ***            Setelah kedatangan Angga ke apartemen miliknya yang akan menjadi tempat bermalam Natasya bersama dirinya. Hasan masih memilih diam di hadapan laki – laki berstatus ayahnya itu, karena saat itu dia masih bagaimana cara penyampaian yang paling akurat kepada ayahnya mengenai keputusan yang akan dia ambil selanjutnya.            “Kak, ada yang ingin kamu jelaskan kepada Ayah mengenai semua ini ?” tanya Angga, sambil menatap Hasan dan Natasya yang sedang duduk bersampingan secara bergantian.            Sesaat Hasan berdehem, kemudian dia menatap ayahnya dengan tatapan penuh keyakinan. Karena meskipun Hasan pernah kehilangan kasih, kehilangan percaya kepada ayahnya, kini laki – laki itu sudah kembali belajar memupuk kasih dan percaya itu agar bisa kembali utuh, sama seperti yang ayahnya lakukan dengan berusaha memperbaiki semua kesalahan yang pernah dia lakukan pada masa remaja Hasan yang seharusnya bisa di lalui dengan lebih baik.            “Selama ini aku berusaha keras memantaskan diri untuk bisa mendampingi Natasya Yah, banyak hal yang sudah aku lalui, jika selama ini aku masih bisa diam karena merasa jauh dari kata pantas untuk Natasya, tapi kini aku berani maju karena aku merasa gak bisa melepas Natasya bersama laki – laki yang bahkan Natasya sendiri enggak inginkan, Yah” ujar Hasan, sambil menatap Angga tepat dibagian matanya.            Sesaat, Angga mengangguk – anggukan kepalanya. “Bisa kita bicara berdua ?” tanya Angga, sambil menatap wajah putrnya.            Hasan langsung menganggukkan kepalanya, kemudian dia meminta kepada Natasya untuk menunggu, karena dia dan ayahnya akan berpindah ke balkon apartemen, agar pembicaraan mereka bisa dilakukan sambil menghirup udara segar. Namun, baru saja Hasan mendudukan tubuhnya, suara dering  ponsel Hasan berbunyi, dan ternyata panggilan itu dari Alina, tanpa pikir panjang Hasan langsung menerimanya.            “Aku gak suka Kakak bikin Maryam nangis, kalau sekiranya Kakak gak niat buat bikin acara makan malam sama dia yaudah jangan aja sekalian, jangan buat dia nangis terus Kak, bukannya Kakak sendiri yang bilang kalau Kakak gak suka ada orang yang bikin aku terluka, lalu kenapa Kakak malah buat Maryam terluka, padahal saat Kakak membuat Maryam sedih atau terluka dalam waktu bersamaan Kakak melakukan hal yang sama juga sama ku,” bibir Hasan yang semula sudah terbuka lebih langsung kembali terkantup saat dia mendengar suara adiknya yang masih berada di tahap suara biasa tapi nadanya terdengar begitu dingin.            “Kamu kenapa ? tunggu dulu jelasin pelan – pelan sama Kakak ada apa ?” tanya Hasan, berusaha bicara dengan selembut mungkin kepada adiknya.            “Aku mohon Kak, jangan buat Maryam sedih lagi, jangan buat dia nangis lagi, aku mohon” ujar Alina, dengan suaranya yang terdengar bergetar dan saat itu Hasan yakin di sebrang telepon Alina sedang menahan tangisnya.            Hasan menatap layar ponselnya saat dia sadar panggilan telepon dari Alina sudah di matikan. Kemudian, dia berusaha menghubungi Alina lagi, hanya saja saat itu meskipun panggilannya tersambung tapi Alina tidak mau mengangkatnya. Menyadari hal itu, Hasan sadar Alina marah kepadanya, hanya saja Hasan masih belum mengerti apa yang membuat adiknya marah.            “Maryam, apakah itu yang baru saja adik mu bahas ?” tanya Angga, sambil menatap Hasan yang saat itu hanya menatapnya seakan mempertanyakan tentang bagaimana ayahnya bisa tahu jika Alina baru saja membahas masalah Maryam.            “Karena, di sini ayahpun akan membahas Maryam lebih dulu” lanjut Angga, tanpa mengalihkan tatapan matanya dari Hasan.            Hasan terdiam memandang ayahnya. Maryam, sesaat Hasan baru kembali teringat akan nama itu, nama yang biasanya selalu dia utamakan seperti dia mengutakan orang tua dan adiknya, hanya saja Hasan tidak memungkiri jika cara menspesialkan sosok Maryam tentu berbeda dengan cara dia menspesialkan adik dan orang tuanya, meskipun masih dalam takaran yang sama. Hasan tidak pernah tahu kenapa dia melakukan hal itu, karena setiap kali dia mencari alasannya, dia sering kali merasa putus asa karena semuanya jauh lebih nyaman dan indah bila dilakukan tanpa sebuah alasan.            Setelah dia di buat panik oleh kabar yang dia dapat tentang Natasya, Hasan baru teringat jika dia sudah meninggalkan Maryam yang sedang terluka ketika mereka sedang makan malam. Bahkan, setelah itu Hasan justru melupakannya dan belum sempat menyapanya lagi.            “Ayah pikir awalnya gadis yang kamu pilih untuk menjadi istrimu adalah Maryam, karena meskipun usia kalian terpaut sangat jauh, tapi hubungan kalian sudah sangat dekat dan akrab, bahkan Intan ibu dari Maryam mengharapkan agara kamulah yang akan menjadi suami Maryam” ujar Angga, sambil menatap putranya.            “Di sini Ayah tidak bermaksud memojokan kamu bersama siapapun, hanya saja Ayah meminta kepada kamu untuk memikirkan semuanya lebih matang dan kepala jernih, karena sebagai orang tua Ayah bisa melihat ada binar istimewa yang Maryam perlihatkan untuk kamu”            “Jadi pikirkan semuanya dengan matang, karena saat kamu memilih bersama orang lain, pasti akan ada satu hati yang terluka, dan hati itu adalah milik Maryam.”            Diam, itulah yang Hasan lakukan saat dia mendengar perkataan ayahnya. Karena, sejujurnya Hasan juga sering kali merasakan getaran aneh di hatinya setiap kali dia melihat Maryam, hanya saja saat itu Hasan yakin jika rasa itu adalah rasa kasih sayang yang begitu besar dari seorang kakak kepada adiknya tidak lebih. Maryam hanya adiknya tidak lebih, itulah yang selalu Hasan tanamkan di dalam kepalanya.            “Apa yang Ayah katakan, Natasya adalah teman kecil ku, dan cinta pertama ku, dan Maryam adalah adik kedua ku yang paling aku sayangi, aku mencintai Maryam sama seperti aku mencintai Alina, hanya sebatas itu, Yah” ujar Hasan, sambil menatap mata Angga.            “Apakah kamu yakin ? kamu yakin tidak ada cinta yang kamu miliki untuk Maryam ? jika tidak maka Ayah akan mendukung kamu melangkah maju memperjuangkan Natasya” ujar Angga, sambil menatap wajah putranya yang saat itu terlihat serengah merenung.            Sebenarnya, Hasan tidak sepenuhnya mengerti menganai bagaimana isi hatinya, karena jika dia bisa jujur kepada dirinya sendiri, ada banyak hal yang berusaha dia tahan dan cegah. Hanya saja, dia tidak sadar jika pertahanannya untuk mencegah dan menahan itu perlahan sudah mulai runtuh terkikis oleh rasa yang sebenarnya tidak pernah dia akui.            “Ya, aku hanya ingin Natasya yang menjadi istri ku, ibu untuk anak – anak ku, Yah” ujar Hasan, sambil menatap Ayahnya.            Memilih Natasya dan mengorbankan perasaan Maryam itulah yang akhirnya Hasan lakukan, meskipun dia sendiri tidak tahu apakah keputusannya sudah benar atau tidak. Dia tidak tahu apakah keputusan yang dia ambil dia putuskan berdasarkan hatinya atau justru berdasarkan ego yang justru akan menjadi pedang yang menghunus dirinya sendiri di kemudian hari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN