Kedatangan seorang tamu yang sama sekali tidak diharapkan oleh Gibra, membuat hari seninnya yang sibuk menjadi sebuah petaka. Dia pikir bahwa setelah dirinya sudah berada di Jogja, maka dia tidak akan pernah beretemu dengan makhluk ini lagi ataupun titisannya yang kerap kali mengikuti Gibran kemana-mana. Namun siapa sangka jika Paul sampai repot-repot mendatangi Javas saat pria paruh baya itu mengaku memiliku urusan kerja di Jogja.Padahal Gibran sama sekali tidak mengharapkan kedatangan pria itu. "Kamu memang selalu ahli dalam menjalankan bisnis, bahkan Javas yang bangkrut bisa kembali bangun berkat tangan emas kamu," puji Paul. Sayangnya Gibran tidak meras tersanjung sama sekali dengan pujian yang diberikan oleh Paul. Dia malah tersenyum sinis, mengangjat satu kakinya saat duduk akan t

