Chapter 28 - Samudra dan Nightmare

2309 Kata
Samudra baru masuk ke dalam apartemennya saat ia merasakan ada yang janggal. Bau pengharum ruangan yang seperti biasa telah berubah, terkontaminasi dengan sedikit asap ro-kok dan bau alkohol. Dia ... Menggertakkan rahang, Samudra melanjutkan langkah dengan tegas. Benar saja dugaan remaja berusia 17 tahun tersebut. Di sana ada seorang wanita tengah teler di atas sofa ruang tengah. Beberapa botol alkohol berserakan di mana-mana dan sebuah mangkuk kaca yang penuh dengan beberapa puntung rokok. Tak hanya itu, outfit si wanita pun berserakan di mana-mana, menyisakan dia hanya memakai tangtop dan celana pendek yang bahkan tidak bisa menutup paha. Menghela napas lelah, Samudra pergi ke dapur. Mengambil sebuah kantung plastik besar dan membereskan kekacauan di ruang tengah apartemennya tersebut. Setelah semua beres, barulah ia membangunkan si wanita. “Bangun!” ucap Samudra dengan nada dingin. Tangannya menggoyang bahu wanita dengan sedikit kencang dengan tujuan agar dia mau bangun. “Aiiish, kepala gue pusing. Biarin gue tidur di sini malam ini,” decak si wanita dan merubah posisi tidurnya jadi tengkurap. “Kalau nggak mau bangun dalam hitungan tiga, saya akan panggil satpam kemari,” peringat Samudra. “Satu ... Dua ... Ti—“ “Bang-sat!” maki si wanita, langsung duduk dan melempar bantal sofa pada Samudra. Samudra bergerak cepat dengan menepisnya. Sementara tatapan dingin nan datar tetap keluar dari iris mata hitamnya. “Bisa nggak sih nggak usah ganggu orang tua lagi tidur?” “Saya tidak akan mengganggu Anda selama Anda juga tidak mengganggu saya.” Wanita itu berdecih, menatap sinis pada Samudra. “Lihat siapa yang lagi ngomong!” ia pun berdiri, sedikit terhuyung sebab banyaknya alkohol yang sempat ia minum sebelumnya. “Lihat!” Dia mengetuk jari telunjuknya di dahi Samudra dengan kasar. “Lihat mirip siapa lo? Gue, atau bokap lo yang nggak tau di mana dia berada? Hahahahaha! Lo itu ... lahir dari rahim gue. Lo jadi besar kayak gini juga karena makan dari duit gue. Mana rasa terima kasih lo sebagai anak, dasar nggak guna!” makinya. Berbalik, wanita yang tidak lain merupakan ibu kandung Samudra itu menghempaskan tubuh ke sofa lagi. Baru saja ia hendak berbaring dan memejamkan mata, Samudra sudah mencekal lengannya kuat dan memaksanya berdiri. “Saya bilang pergi dari sini!” “Gue nggak mau!” “Pergi!” “Gue nggak mau!” “IBU!” bentak Samudra kesal. Ibu tidak peduli. Ia menarik lengannya kasar dan mendorong Samudra. “Lo itu darah daging gue! Jangan jadi anak durhaka!” Samudra mendengus kasar. “Anak durhaka? Lalu Ibu sendiri gimana? Bahkan kelakuan Ibu lebih hina dari binatang!” “DIAM LO!” PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Samudra. Menyakiti hati remaja tersebut. Kedua tangannya terkepal kuat, kemudian mengambil seluruh outfit milik ibu dan menyeret ibu keluar dari apartemennya. Tak peduli dengan pemberontakan, makian, pukulan dan cakaran dari kuku-kuku tajam berkutek tersebut, “Satu hal yang harus Ibu tau. Samudra anak Ibu sudah mati. Dan saya bukan Samudra yang itu.” BLAM! Ditutupnya pintu apartemen dengan bantingan keras. Tak lupa menguncinya dengan manual dari dalam, mencegah kalau-kalau ibu tiba-tiba menerobos masuk lagi. Ibu nampak tidak terima. Ia menggedor-gedor pintu Samudra sambil mengeluarkan u*****n-u*****n kasar. Samudra sama sekali tidak peduli. Ia menuju kamar dan langsung menjatuhkan diri di atas kasur. *** “Satu juta.” Seorang pria berpakaian santai dengan motif bunga-bunga dan bertopi bulat berwarna hijau mencoba bernegosiasi dengan wanita berpakaian seksi di depannya. Di atas meja terdapat beberapa botol alkohol dan camilan ringan. Pun dengan asbak yang hampir penuh dengan puntung ro-kok. “Tarif normalnya satu juta lima ratus, Bang! Lo tau sendiri Wira itu profesional. Jadi harga buat sewa dia lebih mahal dari yang lain. Yah, kecuali Abang mau tidur aja sama gue atau temen-temen gue. Lima ratus ribu aja kita udah mau.” Pria tersebut nampak berpikir sejenak. Kemudian mencoba bernego lagi. “Lo nggak punya stok cowok lain apa? Masalahnya bos gue bosan sama Wira. Lo tau sendiri kan kalau bos gue langganan di sini?” “Buat saat ini belum ada. Jarang ada cowok yang mau disewa kayak gini.” DUG DUG DUG DUG Samudra mendrible bola dan memasukkannya ke dalam ring dengan mudah. Bulir-bulir keringat membasahi rambut dan dahi. Lelah, ia pun membaringkan tubuh di atas lantai paving lapangan mini belakang rumahnya. Samudra selalu keluar dari rumah dan memilih bermain basket di sana  tiap kali di jam-jam seperti ini. Banyak teman-teman ibunya yang datang dengan pakaian minim dan seksi. Lalu banyak pula pria-pria asing yang datang lalu membawa satu per satu wanita itu pergi. Jujur saja, Samudra tau jika para wanita itu sedang menjual diri. Termasuk juga ibunya. Meski tak suka, Samudra menutup mata, telinga dan mulutnya. Bagaimana pun kehidupan yang keras ini butuh uang untuk menjalani. “Sam!” Ibu berteriak dari dalam, membuat Samudra yang saat itu berumur 12 tahun langsung beringsut duduk. Ia berdiri dan masuk ke dalam rumah ogah-ogahan. “Sini!” Ibu melambaikan tangan pada Samudra, dan Samudra pun menurut. Ikut masuk ke dalam ruangan berbau alkohol dan asap rokok yang menyengat hidung. Di sana, Samudra bertemu mata dengan seorang pria yang tengah melayangkan senyum padanya. Samudra hanya mengangguk kecil kemudian menatap ibu. Bertanya kenapa ia dipanggil ke sana. “Bagaimana?” ibu berbicara dengan pria di depannya dengan senyum tipis. “Cocok?” Si pria mengangguk-angguk, iris matanya mengamati Samudra dengan intens mulai dari ujung kepala hingga kaki. Membuat Samudra sedikit merasa risih. “Lima juta,” ucap si pria kemudian. “Ah, ini barang baru. Masa cuma lima juta? Tambahin lah, Bang! Nih, dia juga masih butuh biaya sekolah dan lo tau sendiri kan betapa mahal sekolah jaman sekarang?” Si pria tertawa renyah. “Lo emang gila duit! Dan setau gue sekolah negeri banyak yang gratis karena bantuan dari pemerintah. Tapi okelah. Gue tambahin satu juta, jadi enam juta.” Ibu tersenyum kegirangan. Kemudian mengelus kepala Samudra dengan lembut. Raut wajahnya nampak sangat bangga saat itu, hal yang sangat jarang dan hampir tidak pernah Samudra lihat sebelumnya. “Sayang,” Hati Samudra menghangat ketika ibu memanggilnya ‘Sayang’ dengan lembut. Ingin rasanya ia memeluk ibu. “Mandi dan ganti baju kamu jadi yang lebih bersih dan rapi,” ucap Ibu. “Kita mau jalan-jalan?” Sang ibu berpikir sejenak kemudian mengangguk. “Mau?” Senyum Samudra mengembang dan ia mengangguk polos. “Beneran, Bu! Asiiik!” Samudra pun berlari meninggalkan ruangan. Mandi sebersih mungkin dan mengganti pakaiannya dengan setelan terbaik yang ia punya. Kaus berwarna merah dengan celana levis biru gelap. “Ayo!” Ibu menggandeng tangan Samudra, mengajaknya naik ke sebuah mobil sport berwarna hitam. Selama perjalanan, Samudra tak henti mengagumi deretan gedung-gedung tinggi yang mereka lewati. Ini adalah pertama kali ibu mengajaknya jalan-jalan dan sangat jauh dari rumah. Ibu yang selalu sibuk dan jarang berbicara dengan Samudra, sekarang berubah jadi perhatian dan penyayang. Membuat Samudra sangat senang. Hingga mobil berhenti di sebuah rumah mewah berlantai tiga. Ibu, pria tadi dan Samudra pun turun dari mobil dan masuk ke dalam. “Ini rumah siapa, Bu?” tanya Samudra sambil terus menggandeng tangan Ibu. “Teman ibu.” Kemudian ibu berjongkok di depan Samudra. “Dengar ya, Samudra. Kamu sudah umur 12 tahun. Aku rasa udah saatnya kamu bayar hutang kamu ke aku dengan cara menghasilkan uang yang banyak.” Ibu mengelus pipi Samudra yang mengernyitkan dahi bingung. Hutang? Uang yang banyak? Samudra sama sekali tidak mengerti maksud ibu. “Nanti di dalam, bersikaplah baik. Jangan memberontak dan terima aja sama apapun yang mau mereka lakuin ke kamu. Ngerti?” Samudra diam saja. Tidak mengangguk atau juga menggeleng. Karena ibu sudah berdiri dan menggandengnya masuk lebih dalam ke dalam bangunan mewah tersebut. Untuk beberapa menit awal, ibu berbicara dengan dua pria di ruang tamu. Satu pria yang tadi, satu lagi seorang pria yang sudah berumur. Mungkin ia sudah sekitar 40 tahunan. Wajahnya gemuk seperti perutnya yang tertutup setelan kerja. “Nah, Samudra. Ke sana kamu. Itu Om Ben, Daddy baru kamu.” Daddy? Saat itu yang ada dalam otak Samudra adalah pria bernama Om Ben ini akan menikah dengan ibunya dan menjadi ayah tirinya. Sebab sejak lahir ia tidak punya ayah, Samudra senang saja mendengar hal ini. “Sini boy, sini duduk samping Daddy.” Tanpa pikiran macam-macam, Samudra menurut. Ia duduk di samping Om Ben tapi belum juga pantatnya menyentuh sofa, Om Ben sudah menariknya ke pangkuan. “Coba, Om pengen dengar kamu panggil Om ‘Daddy’.” Samudra menatap ibu dan ibu mengangguk. “Daddy,” ujar Samudra polos. “Hahahaha ... saya suka anak ini. Berapa kamu kasih tadi Van?” “Enam, bos!” “Cuma enam? Tambahin 4. Hahahaha... Syaratnya, anak ini jadi milik saya. Nggak ada yang boleh pakai dia kecuali saya. Oke?” Kali ini Om Ben berkata pada ibu dan ibu tertawa mendengarnya. Mengangguk-angguk setuju. “Ah, itu mah gampang. Nggak akan ada yang pakai karena dia masih segitu. Yah, itung-itung biar dia belajar dulu sama kamu. Nanti kalau udah pinter dan kamu bosan, aku bisa tawarin ke orang lain,” ujar ibu sambil tergelak. Samudra sama sekali tidak paham apa yang mereka semua sedang bicarakan tapi yang jelas ia mulai tidak nyaman saat Om Ben meremas pahanya. “Ya sudah. Saya ke kamar dulu. Ayo, boy! Ikut Daddy. Kita mainan.” Om Ben menurunkan Samudra dan menggandengnya pergi. Samudra menoleh ke belakang, ingin berkata pada ibu bahwa ia takut tapi ibu lebih sibuk mengambil amplop cokelat di atas meja dan menghitung nominal uang di dalamnya. Sesampainya di kamar maha luas dan mewah, Ben menutup pintu. Ia berjalan ke sofa dan menaikkan kedua kaki di atas sana. “Boy, sini!” Samudra menghampiri Ben. “I-iya Om?” “Kok Om? Panggil Daddy dong. Terus nggak usah gugup, saya nggak galak kok. Saya orangnya baik dan lembut. Ayo coba ulangi panggil saya Daddy.” “Daddy.” Ben tersenyum, mengelus rambut hitam Samudra. “Kamu mau minum? Atau makan dulu?” Samudra menggeleng cepat. Ia mau ibu. “Hei, nggak usah takut gitu dong. Rileks!” Ben menarik tangan Samudra dan memaksanya duduk di pangkuan. “Katakan siapa nama kamu?” “Samudra,” jawab Samudra lemah. “Samudra? Nama yang bagus!” puji Ben. Ia menuangkan segelas jus di atas meja kemudian memberikannya pada Samudra. Demi menghilangkan rasa takut, Samudra pun meneguknya hingga habis. “Samudra ... lepasin kemeja Daddy dong.” “Aa-apa?” Ben meraih tangan Samudra dan mengarahkannya pada kancing teratas. “Waktu kamu ke sini, ibu kamu bilang apa?” “U-untuk bersikap baik dan nggak boleh memberontak. Terima saja apa yang Daddy mau.” “Nah! Sekarang Daddy mau kamu lepasin kemeja Daddy.” Samudra merasa ada yang tidak beres. Tangan kecilnya sedikit bergetar ketika melepas satu per satu kancing kemeja Ben. “Oh, such a good boy!” puji Ben, mengelus lagi kepala Samudra. “Sekarang, lepasin celana Daddy.” “T-tapi—“ “Ayo! Sekarang!” nada Ben sedikit memaksa. Samudra pun menurut. Ia berdiri dari panguan Ben dan membuka celana Ben. Sedikit kesulitan memelorotkannya ke bawah, tapi Ben dengan sigap membantu. “Oh, kamu memang anak yang baik!” puji Ben puas. “Sekarang Samudra, Daddy mau kamu lepas baju kamu.” Kedua mata Samudra terbelalak dan ia mundur sedikit lebih jauh. “Bu-buat apa?” “Ya nggak apa. Emang kamu nggak gerah pakai pakaian gitu? Daddy aja gerah, makanya minta dibukain tadi.” “Saya nggak gerah kok,” jawab Samudra cepat. Ben menghela napas. Ia bukanlah orang yang sabaran. Terlebih ketika nafsu sudah di ujung tanduk. “Sini Samudra!” “Saya mau ibu, Om. Saya mau pulang.” “Kamu pulang setelah melayani Daddy!” “Nggak!” “Sini!” Ben berdiri, berlari berusaha menangkap Samudra. Tapi Samudra lebih gesit. Ia menuju pintu dan membukanya kemudian kabur dari sana. “Ibu ... ibu ... ayo pulang!” seru Samudra ketakutan. Lega melihat ibu masih ada di ruang tengah mengobrol dengan pria tadi. “Loh, kok kamu ada di sini? Kamu harusnya sama Om Ben!” “Nggak mau. Samudra takut. Ayo pulang, Bu!” ujar Samudra sambil menarik-narik tangan ibu. “Kamu udah di bayar, nggak boleh pulang! Kamu balik ke Om Ben sekarang dan layani kemauan dia!” “Samudra nggak mau!” Ibu jadi marah. Wajahnya yang tadi manis berubah jadi galak. Ia berdiri dan langsung menampar Samudra sampai jatuh ke lantai. Ben muncul tak lama kemudian. Hanya memakai bokser saja. “Mana Samudra?” tanyanya garang. Samudra mundur takut-takut tapi ibu sudah menarik tangannya berdiri. “Heh, anak haram! Lo tinggal kerja apa susahnya sih? Om Ben ini yang bakal biayain makan sama sekolah lo kalau lo mau nurut, go-blok! Sudah sana, layani dia!” Ibu mendorong tubuh Samudra ke tangan Ben. Samudra memberontak tapi ben mencekalnya kuat. Menyeret Samudra untuk ikut dengannya. “Ibu!! Ibu!! Samudra takut! Samudra nggak mau!!!” teriak Samudra. Ibu tidak peduli. Ia kembali duduk dan hanya menatap Samudra penuh peringatan. “Anak nggak tau diuntung!” makinya sambil meminum segelas jus di meja. Ben memaksa Samudra masuk. Samudra terus memberontak. Tak segan, ia bahkan menggigit tangan Ben hingga pria itu berteriak keras. Ia langsung melayangkan pukulan ke kepala Samudra, membuat Samudra terhuyung dan jatuh pingsan. *** Samudra membuka mata dengan napas memburu. Keringat dingin membasahi tubuh. Sejenak matanya berlarian, ketakutan kalau-kalau ada Ben di sana. Sampai ia sendiri menyadari bahwa tidak ada Ben dan itu semua hanya mimpi buruk tentang masa lalunya. Mengusap wajah, Samudra menarik napas panjang. Ia memejamkan mata dan mencoba menenangkan detak jantungnya yang bekerja lebih cepat. Wanita itu—yang Samudra sebut sebagai ibu memang selalu punya cara untuk menghadirkan kembali mimpi buruk di tidur Samudra. “Fu*k!” umpat Samudra kesal. Ia berdiri, keluar kamar dan menuju dapur. Menuangkan satu gelas air putih untuk ia teguk sampai habis. Sementara iris mata hitamnya menatap kantung plastik berisi bekas botol minum alkohol dan puntung rokok di tempat sampah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN