Aku masih di kamar ini. Kegiatanku masih sama berbaring menunggu azan lalu salat. Ponselku terus berbunyi. Aku mengambilnya. Ternyata dari teman-temanku. Mereka menanyakan kabarku. Kemarin Mama sudah menghubungi dosen yang yang mengajar. Kepalaku semakin pusing tatkala notif demi notif terus datang. Aku mencari nama Lissa, Vira dan Mira. Namun tetap saja nama mereka tidak ada. Jujur aku kecewa dan maklum di saat yang bersamaan. Rasanya aku semakin merasa bersalah. Ternyata diam-diam alasanku tidak membenarkan kenyataan kalau aku tidak memiliki perasaan apapun kepada Ical. Kali ini aku semakin merasa bersalah pada Lissa. Dia benar-benar menyukai Ical dan aku sebagai temannya malah melakukan hal yang sama. Ini tidak adil bagi Lissa. Tapi biarlah. Toh aku tidak akan tega kalau melihat Lissa

