"Bagaimana, Nia? Cepat putuskan sekarang juga! Aku nggak punya waktu banyak!" tekan Bang Arman.
Aku terdiam. Tak kupungkiri rasa cinta tentu masih ada. Pernikahan lima tahun rasanya bukan waktu yang sebentar.
Tapi, jika mengingat apa yang sudah mereka lakukan, hinaan demi hinaan yang terus dilontarkan tak hanya padaku tapi juga pada Bapak dan Ibu, rasanya tak mungkin dapat termaafkan. Apalagi ketika Bapak dan Ibu ingin menemui, selalu saja dihalang-halangi. Padahal jarak Jakarta-Bandung tidak lah terlalu jauh. Sampai-sampai mereka kapok dan tidak mau mendatangiku lagi, sampai Indah sebesar sekarang.
"Nia! Kamu dengar nggak sih?" bentak Bang Arman menyadarkanku.
"Ya, aku dengar."
"Cepat jawab! Lama amat sih tinggal jawab doang."
Kutarik napas dalam-dalam, mengumpulkan kekuatan untuk menjawab yang sejujurnya.
"Aku nggak akan kembali sama kamu. Apalagi ke rumah ibumu," jawabku tegas.
"Mak-maksud kamu?"
"Apa ucapanku kurang jelas? Aku nggak akan kembali sama kamu, Bang. Paham?"
Keadaan di seberang hening. Hanya deru napas yang terdengar.
"Bu, Nia nggak mau kembali padaku," ujar Bang Arman. Sepertinya dia berbicara pada ibunya. Ternyata Ibu ada di sebelah Bang Arman.
"Apa? Mana biar ibu bicara." Terdengar suara Ibu. "Halo, Nia!"
"Ya, Bu."
"Kamu berani menolak ajakan anakku untuk kembali? Sudah hebat kamu? Kamu pikir siapa yang akan menghidupi kamu dan anakmu, huh?"
Aku tersenyum sinis mendengar kesombongan Ibu barusan.
"Memangnya Ibu itu Tuhan yang bisa menentukan hidupku dan Indah? Ibu lupa aku hanya masih punya orang tua."
Decakan sinis terdengar di ujung telepon. "Orang tua kamu? Hahaha ... Bisa apa orang tua kamu? Mungkin untuk makan sehari-hari saja mungkin mereka harus memutar otak. Hahaha ...." Tawa bernada ejekan Ibu membangkitkan amarahku. Perempuan se-tan ini tidak bisa dibiarkan.
"Cukup, Bu, cukup!" Aku mulai naik darah. "Selama ini Ibu menghinaku dan kedua orang tuaku, aku diam. Tapi, nggak kali ini. Kalian bukan Tuhan yang bisa menentukan kehidupan seseorang. Semakin bulat keputusanku untuk cerai dari anak mami yang nggak punya kepribadian seperti anak Ibu itu."
"Apa kamu bilang? Beraninya kamu menghina Arman."
"Memang kenyataannya seperti itu 'kan? Makanya, anak Ibu itu jangan disuruh nikah. Suruh saja dia untuk terus tidur di bawah ketiak Ibu. Atau kalau perlu Ibu saja yang menikah sama Arman."
"Kurang a-jar kamu, Nia! Berani-beraninya kamu--"
Klik.
Belum siap ibunya Bang Arman berucap, sambungan telepon segera kuputuskan. Capek telinga mendengar ocehan nenek lam-pir itu.
"Telepon siapa, Nduk?" tanya Bapak. Ibu menyusul jalan di belakangnya dengan nampan berisi tiga gelas teh manis dan cemilan.
"Bang Arman, Pak. Tapi ibunya ikut campur." Aku ikut duduk di sebelah Bapak.
"Ibu nggak nyangka kamu mendapatkan suami seperti Arman. Padahal dulu ketika mendekati lalu melamarmu, dia kelihatan seperti pria baik," ujar Ibu.
"Ah, dia baik juga karena mengira sawah di sini dan kebun sawit yang berada di Jambi itu punya kita. Karena saat itu Bapak 'kan masih tinggal di sana dan sesekali saja pulang ke Bandung." Bapak menyesap tehnya. "Begitu bapak bilang kalau semua itu bukan punya kita, dia langsung berubah dingin dan sombong. Bahkan setiap kita ke sana untuk bertemu Nia dan Indah, tidak pernah diizinkan. Padahal bapak cuma ngetes doang. Ternyata mereka hanya memandang harta saja."
"Lalu, apa rencana kamu selanjutnya, Nduk? Masa kamu masih mau balik lagi ke laki-laki dan keluarganya yang seperti itu sih?" tanya Ibu sambil menyuapkan nasi ke mulut Indah. Gadis itu begitu bahagia tinggal di sini. Bahkan ia lebih lengket dengan eyang uti-nya dibandingkan dengan aku--ibunya.
"Aku mau cerai!"
"Kamu serius, Nduk?"
"Ya, serius banget, Pak."
"Bagus. Bapak sangat setuju dengan keputusanmu. Bapak dukung 100%. Nanti dia akan tahu siapa kita sebenarnya."
"Tapi, memangnya Bapak nggak sayang, kalau kebun sawit kita sampai dijual?"
"Semua demi kamu, Nduk. Uang hasil kebun sawit itu akan bapak pakai untuk membeli kebun teh mereka. Bapak juga mendengar perusahaan mereka akan mengalami kebangkrutan. Kita akan masuk sebagai investor nantinya."
Bibirku tertarik ke sudut kiri atas. Ide Bapak memang benar-benar brilian. Tak sabar rasanya menunggu waktu itu.
"Besok kita berangkat ke Jogja. Pasti kamu kangen dengan desa kelahiranmu 'kan?"
"Kangen banget, Pak."
"Sebelum meninggal, almarhumah eyang sudah meninggalkan wasiat. Kata pengacara, almarhumah juga akan memberikan warisan ke kamu. Dan itu tentu akan kita gunakan untuk menjatuhkan mertuamu yang sombong itu."
❣ HM ❣
Pesawat mendarat dengan sukses di bandara baru Yogyakarta International Airport. Kota Jogja ini adalah kota asal di mana aku dilahirkan. Setelah berusia tujuh tahun, aku diboyong pindah ke Bandung, karena Bapak membeli sawah dan perkebunan teh di sana. Kemudian Bapak membeli perkebunan sawit di Jambi. Setelah maju dan memiliki banyak pekerja, Bapak hanya sesekali saja ke sana, sekedar untuk memeriksa kemajuannya.
Tapi, Bapak dan Ibu sosok yang sangat sederhana. Tak ada yang mengira kalau Bapak adalah juragan sawit, padi dan teh. Karena penampilan yang tetap "ngampung", ikut turun ke sawah bahkan ikut juga memetik teh.
"Ayo, Nduk. Taksi kita sudah datang," ajak Bapak.
"Baik, Pak," sahutku.
Kubantu Bapak dan Ibu untuk menaikkan tas dan koper ke bagasi mobil. Kemudian, mobil meluncur membelah jalan kota pelajar tersebut.
Sesampai di sebuah rumah yang ber-desain etnik jawa kental, kami disambut oleh seorang pria yang menggunakan blangkon di kepalanya. Dia adalah penjaga rumah eyang. Lelaki itu sudah ikut Eyang sejak aku masih kecil.
"Sugeng rawuh, Pak, Bu, Non Nia. Mari masuk. Pak pengacara sudah menunggu sejak tadi," ujarnya dengan aksen jawa kental. Ibu jarinya menunjuk ke arah rumah dengan badan sedikit membungkuk. Khas keramahan orang Jawa.
"Matur nuwun, Mas Darmo," jawab Bapak tersenyum.
Seorang lelaki berkemeja biru dongker berdiri menyambut kami di ruang tamu. Sepertinya ini pengacara eyang.
"Sudah lama menunggu, Pak?" sapa Bapak menyalami.
"Belum kok, Pak."
"Ayo, silakan duduk."
Pengacara bernama Pak Surya itu lantas segera mengeluarkan map berwarna hijau.
"Baik 'lah, Pak Danu. Saya akan membacakan isi surat wasiat dari almarhum Ibu Saraswati Cokrodiningrat." Ia membuka map tersebut. Membacakan beberapa pesan awal dari almarhumah. Lalu, ke topik utama yaitu membacakan wasiat dari almarhumah Eyang.
"Saya langsung bacakan saja ya pesan dari almarhumah Ibu Saraswati." Pak Surya membetulkan duduknya. "Untuk cucuku Dewi Kania Suryoprawiro, eyang mewariskan sebuah pabrik batik dan dua buah toko di Pasar Beringharjo dan di Malioboro untuk kamu, Nduk. Eyang sudah mendengar dari bapakmu, selama ini kamu terus dihina oleh suamimu dan ibu mertuamu. Eyang harap kamu bisa mengurus dan mengembangkan pabrik dan toko kita. Supaya kamu bisa membalas perlakuan suami dan mertuamu."
Hatiku trenyuh mendengar surat yang ditulis almarhumah Eyang. Sepeduli itu beliau padaku.
"Demikian surat ini eyang buat dengan sesadar-sadarnya," lanjut Pak Surya. "Jaga diri kamu baik-baik ya, Nduk. Tunjukkan pada keluarga suamimu, kita bukan orang rendahan seperti yang mereka kira. Wassalam, Saraswati Cokrodiningrat."
Air mata semakin tak terbendung. Bapak ternyata sudah menceritakan permasalahan rumah tanggaku pada eyang. Sampai-sampai Eyang berpikir memberikan pabrik dan tokonya padaku, agar aku tak direndahkan Bang Arman dan keluarganya.
"Kamu dengar sendiri 'kan, Nduk, bagaimana kepedulian almarhumah eyang padamu. Urus 'lah toko dan pabrik itu dengan baik. Buktikan pada Arman dan ibunya yang sombong itu kalau kamu itu bukan perempuan sembarangan yang patut direndahkan," tukas Bapak. "Bapak akan membantu kamu sekuat bapak."