KITA BELI KESOMBONGAN MERTUAMU, NDUK!
❣
"Mas, tahun ini kita mudik ke rumah ibuku ya."
"Nggak! Kita mudik tempat ibuku!" tolak Bang Arman.
"Lho, kita tiap tahun selalu mudik tempat ibumu. Masa sekali pun kita nggak pernah mudik ke rumah ibuku."
"Turuti saja perintah suami. Jangan bantah!" Bang Arman membanting sendok ke atas piringnya.
"Lho, Bang, kamu mau ke mana? Makan malamnya kok nggak dihabiskan sih?"
"Mending aku pergi. Bikin selera makan hilang saja kamu!"
Aku hanya bisa menatap diam punggung Bang Arman yang menghilang di balik pintu, yang juga ditutup dengan dibanting.
Sambil menghela napas, kuelus d**a yang terasa perih. Seakan ada duri tajam yang menghujam di sana.
Selama lima tahun menikah, tak sekali pun Bang Arman bersedia diajak mudik ke kampung Bapak dan Ibu. Sekali dua kali, aku masih bisa paham. Tapi, ini sudah menginjak tahun keenam, Bang Arman tetap saja menolak.
***H_M***
Seperti biasa, seminggu sebelum lebaran, Bang Arman sudah libur bekerja. Kemudian sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk mudik. Dan lagi-lagi, mudik ke rumah ibunya.
Berkali-kali Bapak menelepon, memohon agar Bang Arman mau membawaku dan Indah--putri semata wayang kami pulang. Tetap saja Bang Arman bergeming dan tidak mengindahkan permintaan Bapak.
Setiba di kampung mertua, aku hanya diam seribu bahasa. Sementara Bang Arman larut dalam keseruan bersama kakak dan adiknya juga keluarga besar lainnya.
"Nia, kamu kenapa? Dari tadi diam saja," tegur Kak Ima.
"Halah, paling merajuk, karena Arman tak mau membawanya pulang ke kampung bapaknya." Ibu yang menyahut.
"Oalah, jadi cuma gara-gara itu toh? Seperti anak-anak kamu itu, Nia."
Hatiku semakin perih mendengar celotehan mereka, yang seakan aku ini adalah lelucon. Keterlaluan.
"Nia, dari pada diam di situ saja, mendingan kamu ke dapur, siapin makanan!" perintah Ibu.
"Iya nih. Aku sudah lapar banget. Biasanya kamu selalu sigap menyiapkan makanan, Kak Nia," sambung Ella--adik iparku.
"Siapkan saja sendiri! Kenapa harus aku?"
Seketika mereka terpaku. Ini kali pertama aku membantah perintah Ibu.
"Apa? Kamu berani membantah Ibu, Nia?"
"Kenapa nggak, Kak? Selama ini cukup aku mengalah. Kalian perintah apa saja, selalu aku turuti. Tapi, tidak untuk kali ini."
"Kamu jangan bikin aku malu, Dek," bisik Bang Arman tertahan.
"Apa? Memangnya aku bikin malu apa, Bang? Kurang apa aku selama lima tahun ini mengalah? Setiap mudik ke sini, aku selalu dijadikan seperti babu, aku diam. Kamu selalu menolak diajak mudik ke kampung orang tuaku, aku diam. Tapi kali ini aku nggak akan diam!"
Ibu, Kak Ima dan Ella tertawa mendengar ucapanku. Hanya Bang Arman yang terdiam seperti menahan malu.
"Kamu mau apa memangnya, huh? Mau marah? Mau minggat? Silakan minggat sana! Memangnya kamu bisa apa tanpa anakku, huh?" ujar Ibu pongah.
"Iya, benar. Tanpa abangku, memangnya kamu bisa menghidupi Indah seorang diri. Kamu itu cuma orang kampung!" timpal Ella.
"Anak petani kampung saja sudah belagu kamu. Hidupmu itu masih bergantung pada anakku, tahu!"
Cepat kutuntun putriku yang berusia empat tahun ke luar. Lama-lama bisa gila kalau terus menerus di sini.
"Jangan dikejar, Man. Nanti dia ngelunjak. Ingat, harga dirimu sebagai suami!" Masih kudengar suara Ibu yang menahan Bang Arman agar tak mengejarku.
Drrrttt drrrttt. Ponsel android jadulku bergetar di dalam saku celana. Nama Bapak tertera di sana.
"Assalamualaikum, Pak."
"Wa'alaikumussalam, Nduk. Kamu ndak diizinkan suamimu untuk mudik?"
Aku diam menunduk. Hanya air mata yang menetes jatuh ke sudut bibir.
"Aku sudah nggak tahan, Pak," desisku lirih.
"Kalau sudah nggak tahan, pulang sini sama bapak dan Ibu, Nduk. Kalau hanya menghidupi kamu dan cucu bapak, bapak masih sanggup. Pulang lah, Nduk. Kebun sawit kita sudah laku. Ditambah eyangmu juga memberikan warisan untuk kamu. Kita beli kesombongan mertuamu, Nduk." Aku bisa menangkap geram di suara Bapak.
Cepat kuseka air mata. "Bapak serius?"
"Serius, Nduk. Suamimu yang sombong itu 'kan ndak pernah kenal eyangmu yang di Jogja. Dia juga kan ndak tahu kalau kebun sawit itu milik bapak. Mentang-mentang bapakmu ini petani, mereka pikir kita miskin. Kita buktikan, kita ini lebih dari mereka."
"Baik, Pak. Aku segera pulang."
***H_M***
Aku berjalan cuek menuju kamar. Tak kuhiraukan tatapan tajam yang seakan ingin menelan diri ini bulat-bulat.
Beruntung pakaian belum dikeluarkan semua. Segera kuringkas pakaian kemudian membawa ke luar tas yang berisi pakaianku dan Indah.
"Kamu mau ke mana, Dek?" tanya Bang Arman.
"Aku mau pulang ke kampung orang tuaku," ketusku.
"Kamu benar-benar sudah berani melawanku, Nia? Aku ini suamimu!"
"Aku ini juga istrimu, Bang. Tapi, apa pernah kamu mendengarkanku sekaliii aja. Bahkan kamu selalu diam melihat keluargamu memperlakukanku seperti pembantu."
Bang Arman terdiam.
"Sudahlah, Arman. Jangan dengarkan dia! Ingat, kamu itu kepala keluarga. Jangan mau dibo-dohi istri, Man!" hasut Ibu.
"Tapi, Bu--"
"Diam, Arman. Kamu berani membantah Ibu?"
Aku berbalik dan melanjutkan langkah, sambil menuntun Indah. Tak ada gunanya bertahan dengan lelaki yang memiliki pendirian seperti Bang Arman.
"Dek!"
"Sudah lah, Arman," senggak Ibu. "Jangan tahan dia! Ibu jamin, dia akan kembali sama kamu. Memangnya bapaknya sanggup membiayai hidup dia dan anaknya. Orang miskin saja belagu!"
Kuusap d**a sambil meneruskan langkah dengan menuntun Indah. Gadis kecil itu menatap dalam. Kupalingkan pandangan pura-pura tak melihatnya. Air mata ini sudah akan jatuh luruh sebentar lagi. Hanya saja masih berusaha ditahan. Mereka tidak boleh mengira diri ini lemah.
"Bunda ...."
Aku mengerjap. Duh, air mata sia-lan ini justru jatuh di saat tidak tepat.
"Ya, Sayang." Aku mendongak menatap langit yang sedikit mendung.
"Bunda menangis?" tanyanya polos. Di usia empat tahun, Indah sudah bicara dengan lancar, kecuali ketika huruf "R" di tengah kalimat, baru ia kesulitan.
"Ah, nggak. Siapa bilang?" Cepat kuusap air mata yang jatuh.
"Bunda jangan bohong sama aku. Bunda nangis kan?"
Kuhela napas panjang. Gadis kecil itu sedikit kesulitan hendak naik ke bangku halte.
"Sini bunda bantu, Sayang." Kugendong dan mendudukkannya di bangku halte.
"Kamu nggak usah mikir yang macam-macam yah. Pokoknya sekarang kita ke rumah Eyang di Bandung."
"Ayah nggak ikut?"
Aku menggeleng. "Ayah nanti nyusul. Ayah mau sama Nenek dulu di sini."
"Eyang bakalan sayang sama aku nggak, Bun? Kayak Nenek yang nggak pernah sayang sama aku."
Hatiku mencelos pahit. Anak sekecil Indah sudah paham, bahwa kehadirannya tidak pernah diterima.
"Eyang itu pengen banget ketemu sama Indah. Dan pasti Eyang Kung dan Eyang Uti nggak akan sama kayak Nenek."
?