#ISTRI_CERDAS
#7
#Irwan
Aku tak percaya, saat tiba-tiba Meylani datang ke acara pernikahanku dengan Windy. Ia bahkan membawa koper dan memintaku untuk tidak kembali padanya.
Aku pikir selama satu tahun bermain cantik di belakangnya tidak akan membuat dia curiga. Apalagi, saat aku memberikan hadiah mobil saat ia berulang tahun, tahun lalu.
Meski sesungguhnya aku hanya sengaja agar ia tak curiga tentang pengeluaran yang besar ketika aku membeli mobil atas namanya. Biarlah, setidaknya aku bisa memberikan kemewahan juga untuk Windy.
Gadis desa bernama Windy adalah anak lurah di sebuah desa yang akan menjadi tambang uang untukku nantinya. Demi melancarkan rencana di perusahaan, aku rela merayu dan menikahi gadis yang sesungguhnya tidak terlalu cantik.
Sayangnya, aku terlalu memberikan kebebasan untuknya memegang ponselku dan akhirnya Windy tahu bahwa aku telah memiliki istri.
Namun, hal tersebut tidak menjadi sebuah penghalang yang berarti setelah aku mengatakan jika aku akan menceraikan Meylani setelah aku menikahinya.
Meski begitu, aku melarang Windy untuk mengatakan statusku pada kedua orangtuanya. Karena aku takut jika mereka akan membatalkan pernikahan kami yang tinggal menghitung hari.
Windy pun menyetujui, dengan syarat aku harus mengadakan dua resepsi dan salah satunya harus di selenggarakan di kota besar. Harus di gedung mewah dan pesta yang meriah.
Syarat itu mungkin bisa aku turuti, karena aku pun sudah merencanakan pesta pernikahan di dekat bandara supaya tidak repot jika tiba-tiba Meylani ingin aku pulang karena aku hanya pamit beberapa hari saja di kota ini.
Namun, satu syarat yang di ajukan lagi oleh Windy membuatku tercengang.
"Aku mau, kedua orangtua kamu juga datang Mas. Pernikahan kita bukan main-main dan aku gak mau di jadiin mainan sama kamu!" ucap Windy.
Bagaimana mungkin aku bisa memenuhi permintaan Windy, sedangkan orangtuaku sangat menyayangi Meylani dan Laura, putriku.
"Gimana Mas? Kalau kamu gak sanggup juga nggak apa-apa kok!" ancam Windy.
Proyek bernilai triliunan ini tidak mungkin aku lepas begitu saja, belum lagi tawaran untuk menjadi direktur utama jika aku bisa memenuhi target pengesahan daerah untuk proyek ini.
"Mas!" sentak Windy.
Aku pun mencegahnya yang bangkit dan hendak meninggalkan aku. Sesuatu yang besar memang butuh pengorbanan, aku yakin Meylani akan mengerti jika ia tahu aku akan menikah lagi demi sebuah pencapaian yang sangat aku impikan sejak dulu.
Selangkah lagi, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja.
Aku berusaha mengatakan semua pada Meylani sebelum aku terbang ke Kalimantan, tapi lidahku kelu. Aku tak bisa mengatakan semuanya. Mungkin, lebih baik aku mengatakan jika semua sudah terjadi, aku bisa memberikan banyak alasan seperti apa yang selalu aku lakukan selama ini.
Hingga tiba hari dimana aku menikahi Windy di kampung halamannya di Sambaliung, Kalimantan timur. Perjalanan yang cukup jauh memang harus aku tempuh, karena setelah turun di bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan, aku harus kembali naik pesawat dan menempuh perjalanan satu jam hingga sampai di bandara Kalimarau, Berau.
Itupun belum selesai, karena masih harus menempuh perjalanan selama setengah jam menuju salah satu desa di Sambaliung.
Ijab kabul serta resepsi kecil-kecilan pertama dilakukan di kediaman keluarga Windy, sementara satu jam setelah acara di sana selesai, kami beranjak ke gedung yang sudah kami sewa di sebuah kota dekat bandara di Balikpapan.
Pesta mewah, di gelar di sebuah gedung yang begitu megah. Bahkan, aku sudah menghabiskan banyak uang untuk acara ini.
Hingga aku memutuskan, mobil yang aku hadiahkan untuk Meylani sengaja aku berikan sebagai hadiah pernikahan untuk Windy karena aku tak mungkin mengeluarkan lebih banyak uang untuk acara ini.
Setidaknya, aku tak ingin Meylani curiga dengan pengeluaran yang terlalu besar yang sudah aku lakukan. Namun, Sialnya, Windy mengunggah foto pernikahan kami di resepsi pertama saat di rumah Windy bertambah dengan caption yang menantang pula.
Wajar saja jika membuat hati Meylani geram hingga memutuskan untuk datang dan menghancurkan semua rencanaku. Tepat saat kami baru memulai acara resepsi pernikahan kedua di gedung, Meylani datang membawa koper.
Wajahnya penuh dengan amarah. Meski ia berusaha menyembunyikan semuanya, tapi aku tahu betul jika Meylani memang tidak baik-baik saja saat ini.
Belum lagi, kunci mobil yang baru saja aku berikan sebagai simbol hadiah tengah di pegang oleh ibu mertuaku yang langsung di minta oleh Meylani.
Namun, aku tak kehabisan akal karena di hadapan keluarga Windy aku harus bersikap seolah memang sangat mencintai Windy. Sayangnya, Meylani sepertinya sudah sangat marah hingga ia tak mau mendengar lagi penjelasan ku. Bahkan, saat aku menghampirinya di hotel tempat ia menginap, ia tetap tak mau menemuiku.
Ya Tuhan, bagaimana ini? Bagaimana caranya aku bisa meminta maaf dan menjelaskan semua pada Meylani? Dan apakah mereka mungkin ia akan memaafkan aku?