Adipati masih terus memandangku, aku bahkan tak mampu melepaskan tatapannya yang seolah siap menerkam aku kapan saja. "Berhentilah sandiwara Mey, please jangan buat aku tersiksa lebih lama," ucap Adipati. Aku benar-benar tak mampu menahan diri, bahkan ia tahu jika aku hanya bersandiwara beberapa hari ini. Sedangkan Mas Irwan yang sudah pernah satu atap denganku justru tak pernah bisa memahami apa yang terjadi. Ia semakin sibuk dengan wanita yang ia anggap sebagai seseorang yang mampu membangkitkan semangatnya. Sungguh miris, bahkan ia tidak memandang tempat untuk bermesraan dengan wanita itu. "Mey, tatap mata aku dan katakan kebenarannya." Adipati membingkai wajahku dengan kedua telapak tangannya. Aku bahkan tak mampu lagi membohongi diriku sendiri bahwa aku telah mengingat semuanya

