Penculikan

488 Kata
“Apa maksudumu?” “Kamu berhubungan sama laki-laki lain di belakangku?! Iya, kan!” Thalia tersentak. Tidak pernah sekali pun Jared meninggikan suara padanya. Rasanya seakan Thalia baru saja ditusuk sebilah belati. Nyeri. Dua kali lipat lebih nyeri kala Jared menuduhnya sehina itu. “Kamu keterlaluan, Thal! Kamu menuduhku yang bukan-bukan dengan sekretarisku, tapi kamu sendiri ternyata berhubungan dengan pria lain di luar sana! Bahkan sampai hamil!” Jared menunjuk perut Thalia. “Dan kamu baru bilang ketika kita udah sah menjadi suami istri?! Kamu menjebaku, Thal! Kamu benar-benar keterlaluan!” Jared mengacak-ngacak rambutnya frustasi setelah puas melontarkan serentetan kalimat yang telak menyayat perasaan Thalia. Thalia ingin membantah, tetapi tenggorokannya terlalu tercekat. Seolah ada segumpalan kerikil yang menyumbat di sana.  Susah payah, gadis itu kemudian mengeluarkan suaranya. “A-aku. Aku nggak sehina itu, Jared.” Thalia berhasil mendapatkan suaranya, berbarengan dengan itu, kedua bola matanya memanas. “Aku bersumpah aku nggak pernah berhubungan sama siapa pun di dunia ini selain kamu. Bahkan sebelum aku mengenal kamu, Jared.” Thalia menghentikan penuturannya sebab terdengar keributan dari luar kamarnya.  “Kamu tunggu di sini.” Selepas berkata demikian, Jared melenggang ke luar. Memeriksa keributan apa gerangan yang terjadi malam-malam begini. Sementara Thalia langsung terduduk di atas ranjang yang di taburi banyak kelopak bunga mawar. Berusaha menengangkan diri, walau pun tidak dapat dia pungkiri bahwa hatinya benar-benar sakit mendengar Jared menuduhnya tanpa alasan begitu. Pikirannya mencoba memaklumi. Barangkali Jared terlalu syok, di tambah dengan kondisi laki-laki itu yang kelelahan membuat pikirannya kacau. Barangkali memang seharusnya Thalia mengatakan hal sepenting ini di saat seperti ini. Barangkali seharusnya ia mampu menunggu momen yang lebih pas lagi. Pyarr Segala kemelut yang bergerumul di kepala Thalia pecah seketika begitu bunyi hantaman benda kaca terdengar nyaring di luar sana.  “Jared?” Thalia memanggil Jared, tetapi tak ada satu pun sahutan. Tak kuat menunggu, Thalia lantas menyusul Jared. Berjalan menuruni tangga, adrenalinnya langsung terpacu kala manik mata menangkap keberadaan Jared yang tergeletak di lantai di dekat pecahan vas. Thalia terburu-buru menghampiri Jared, kepanikan menderanya saat menemukan luka di kepala laki-lakinya. “Jared? Kamu kenapa? Bangun. Jared bangun!” seru Thalia penuh getar suara. Bola matanya mengedar berusaha menemukan bantuan, tetapi tak ada seorang pun yang terlihat. Rumah itu benar-benar hening. Keheningan tersebut sukses mengantar lebih banyak ketakutan dalam dirinya. “Jared! Aku mohon bangun! Jangan bercanda! Ini bener-bener nggak lucu!” Tanpa Thalia sadari, air matanya meluruh. Guncangan yang ia berikan pada tubuh laki-laki itu, tak kunjung membuat Jared terbangun. Kepanikan Thalia lantas semakin memuncak ketika tiba-tiba saja, mulut serta hidungnya dibekap menggunakan kain oleh seseorang. Thalia berusaha berontak dari seseorang yang menyeretnya, tetapi tubuhnya dikungkung begitu kuat oleh sosok asing itu. Air mata Thalia semakin deras berjatuhan, mengaburkan pandangannya pada Jared yang masih tergeletak. Berharap Jared terbangun dan menyelamatkannya. Namun harapannya harus pupus seiring detik berlalu, menghadirkan sesak menghimpit rongga d**a. Thalia kepayahan meraup oksigen. Hingga akhirnya tubuhnya melemah, diiringi kesadaran yang terenggut paksa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN