-*-*-*- “Oh ya?” pandangan matanya sedikit berubah saat tau itu Kenan. Seperti tidak dapat di tebak. Kenan hanya bisa berharap kalau ia tidak memiliki dendam pada Kenan. Walaupun itu mustahil. “Ya, baru ini bisa ketemu. Padahal sewaktu di butik, gua penasaran banget, siapa yang berhasil ambil hati cewek batu yang sama sekali ngga lirik gua waktu SMA,” jelasnya seraya tersenyum meremehkan. Sejujurnya Kenan ingin membantah, tapi ini sudah malam dan mereka sedang di tempat yang tidak tepat. Gianna juga sejak tadi sudah mencengkeram kuat kemeja belakangnya. “Sorry ya ini udah malem, gua harus anter dia pulang, kalo ketemu lagi, mudah-mudahan kita bisa ngobrol banyak,” Kenan mencoba pamit sekali lagi, tapi sepertinya orang itu memang berniat memancing Kenan. “Hey ayolah, kan dia cewek lo,

