-*-*-*- Tepat saat pintu tertutup, Geno menghampiri Gianna. “Agak serem tuh bocah berani kerumah gue langsung,” keluh Geno seraya merebahkan diri diatas sofa. “Temen sekelas?” sahut Gianna penasaran. “Kelas sebelah,” “Oh … ,” Gianna hanya mengangguk-angguk dan menganggap semua itu berlalu begitu saja. “Tapi lo jangan bilang-bilang Ina!” celetuk Geno meminta, lebih seperti memberi perintah. Mendengar nada suara tinggi Geno membuat Gianna melirik sinis. “Elo minta apa nyuruh hah?!” Gianna melempar bantal kearah wajah Geno, tetapi seketika ditangkap oleh Geno. “Nyuruh!” balas Geno dengan wajah kesal. “Idih! Siapa lo nyuruh-nyuruh? Ogah! Gue kasih tau nanti, gue panas-panasin,” balas Gianna mengancam. “Yaelah rese banget sih? Gue beliin cemilan deh nanti, gimana?” tawar Geno mencoba

