BBS 9

891 Kata
Pulang dari puncak Marta dan Samuel benar-benar menyidang putranya, dan saat ini tiga orang dewasa itu sedang berada di ruang kerja yang ada dirumah mewah Reno. "Ada apa mah pah? sepertinya ada yang penting" ucap Reno. "Bisa jelaskan Ren ada hubungan apa antara kamu dan Rani" ucap Marta. "Reno dan Rani?" tanya Reno bingung. "Kami dengar dari putrimu dia melihatmu dan pengasuhnya itu berpelukan di kamarnya" ucap Samuel. "Anak itu" gumam Reno menggeram kesal. "Gak ada tempat lain? bagaimana bisa kamu dan Rani bermesraan di kamar Nayshila. Kalau memang kamu menyukai Rani jadikan dia istrimu nak, jangan permainkan anak orang" ucap Marta. "Mah dengar dulu, Reno dan Rani saat ini tidak ada hubungan apa pun, dia hanya pengasuh Nayshila dan gak lebih" ucap Reno. "Lalu bagaimana bisa kamu memeluknya, dan gak mungkin putrimu bicara bohong" ucap Marta. "Ya Kevin akui Nayshila benar, dia gak berbohong mah" ucap Reno. "Jadi katakan yang sebenarnya pada kami nak, bagaimana bisa kalian berpelukan sementara kalian... gak ada hubungan..." ucap Samuel. "Entah apa yang terjadi pada diri Reno, akhir-akhir ini Reno begitu senang menatap Rani, Reno melihat sosok perempuan yang sempurna pada dia" ucap Reno, ia tersenyum sambil membayangkan wajah perempuan itu. "Kamu sudah jatuh cinta pada pengasuh putrimu itu Ren, dan mama minta segera lamar dia, jadikan dia sebagai bundanya Nayshila yang sesungguhnya" ucap Marta. "Mamamu benar nak, dan sudah saatnya kamu mengakhiri kesendirianmu" ucap Samuel. "Mama papa setuju andai Reno melamar Rani? Rani itu pengasuh Nayshila mah pah" ucap Reno. "Apa salahnya? malah kami senang, lagi pula Nayshila sudah sangat cocok dengan Rani" ucap Marta. "Baiklah secepatnya Reno akan bicara pada Rani" ucap Reno dengan senyumnya. "Mama tunggu kabarmu Ren" ucap Marta. --- Baru saja Rani keluar dari kamar Nayshila setelah menidurkan gadis kecilnya, Reno menghadang jalan perempuan itu dan mencegatnya. "Bisa bicara sebentar Ran" ucap Reno. "Ada apa tuan?" tanya Rani datar. "Kita duduk" Reno menunjuk sofa panjang yang berada tak jauh dari kamar Nayshila. Keduanya sudah duduk, Reno menarik nafasnya sebentar sebelum membuka suaranya. "Ada apa tuan?" tanya Rani lagi. "Sebelumnya aku minta maaf untuk kelancanganku selama ini. Dan jujur Ran... jujur aku melakukan itu bukan tanpa alasan, aku menyukaimu" ucap Reno langsung ke pointnya. "Maksud tuan?" tanya Rani kaget. "Aku menyukaimu layaknya seorang laki-laki dan perempuan, aku... aku jatuh cinta padamu Ran" ucap Reno. "Tuan... ini gak lucu" ucap Rani. "Aku sedang tidak melucu Ran dan aku tidak punya bakat untuk melucu. Dan berhenti memanggilku dengan panggilan tuan" ucap Reno. "Jadi maksud tuan..." ucapan Rani terhenti begitu Kevin menyelanya. "Aku mencintaimu bukan karena rupamu, aku mencintaimu karena budi pekertimu. Aku tidak memandang status sosialmu, tapi yang aku pandang adalah keimananmu. Jadi Rani... aku ingin mempersuntingmu jadi istriku, jadi bunda yang sebenarnya untuk putriku. Katakan ke mana aku harus melamarmu" ucap Reno, ia menggenggam tangan Rani erat. "Tuan saya... saya perlu waktu untuk memikirkan semua ini" ucap Rani. "Baiklah aku mengerti, dan aku rasa tiga hari cukup" ucap Reno. "Tiga hari tuan?" ucap Rani kaget. "Apa terlalu lama? Kalau begitu dua hari dan lusa aku akan tagih jawabanmu" ucap Reno. Pria tampan itu kemudian berlalu ke kamarnya setelah mengecup kening Rani dan tentu saja membuat Rani melambung mendapat perlakuan manis seperti itu. Di kamarnya Reno kembali menatap foto mendiang istrinya, foto saat pernikahan mereka yang masih terpasang di dinding kamarnya. Ia berinisiatif menurunkan pigura besar itu dan menyimpannya. "Kamu akan selalu berada dihatiku May, di satu tempat yang terindah yang tak bisa disentuh siapa pun" ucap batin Reno. --- Reno tersenyum melihat Nayshila yang makan dengan lahap dan selalu disuapi bundanya, Reno merasa Rani adalah perempuan yang tepat untuknya dan juga putrinya. Dan ditengah makan malamnya muncul sosok perempuan yang selama ini selalu mendekati Reno dan tak lain adalah adik sepupu Maya. "Hai sayang lagi makan ya, lihat nih aunty bawa apaan" ucap Arini yang langsung bergabung diruang makan. "Apa itu aunty?" tanya Nayshila. "Nih... buka aja sayang, dan aunty yakin kamu pasti suka" ucap Arini. "Oh boneka ini Nay sudah punya aunty, tapi gapapa terima kasih ya" ucap Nayshila biasa saja. "Oh sudah punya ya, maaf ya aunty gak tau" ucap Arini. "Biarkan dia selesaikan makannya dulu Rin" omel Reno. "Maaf, oh ya Ren besok temenin nonton dong" ucap Arini manja. "Sorry aku gak ada waktu, sibuk" ucap Reno. "Kamu gak asik banget sih Ren, sibuk terus. Apa kamu gak bosan kerjaannya cuma kantor-rumah" omel Arini. "Aku nyaman dengan kehidupanku Rin, jadi gak usah menggurui" ucap Reno. "Bukan bermaksud menggurui Ren, aku hanya ingin hidup kamu lebih berwarna. Yuk temenin aku nonton besok" ucap Arini. "Sorry gak bisa" ucap Reno lagi. "Gak asih ah Ren" rengek Arini. "Bisa diam Rin, kami sedang makan" omel Reno. "Apa lo lihat-lihat" omel Arini ketus begitu melihat Rani meliriknya. "Maaf mba" ucap Rani. "Cukup Rin, jangan membuat kegaduhan di rumahku dan sebaiknya kamu pulang" ucap Reno. "Tau nih aunty dari tadi merengek kaya anak kecil aja" ucap Nayshila polos. "Sayang bilang sama daddy kamu besok temenin aunty nonton" rayu Arini pada bocah kecil itu. "Memang aunty mau nonton apa sih? Kalau daddy gak bisa Nay dan bunda  Rani mau kok nemenin, iya kan bunda" ucap Nayshila polos dan membuat Arini mendelik kesal. "Aunty maunya sama daddy kamu sayang" ucap Arini. "Apa bedanya sih aunty? lagi pula sama-sama nonton kan" ucap Nayshila lagi. "Hhhhh" Arini menggeram kesal dan berlalu dari rumah itu. "Aunty Rin kok marah dad?" tanya Nayshila. "Auntymu ngambek sayang, ya sudah lanjutkan makanmu" ucap Rani. ♥♥♥
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN