Lifia merasa sangat bahagia, meskipun dihari yang sangat penting ini ia tidak ditemani kedua orang tua kandungnya namun ia sangat bersyukur menjadi bagian dari keluarga ini. Mami kandungnya telah lama meninggal sedangkan Papinya yang telah menikah dengan perempuan lain, tidak menyayanginya namun keluarga inilah yang datang menyambutnya, lalu memeluknya dengan hangat. Ia sebenarnya tidak membenci Papi kandungnya karean ia tahu Papinya itu telah dimanfaatkan oleh ibu tirinya, namun ia yang saat itu masih sangat kecil dan tidak berdaya hingga mengalami trauma lalu ia memilih untuk tidak pernah pulang ke kediaman Papinya. "Mbak..." lirih Lifia dan matanya berkaca-kaca. "Stop nggak usah melo ya dek, ini baru lamaran resmi, hanya pertunangan dan bukan akad nikah. Jadi kamu nggak perlu menangis

