Setibanya kami di rumah sakit ... aku segera menyerahkan tujuh helai daun bidara itu pada Angie. Dia menumbuk halus daun itu dan mencampurnya dengan air. Selama menunggu Angie menyelesaikan pekerjaannya, aku melihat ke arah Sean yang masih berbaring kaku di atas tempat tidurnya. Selang infus dan alat pendeteksi jantung terpasang di tubuhnya sekarang. Wajahnya terlihat semakin pucat dan ketika ku genggam tangannya, kurasakan kulitnya lebih dingin dibandingkan sebelumnya. “Kita harus meminumkan ramuan ini padanya,” ucap Angie yang tanpa ku sadari sudah berdiri di sampingku. “Memangnya Sean bisa meminumnya?” Pak Leo-lah yang mengutarakan keraguannya. Aku juga ragu Sean mampu menelannya dalam kondisinya yang seperti ini. “Tentu saja tidak mungkin dia bisa menelannya, karena itu aku sudah m

