Ternyata pengemudi motor tersebut adalah seorang Bapak tua yang kelihatan cukup terburu buru.
“ Ini kenapa Neng, wah mobilnya kecelakaan”, awal nya si Bapak kurang jelas apa yang terjadi, karena memang hari sudah gelap banget.
“ Pak, ini sudah hampir satu jam. Kok polisi. dan Ambulance saya telpon gak dateng dateng. Tolongin saya angkat ke motor pak biar saya saja yang bawa ke klinik terdekat. Soal nya saya gak bisa nungguin lama mana gelap gini. Tolong Pak”, kata Heidi yang sudah tidak betah menunggu dalam gelap.
“ Sok, ayo neng, Neng naik dulu aja naik ke motor nya. Tapi kamu beneran neng bisa bawa sendiri? “
“ Saya lebih gak bisa lagi nunggu di sini sendiri sama korban kecelakaan ini pak. Kita gak tahu ada luka dalam atau gimana”, kata Heidi yang juga mengingat kedua adiknya yang menunggu. Tapi juga atas nama kemanusiaan, ia tidak bisa meninggalkan orang ini sendiri di mobilnya. Belum lagi tempat itu sangat sepi Heidi takut jika ada kawanan begal atau perampok yang bukannya menolong tapi justru mematikan mereka berdua.
Akhirnya Bapak tua tersebut dan Heidi bisa mendudukkan pemuda tersebut di boncengan motor Heidi. Untungnya Heidi walau cewek tapi tergolong tinggi dan karena ia sering lari pagi, nafas nya cukup panjang. Walau ia tidak bisa mengangkat tapi tubuh nya cukup kuat untuk menahan dan jadi sandaran pemuda yang tabrakan tadi.
“ Bapak, terima kasih. Ya Allah semoga hamba berhasil mengantarnya ke rumah sakit”, doa Heidi dengan kuat, masih terdengar suara sang Bapak tua mengucapkan Amin.
“ Heidi berangkat Pak, doa kan selamat” , kata nya sambil berteriak, kemudian ia melihat ke kaca spion untuk memastikan wajah Bapak tua yang sudah menolongnya dan berharap dapat mengingatnya jika berjumpa kelak. Tapi yang terlihat di sana hanyalah gelap, tidak ada tanda tanda ada orang disana.
Heidi terkesiap ia beristighfar apapun yang terjadi biarlah. Ini kuasa Allah membantunya malam ini. Perlahan ia memacu motornya. Kadang , ketika dirasa stabil ia melajukan motornya.
Sampai akhirnya memasuki daerah keramaian. Heidi pun bingung untuk menghentikan motornya untuk bertanya ia takut penumpangnya merosot jatuh. Syukur akhir nya rumah sakit yang ia ingat tersebut ada didepan mata. Heidi memasuki pekarangan dan bahkan motornya masuk sampai kedalam IGD dan diberhentikan seorang perawat laki laki.
“Mas tolong dia tadi maghrIb, mobilnya menabrak pohon dan saya menghubungi ambulans dan polisi gak datang datang. Jadi tadi dengan di bantu Bapak tua ngangkat ke motor, dia saya bawa kemari”, jelas Heidi sambil berteriak teriak karena kesulitan menahan motor dan menahan pemuda tadi.
Akhirnya pemuda tersebut di bawa dan diletakkan di ruang rawat igd. Ia pun diminta untuk mengisi form pendaftaran di bagian administrasi sementara pemuda tersebut diberikan pertolongan pertama.
Heidi lalu teringat akan tas WB dan dompet pemuda tersebut. Ia pun mendatangi tempat tidur. Seorang dokter piket memeriksa keadaan nya.
“ Dokter, saya hanya menolong dia di tempat lengang tidak ada orang saat itu ketika ia menabrak pohon. Saya bisa melihat tas kecil nya atau dompet nya gak supaya bisa ngisi biodata dan semua urusan administrasi”, Heidi meminta izin ke dokter tersebut.
“ Silahkan Dek, kamu pegang saja barang barang pasien nanti kalau keluarganya datang bisa kamu berikan pada mereka dan jelaskan yang kamu pergunakan. Saya tidak bisa bertanggung jawab menjaga nya”, kata sang dokter memberikan tas kecil tersebut dan dompet pemuda tersebut.
“ Ok Dok, tapi biar aman kita lihat aja isi nya dulu jadi jika nanti kembali nya kurang saya bisa disalahkan jangan sampai yang gak pernah ada nanti di salah kan pada saya” , akhirnya Dokter ikut mengambil gambar apa saja yang ada di tas tersebut dan di dompet.
Mereka dua hanya diam saja tidak mengomentari apa yang di foto. Kemudian kedua tas dan dompet di bawa Heidii ke bagian Administrasi.
Ternyata pemuda tersebut memiliki asuransi kesehatan dan beberapa uang tunai. Dan ia ternyata bernama Abimana Surya. Dan berusia lima tahun enam tahun diatas Heidi.
Setelah selesai semua administrasi, Heidi pergi ke mushola rumah sakit. Ia pun menjamak shalat Maghrib nya ke Isya. Dan berdoa, bersyukur atas pertolongan Allah ia bisa membawa dan menyelamatkan seseorang.
Setelah sholat ia pun beristirahat sejenak bunyi bunyi di perutnya menandakan perut nya sangat lapar. Heidi bingung hari ini uang asli nyaa hanya lima puluh ribu untuk minyak besok dan makan bertiga adiknya. Sebenarnya kalau bisa masak akan lebih hemat tapi Si jalang di rumah itu menguasai segalanya dari dapur hingga teras depan..
Jika memasak tanggung tanggung hanya akan mengundang suasana panas saja karena semua perangkat dapur katanya miliknya. Ingin rasanya mengusir mereka dari rumah ayahnya tersebut. Tapi jika sekarang jangankan mengusir dia aja sudah berapa kali terancam diusir dari rumah sendiri.
Atau kupakai saja uang ini sebesar ongkos ojek. Aku kan memang tukang ojek dan dia sudah naik ojek ku, batin Heidi. Jadi sama seperti penumpang awal yaitu delapan puluh ribu rupiah dan untuk usaha ku membawanya kemari selain ojek aku ikhlas. Ya, Allah semoga engkau tidak memakai hamba karena ikhlas yang setengah setengah.
Heidi juga melihat ponsel pemuda tersebut yang ternyata tidak di kunci. Ia pun menscroll nama nama yang ada di kontak dan berciri keluarga. Maaf ya Gan saya buka ponselnya biar ada jalan keluar.
Sebuah notifikasi Chat masuk ke ponsel pria tersebut ternyata dari Mamanya.
[“ Abi, kamu dimana? Dari pagi kok gak pulang pulang. Itu Papamu besok mau rapat internal perusahaan. Kamu. harus hadir juga katanya nak”]
Apa langsung aja ya ku jawab Chat ini , toh sudah terlihat kok pesan ini centang biru artinya sudah dibaca.
[ Assalamualaikum Buk, saya tukang ojek yang kebetulan melihat mobil anak ibu menabrak pohon di lokasi agak lengang. Dan ini baru saja sampai di rumah sakit. Karena tadi saya harus mengisi biodata dari pasien jadi tas si abang saya buka Bu juga dompetnya.
Sekarang saya sedang di mushola sedang si abang nya nggak tau, tidur atau pingsan tapi nggak boleh di ganggu. Jika Ibu dan Bapak tidak keberatan untuk datang segera ke rumah sakit ini. Agar saya bisa serah terima dengan barang barang yang di titip dokter piket ke saya. Saya mau pulang juga karena besok saya harus ngojek.
Maaf Bapak / Ibu bukan saya ngga ikhlas tapi jika ada tindakan atau sebagai nya saya kan tidak bisa memutuskan jadi saya menunggu secepat nya di sini. Rumah Sakit ANS.
Wassalamualaikum]
Baru saja Heidi akan memasukan Ponsel tersebut ke dalam tas. Ponsel tersebut sudah berbunyi lagi. Dan nama Mama ada disana.
“Assalamualaikum Bu..”, jawab Heidi sopan.
“ Ini rumah sakit nya di mana? Kamu ini, nggak mungkin lah kami mau mengabaikan anak kami, kami baru tahu ini dia kecelakaan. Tunggu disitu awas kamu bawa kabur barang barang anak saya”, kata suara dI seberang yang belum menjawab salam Heidi.
Heidi kaget di bacanya lagi chat yang iya kirimkan apa pantas membuat orang marah seperti itu ya? Lagi pula ia menanyakan lokasi rumah sakit kok anggilannya langsung ditutup, Heidi bingung. Ia pun membuka menu chat kembali dan mengetikkan dengan detail lokasi rumah sakit ini, tak lupa menshare lokasi tersebut.
Heidi berdiri dan bergegas meninggalkan mushola, perut nya terasa perih. Ia langsung menuju warung di pinggiran jalan dan memesan teh manis hangat dahulu baru kemudian meminta nasi putih dan telur dadar saja. Iya menyatakan dalam hati nya akan susah baginya kelak intuk memonta ongkos gojek nya. Jadi ia pun makan hemat dengan uang nya sendiri.
Setelah mengisi perutnya Heidi pun segera kembali ke ruang UGD membawa sebungkus bubur Ayam. Awalnya ia heran ada yang menjual bubur Ayam tapi karena dekat dengan rumah sakit pasti penjualnya memastikan menjual karena banyak permintaan pasien untuk bubur ayam di malam hari. Untuk itu ia membeli satu porsi bubur ayam, untuk pasien yang dijaganya.
“ Mas, tadi itu tuannya udah sadar. Kalau bisa diberikan makanan boleh juga kelihatannya ia belum makan malam dan karena masuknya telat. Tapi yang lembut ya mbak soalnya kita tidak tahu bagaimana keadaan organ dalamnya hingga hasil scanningnya ke luar besok”, kata perawat tersebut. Kemudian terdengar bisik bisik.
“ Wah.., majikan guanteng banget. Tapi itu supir nya juga kelihatan nya manis lho mbak”, kata sworang perawat muda pada seniornya.
“ Hush.. nanti kedengaran. Tapi tentu saja si majikan menang telak nama nya cowok ganteng nomor dua, tajir nomor satu, ngerti ora”, kata perawat senior tersebut yang mengatakan pasien mereka sepertinya anak orang kaya terkenal,, info tersebut didapat dari Photocopy KTP yang ia baca di bagian Administrasi.
Sampai di lokasi tempat tidur Abi nama pemuda yang ditolongnya. Heidi pun memperhatikan pemuda yang disebut ganteng di depannya tampaknya wajah pemuda tersebut sudah dibersihkan oleh perawat. Dan lebam di kening nya semakin terlihat parah. Membuat Heidi justru tidak mau melihat nya ngilu rasanya.
Tadi Heidi mendapat informasi besok jam tujuh pagi akan diadakan scanning agar terlihat apa saja kerusakan tubuh yang dialami pasien, dan dari hasil nya dapat diputuskan jika harus di lakukan operasi
Pelan mata pemuda itu ter buka dan meringis karena kepalanya terasa berdenyut denyut. Heidi menaikkan tempat tidur bagian kepala dan ia mengambil kursi untuk duduk di samping jujur ia capek sekali dan ingin tidur sebentar. Tapi tentunya orang tua pemuda ini sebentar lagi akan datang jadi ia harus menunggu. Ia mencoba memberikan bubur yang ia bawa tadi tapi rupanya hanya tiga sendok yang pemuda itu sanggup telan dengan susah payah dan selanjutnya ia memejamkan matanya.
Satu jam kemudian sepasang suami istri dan seorang pria berusia diawal tiga puluhan berjalan menuju tempat tidur Abimana.
“ Abi.. aduh bagaimana ini. Sayang, mengapa jadi begini”, sementara suaminya menatap Heidi seolah meminta keterangan.
Heidi pun memutar dan mengajak Bapak tersebut ke sudut ruangan ia lalu menceritakan semuanya ia tidak tahu apa polisi sudah datang atau belum tapi ia memastikan berangkat dari lokasi sekitar satu jam dari kejadian.
Heidi juga menyerah kan barang barang yang ia bawa.
“ Ini dompet dan tas kecil nya Mas itu dokter menyuruh saya memegangnya juga ada kunci mobil. Mobil sebelah kiri ringsek parah tapi syukur nya tidak sampai menghimpit bagian supir. Saya tidak memeriksa barang barang lainnya. Tas ini ada di dekat korban.
Untuk isinya sebelum di tangan saya sudah di foto oleh dokter Sutan tadi mudah mudahan tidak ada yang tercecer karena saya ketika mengambil KTP dan kartu asuransi untuk mengisi administrasi tadi”, Bapak tersebut mengambil dompet dan tas kecil tersebut.
“ Pak, boleh saya meminta ongkos ke rumah sakit. Maaf jika terkesan tidak ikhlas tapi saya tidak punya uang untuk bensin lagi besok, maaf delapan puluh ribu saja”, kata Heidi pelan dan ia sempat melirik abang pemuda tersebut melihatnya dengan tajam.
“Oh, maaf “, Bapak tersebut mengeluarkan beberapa lembar uang merah dan biru di dompet nya dan menyodorkan ke Heidi.
“Maaf, sekalian saya mohon izin pulang”, Heidi mengambil selembar uang biru seerti yang ia katakan dan mengucapkan terima kasih lalu pergi keluar.
“ Hei, ambil ini kata Bapak tersebut mengejar Heidi yang sudah keluar dan membelok ke parkiran. Ia langsung menuju ke motor nya. Ia malu karena meminta uang bensin sedang si Bapak pasti mengira ia meminta balas jasa atas pertolongannya. Iya pun memacu motor nya di kegelapan malam tubuhnya sudah sangat lelah.
Sesampai di rumah dilihatnya suasana lengang semua sudah tertidur. Pelan ia memasukkan motornya dari pintu samping yang ia bawa kunci nya hanya dia yang dapat keluar masuk di situ karena kuncinya dipegang Heidi.
Setelah mencuci muka ia selalu ingat untuk meminum seduhan jamu untuk pegal linu yang diberikan Ibunya, karena saat itu ia sudah bekerja untuk membantu bantu angkat barang di Pasar. Lalu ia pun merebahkan diri dan langsung tertidur kecapekan.