Satu bulan sudah berlalu sejak Rico tinggalkan keluarganya. Nanda sudah menyerah menghubungi nomor telepon suaminya.
Putranya juga beberapa kali bertanya tentang papanya. Tapi, Maya dan Nanda hanya bisa mengelak dan alihkan perhatian Leo.
“Kak, tadi Leo sempat menunjuk ke kamar Kakak sambil menyebut Pa…Pa…!” kata Maya saat malam hari.
Leo sudah tidur dan mereka berdua masih di ruang tamu.
“Aku tidak tahu ke mana harus mencari papanya Leo. Nomor kontaknya tidak bisa dihubungi lagi.”
“Astaghfirullah! Kakak serius?”
“Kami sebenarnya belum menikah di depan penghulu, May. Hanya sebatas kontrak di depan saksi. Atasanku di kantor. Tidak ada pengikat resmi.”
“Astaghfirullahaladzim! Maksud Kakak? Papanya Leo tinggalkan Kakak?”
“Aku berharap ia hanya menjenguk ibu mertuaku dan akan kembali lagi. Itulah harapanku sekarang. Dia pergi saat menerima kabar kalau mertuaku sedang masuk rumah sakit. Katanya gejala strok, lumpuh sebelah.”
“Apa ini alasan ibu Lidya marah pada Kakak?” selidik Maya sangat prihatin dengan nasib majikannya. Meski ia sudah tahu perilaku busuk majikan prianya itu, ia menahan diri untuk tidak buka rahasia.
“Iya. Salah satu alasannya dia minta pulang tiba-tiba. Ia tidak mau bersitatap denganku lagi. Ia malu saat tahu kalau aku menikah ilegal. Bawa aib besar untuk nama keluarga, baginya.” Nanda tunduk. Wajahnya sangat kuyu karena menekan kesedihannya. Tapi, ia tidak menangis di depan Maya.
Air mata Nanda sudah mengering. Cukup sudah setiap malam ia meratapi diri. Dia harus belajar untuk kuat. Sulit, tapi ia akan coba. Ia tidak boleh lemah di depan Leo dan Maya. Mereka berharap penuh padanya.
Maya sudah mengabdi lama padanya. Wanita itu hanya sebatang kara di bumi ini sehingga ia sudah berjanji untuk loyal pada Nanda. Hal terbaik yang Nanda miliki sekarang selain Leo dan bayi dalam kandungannya.
“Apa yang buat Kakak yakin kalau papanya Leo tidak akan kembali lagi?”
“Memang pakaiannya tidak semua ia bawa pergi tapi ijazahnya ia bawa serta. Nomor ponselnya juga sudah tidak bisa dihubungi sejak ia tinggalkan rumah. Tidak ada pesan yang aku terima darinya sama sekali. Hilang jejak.”
“Ya Allah, Ya Robbi! Apa kita bisa lapor polisi dalam keadaan seperti ini? Menganggap sebagai orang hilang?” tanya Maya.
“Aku bingung May. Aku bahkan tak tahu alamatnya di kampung. Aku memang terlalu percaya padanya sehingga hal serinci itu tidak aku tanyakan. Melihat KTP-nya pun aku belum pernah. Bodohnya aku.”
“Kak, ternyata papanya Leo bisa tega pada Kakak. Aku masih tidak menyangka. Astaghfirullahaladzim!”
“Tidak apa-apa. Aku sangat berterima kasih, dalam keadaan ini kamu bersamaku. Kamu sudah selalu menjaga dan sayangi Leo. Aku jadi kuat karena ada teman berbagi cerita.”
“Insya Allah, aku tidak akan ke mana-mana Kak. Syukur sekali aku juga ditampung oleh Kakak. Diberi makan dan juga gaji.”
“Sama-sama. Kita saling melengkapi.”
“Kak, aku tahu kalau aku tidak begitu pandai. Aku cuma mau bilang kalau, Kakak harus tegar. Dari cerita Kakak, dia akan pergi lama. Semoga, memang hatinya terketuk dan ingat Leo serta adiknya yang akan lahir. Kita istighfar. Kita doakan sama-sama agar ia bisa pulang saat Kakak lahiran nanti.”
“Iya, May. Aku juga selalu berdoa demikian.”
“Tegar ya, Kak. Biar adiknya Leo ikut kuat dan lahir dengan sehat.”
“Amin.”
Memasuki bulan ke tujuh dari kehamilan Nanda, ia semakin malas makan. Seharusnya ia makan dalam porsi yang banyak, tapi tidak ia lakukan. Setiap kali makan hanya lima sendok. Maksimal sepuluh sendok makan. Suusu ibu hamil akan ia minum menjelang tidur satu gelas tinggi dan agak kental.
“Masya Allah Kak, kenapa makannya sedikit sekali? Kasihan adik bayinya,” kata Maya suatu siang di hari Minggu.
“Nanti aku mual May. Lagipula aku takut bayinya terlalu besar dan aku susah nanti saat lahiran normal. Nanti malam juga aku akan minum susuu lagi. Cukuplah. Aku baik-baik saja.”
“Tapi, demi Allah Kak. Kantong mata Kakak sudah terlihat. Kakak harus makan banyak biar zat gulanya juga ada hingga bisa bantu waktu tidur. Aku takut Kakak sakit.”
“Iya, May. Nanti malam, ya. Sekarang aku sudah kenyang.”
Maya sangat prihatin dengan keadaan Nanda. Tubuh majikannya itu mulai terlihat lebih kurus. Walaupun Nanda tidak terlihat menangis tetapi Maya tahu kalau ibunya Leo itu sedang banyak pikiran. Tapi, Maya tidak ingin mengganggu Nanda.
Ia sabar mengasuh Leo dan siap menjadi teman kalau Nanda ingin curahkan isi hatinya.
Seperti dugaan Maya, Nanda memang menyimpan beban berat di benaknya. Semuanya akibat rasa cemas karena sebentar lagi ia akan melahirkan dan belum ada kabar sama sekali dari Rico.
Beberapa malam sebelumnya malah Nanda merasa begitu putus asa hingga ia ingin akhiri hidupnya. Rasa sepi yang menggigit dan merasa tidak berarti, dicampakkan dan diabaikan menggerogoti hati dan pikirannya.
Ia hampir kehilangan kewarasannya tapi panggilan alam membuatnya harus melupakan rasa sakitnya. Bergerak turun dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi, memberikan momen berharga baginya.
Sulitnya ia berjalan dan duduk mengembalikan kesadarannya kalau ada seseorang yang sedang ia pikul dalam tubuhnya. Apalagi saat ia rasakan gerakan pada perutnya. Mau tidak mau ia refleks mengusap perutnya sendiri.
Gerakan yang cukup lama ia rasakan itu, seperti berikan pesan tersembunyi yang disampaikan padanya, “Aku ada di sini, Mama. Menemanimu. Jangan pergi dan lupakan aku.”
Nanda lalu sesali dirinya dan menepis rasa sepi yang hampir membunuhnya itu. Ia tidak sampai hati lakukan hal yang akan sakiti dirinya sendiri dan janinnya.
Nanda memotivasi dirinya untuk tidak terjerumus dalam tahapan depresi. Akan sangat berbahaya bagi dirinya sendiri dan keluarganya.
Menikmati waktu tidur yang panjang sepertinya mahal bagi Nanda belakangan ini. Kalau pun ia ingin ijin dan tetap tinggal di rumah untuk pemulihan tubuhnya, ia semakin terpaku pada bayangan Rico.
Pria itu selalu ia lihat di sekitar rumahnya. Hampir setiap sudut ia temukan bayangannya. Entah Nanda harus berbangga atau tidak. Awalnya ia tidak punya rasa apa-apa pada Rico. Tapi, setelah ditinggal, ia jadi merasa sangat kehilangan.
Apa mungkin seperti ini rasanya mencintai seseorang. Semoga bukan rasa cinta sedemikian karena sangat berat untuk bisa menghapusnya nanti. Nanda hanya berharap apa yang ia alami sekarang hanya karena pengaruh hormon di masa ia hamil.
Telah melewati masa mengandung anak pertama ditemani oleh Rico membuat ia ingin juga dapatkan perlakuan yang sama untuk anak yang kedua. Ada yang bisa dengarkan keluhannya kalau sakit pinggang.
Ada yang akan mengurut betisnya kalau mengencang karena kejang terutama pada bulan ke sembilan. Bisa jalan pagi atau sore bersama untuk permudah jalan lahir bayi. Semua tindakan sederhana yang membuatnya merasa disayang dan diperhatikan.
Malang baginya, fakta berkata lain. Jadi, seperti pesan anaknya tadi, ia harus bisa jalani semuanya sendiri. Calon bayinya yang akan lahir sebentar lagi jadi sumber kekuatan utama baginya sekarang. Semua demi Leo dan adiknya.
Namun, seberapa tegar pun Nanda berupaya, apa yang dikhawatirkan oleh Maya tidak bisa dipungkiri.