Bab 3 Tak Berhasil Menghadang

1086 Kata
Nanda terus mengikuti gerak gerik suaminya, Rico, sambil tetap berbicara. Ia tak henti minta penjelasan dan alasan dari Rico. Nanda masih tidak percaya dengan keputusan sepihak dan mendadak dari suaminya itu. “Setidaknya berikan aku jangka waktu sehingga aku bisa membuat perkiraan. Sebentar lagi, anak kedua kita akan lahir,” imbuh Nanda memegang lengan suaminya. “Cukup Nanda. Aku sekarang sedang panik karena kabar dari kampung. Kamu bahkan mulai bertingkah manja seperti aku pergi untuk mati dan tak kembali.” Balasan ketus dari Rico membuat Nanda sedikit tersentak. Memang, suaminya Rico bukanlah pria yang penyabar. Tapi, Rico itu baik hati dan bertanggung jawab. Ia tidak kasar secara fisik. Paling suaranya yang keras saat marah atau dalam keadaan banyak pikiran seperti dalam situasi saat ini. Rico selesai mengancing kopernya lalu ia keluar. Nanda bisa mendengar kalau ia sedang berbicara dengan gadis yang tinggal bersama mereka. “Aku akan pulang bersama saudaraku itu. Kami akan mengejar bis sore atau malam ini.” Rico masuk kembali ke dalam kamar dan meraih jaketnya yang berada di belakang pintu. “Kenapa kamu membawa ijazahmu?” selidik Nanda mendekati suaminya. “Antisipasi jika nanti aku akan lama di sana karena menanti sampai mama sembuh. Aku butuh cari kerja juga.” “Lalu, apa kamu akan melewatkan kelahiran anak kita jika ibu di kampung ternyata memang sakit stroke?” “Aku tidak bisa meninggalkan mamaku sendirian. Ia butuh aku.” “Kamu sudah berjanji untuk mendampingiku. Kita akan menikah resmi di kampung nanti setelah kelahiran bayi kita,” kejar Nanda benar-benar panik. Nalurinya mengatakan kalau Rico akan pergi untuk waktu yang sangat lama. Ia meraih tangan suaminya untuk menyentuh perutnya yang sudah membuncit. “Kamu tidak bisa mengikatku dengan anak ini,” bantah Rico mulai kesal. Ia menepis tangan Nanda dan memperbaiki letak jaketnya yang sudah setengah terpakai. “Tapi kita sudah suami istri. Ikatan ini harusnya membuat kita harus tetap bersama. Aku ikut denganmu!” balas Nanda mulai menarik tas ransel yang lain untuk juga mengepak pakaiannya. “Kamu sudah gila. Aku tidak mau membawamu. Kita akan tempuh perjalanan jauh. Siapa yang akan bersama Leo dan ingat kandungan kamu!” bantah Rico menatap tajam pada Nanda. Nanda menghentikan aksinya. Dalam rasa paniknya akan ditinggalkan, ia sampai lupa kalau ada Leo yang masih membutuhkannya. “Tapi kamu ingin pergi untuk waktu yang lama, bukan? Bagaimana kerjamu? Bagaimana dengan pernikahan kita dan janjimu?” “Faktanya, hubungan kita hanya kontrak di atas kertas dengan beberapa orang saksi, bukan di depan penghulu. Lagipula, kita punya anak atas dasar suka sama suka. Tidak ada paksaan. Saat ini, aku ingin prioritaskan ibu kandung yang telah melahirkanku. Lambat atau cepat tergantung kesehatannya. Aku tidak bisa menetap di sini hanya untuk menerima kabar kematiannya. Aku akan ijin pada atasanku.” Rasanya sakit mendengar Rico membeberkan kenyataan akan hubungan mereka. Nanda sadar akan hal itu. Makanya ia sudah minta untuk nikah sejak kelahiran Leo, tetapi seperti semesta tidak merestui rencana mereka. “Tidakkah kamu menunggu sebentar saja?” Nanda masih ingin ikut dengan Rico tapi ia harus membawa Leo bersama mereka. “Aku tidak bisa menunggu lagi. Aku tidak mau ketinggalan bis. Aku harus berjumpa dengan ibuku malam ini juga.” Rico sudah bersiap menarik kopernya untuk keluar dari kamar. “Kamu bahkan masih belum pamit pada ibu kandungku dan anakmu,” sela Nanda pada Rico. “Tidak usah mendramatisir keadaan. Cukup sudah kebersamaan yang selama ini kita tampilkan di depan semua orang.” “Tapi Rico, kamu melanggar salah satu butir yang telah kita sepakati. Jika kita sampai punya anak, kamu harusnya melegalkan pernikahan ini, bukannya pergi begitu saja.” “Aku tidak bisa terus mendengarmu. Ibu kandungku sedang sekarat. Sekali lagi aku bilang, kamu tidak bisa mengikat aku dengan anak-anakmu!” ujar Rico tegas. “Rico! Jangan pergi!” seru Nanda bergegas mengekori Rico yang sudah melangkah keluar dari ambang pintu, menuju sebuah taksi yang sudah menanti mereka. Wanita Bernama Lia yang akan pergi bersama Rico sudah menunggu di luar dan langsung menjajari langkah pria itu. Mereka meninggalkan Nanda di belakang yang terus menguntit tanpa menyerah. Bahkan, Lia pun tidak juga berniat untuk pamit padanya yang juga adalah tuan rumah. Nanda tidak mau diabaikan begitu saja. Ia dengan segera mengikuti dua orang yang sudah berjalan di depannya. Setengah berlari ia menuju taksi yang pintunya sudah menutup. Nanda lupa kalau sakit pinggangnya bisa kambuh lagi. Nanda membuang pandangannya ke ujung jalan masuk ke kompleks perumahan mereka. Sebuah taksi mengarah ke gang mereka dan ia yakin kalau itu adalah Leo dan ibunya yang sudah datang. Nanda jadinya berlari untuk bisa meraih gagang pintu taksi yang sudah ancang-ancang untuk bergerak. Ia berhasil mengetuk jendela dua kali sambil berteriak. “Rico, tunggu dulu! Sepertinya Leo sudah datang.” Tapi, bukannya di rem malah supir taksi semakin menekan pedal gas. Debu yang tertinggal seiring dengan taksi yang melesat kencang tanpa menggubris ketukan Nanda dari luar. Air mata wanita itu tumpah begitu saja. Ia menatap dengan berharap suaminya akan berhenti jika melihat putranya di dalam taksi saat berpapasan nanti. Harapan Nanda hanyalah sebatas asa. Taksi yang ditumpangi suaminya melesat melewati kendaraan roda empat yang baru datang dari arah berlawanan. Ia terjatuh dan terduduk di pinggir jalan. Tidak lagi memikirkan keadaan dirinya yang sedang berbadan dua. Ia seperti baru terjaga dari mimpi dan tahu kalau sepertinya ia telah kehilangan suaminya. Mata Nanda tertutup dan tidak sadarkan diri lagi. Malam akhirnya menjemput. “Rico. Aku ikut denganmu!” seru Nanda dengan mata yang masih tertutup rapat tapi tubuhnya bergerak gelisah. Maya yang ada di dalam kamar barusan menyalakan lampu, segera mendekati kasur dan menggoyang lembut bahu Nanda. Maya baru selesai salat saat menghampiri majikannya. “Kak, bangun. Ayo, bangun biar Kakak tidak mengigau terus,” bujuk Maya dengan sentuhan lembut. “Maya, apakah sudah pagi?” kata Nanda pelan sambil mengusap wajahnya. Nanda membuka matanya. Ia dapati dirinya ada dalam kamar dan Maya sedang menatapnya lekat. “Kakak baru bangun. Tadi, setelah bicara dengan Ibu Lydia, Kakak masuk ke kamar dan sepertinya langsung tertidur.” Dengar kata-kata Maya, semua memori tentang Rico dan Lia yang meninggalkan rumah langsung menyerbunya membuat luka hatinya semakin lebar dan berdarah. “Dia pergi, Maya. Rico dan Lia pergi.” “Kak, istighfar. Kita serahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa. Allah pasti akan tunjukkan jalan yang terbaik untuk Kakak,” sambung Maya kehilangan kata-kata. Maya tidak bisa dengan cepat sampaikan perselingkuhan majikan prianya. Waktunya tidak tepat dan dia memang tidak ingin berita itu datang dari mulutnya. Biarlah waktu yang menguak segalanya. Ia malah bersyukur dengan kepergian dari dua makhluk b***t tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN