Perjodohan?

1924 Kata
Setelah mengamati dari jauh cukup lama. Akhirnya aku memutuskan memberanikan diri untuk menghampiri Papah, temannya dan anaknya itu. Aku berjalan dg tetap menggenggam tangan Satria. Saat aku mendekat... " Eh Ayara udah pulang. Kenalin ini Om Denny temen Papah. Dan ini anaknya Rezvan. " kata Papah memperkenalkan sambil menunjuk satu persatu " Ayara. " kataku lalu menjabat tangan Om Denny dan Rezvan " Rezvan, panggil aja Evan. " kata Evan sambil tersenyum " Terus itu siapa? " tanya Om Denny menunjuk Satria " Satria. Teman dekat Ayara. " kata Satria tegas sambil tersenyum dan menjabat tangan keduanya " Wah udah punya temen deket ternyata yaa. Sayang banget yaa Van. " kata Om Denny pada anaknya " Apaan si Papah. " jawab Evan sambil menyenggol lengan Papahnya Aku dan Satria hanya saling memandang. Lagi lagi pertanyaan tentang perjodohan kembali muncul. Tuh kan jangan jangan beneran dia lagi yg mau di jodohin sama aku? Tanyaku dalam hati. Tapi aku sedikit heran, kenapa dari tadi Papah tak berkata sedikitpun. Papah hanya tersenyum senyum saja. Ntah lah aku jadi semakin bingung. " Kalo gitu aku pulang dulu yaa Deon. Aku titip anakku besok. Tolong ajari dia, kalo nakal omelin aja. " kata Om Denny pada Papah " Oke tenang aja Den. Aku yakin si anakmu pasti cepat bisa. Papahnya aja pembisnis handal gitu. " kata Papah sambil menepuk punggung Om Denny " Bisa aja kamu. Iyaa udah kita duluan yaa. Assalamualaikum. " pamit Om Denny " Assalamualaikum Om, Ayara, Satria. " pamit Evan sambil mencium tangan Papah kemudian menganggukkan kepalanya padaku dan Satria " Waalaikumsallam. " jawab kami kompak Setelah mereka pulang. Satria pun ikut pamit pulang. " Kalo gitu aku juga pulang yaa Ayara. " kata Satria sambil menatapku intens " Loh ngga masuk dan ngobrol dulu nak Satria? " tanya Papah " Makasih Om lain kali aja udah malem soalnya. " jawab Satria sambil menganggukkan kepalanya " Ooohhh iyaa udah deh. Lain kali Om tunggu yaa. " kata Papah sambil tersenyum " Iyaa Om. Kalo gitu saya permisi yaa. Assalamualaikum. " pamit Satria sambil mencium tangan Papah, lalu melepaskan tanganku perlahan dan tersenyum padaku " Waalaikumsallam. " jawabku dan Papah bersamaan " Hati hati yaa Sat. " kataku sambil melambaikan tangan Setelah Satria pulang, aku dan Papah masuk ke dalam. Papah tak menjelaskan detail tentang Evan dan Om Denny. Aku ingin bertanya pun jadi sungkan. Tapi aku penasaran. Gimana yaa? Ah sudahlah biarin aja. Kita liat aja ke depannya nanti seperti apa. Lalu aku masuk ke kamar untuk membersihkan diri. Sedangkan Papah berhenti di ruang Tv dan menonton Tv. Kalo ada yg tanya Mamah dimana? Mamah sedang di kamar. Biasanya kalo jam segini, Mamah sedang melakukan perawatan pribadi alias memakai masker wajah hehehe. Yaah bisa di bilang Mamah adalah orang yg sangat memperhatikan penampilan. Tak heran jika Mamah masih terlihat cantik dan muda sampai sekarang. Selesai membersihkan diri. Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Kemudian aku membuka Hp. Aku berniat untuk bercerita tentang Rezvan pada Fay dan Freya. Tapi sebelum aku mengirim pesan atau menelpon mereka. Ternyata mereka sudah mengirimkan chat di grup. Yaa meski hanya bertiga tp kami memiliki grup chat. Karena biar gampang aja kalo ada sesuatu jadi langsung mengirimkan di grup dan semuanya bisa baca. Daripada harus mengirim chat nya satu satu, kelamaan. Hehehehe. Grup itu diberi nama girls oleh Fay. Yaa karena Fay yg membuat grup itu. Fay : Kayaknya udah ada yg lupa nih sama sahabatnya sendiri mentang mentang udah punya cowo Freya : Besok kan Minggu. Ngoffe cafe yuuukkk sambil curcol Aku : Boleh. Tp kalian jemput aku yaa. Aku lagi males bawa mobil sendiri hehehe Fay : Iyaa deh yg sekarang udah punya supir pribadi hehehehe Aku : Apaan si Fay. Besok jam 9 yaa, kita ke Cafe biasa, Oke? Mau ada yg aku ceritain Freya : Tuh kan ada yg mau curcol. Siap besok meluncur jam 9 Aku tak membalasnya lagi. Aku berniat untuk tidur tapi ternyata Satria menelpon. " Assalamualaikum Ayara. Udah mau tidur yaa? " kata Satria " Waalaikumsallam Sat. Iyaa baru aja aku mau tidur. Ada apa yaa? " tanyaku sambil melirik jam dinding " Eeemmmm besok ada acara ngga? Kita jalan yuuukkk mumpung hari Minggu. Kan Senin udah ujian. " ajak Satria " Tapi besok aku mau keluar sama Fay dan Freya Sat. Gimana dong? " kataku dg nada sedikit kecewa " Jam berapa emang? " tanya Satria " Jam 9 si. " jawabku singkat " Yaa udah kalo gitu besok aku nyusul aja yaa Ayara. Aku sama Arion dan Arvin dulu. " kata Satria " Iyaa udah Sat. Besok aku sharelok tempatnya. " jawabku " Ooohhh iyaa soal Evan gimana Ayara? " tanya Satria " Papah belum ngomong apa apa si soal itu Sat. Aku juga belum berani nanya. Kita liat gimana nanti aja yaa perkembangannya. Semoga aja apa yg aku khawatirkan ngga terjadi. " jelas ku panjang lebar " Eeemmmm gitu yaa. Yaa udah kalo gitu. Yaa udah gih kalo kamu mau bobo. Good night yaa Ayara. " kata Satria " Iyaa Sat, kamu juga jangan begadang yaa. Night too Satria. " jawabku " Siap sayang. Assalamualaikum. " salam Satria mengakhiri pembicaraan " Waalaikumsallam. " kataku menjawab salamnya Setelah mematikan telponnya. Aku pun pergi tidur. Yaa aku melupakan sejenak tentang perjodohan dan tentang Evan. Meskipun aku masih penasaran apa maksudnya Om Denny dan Rezvan tadi kerumah. Sepertinya Satria juga khawatir dg hubungan kami. Karena Satria melihat sendiri bagaimana kemarin Om Denny dan Rezvan di rumah. Yaa semoga kekhawatiran ku dan Satria tak menjadi nyata. Untuk malam ini, biarlah semua seperti apa adanya. Tapi aku berharap semua misteri akan terungkap esok hari, bersama terbitnya sang mentari. Pagi harinya aku bangun seperti biasa. Aku mandi dan sarapan. Selesai sarapan, aku berniat untuk bersiap siap pergi bersama Fay. Tapi tiba-tiba aku dikejutkan dg kedatangan Evan. " Pagi Ayara. " kata Evan sambil tersenyum dan menganggukkan kepala " Evan? Ko kamu pagi pagi udah disini? " tanyaku sambil mengerutkan kening heran " Iyaa bukan cuma pagi ini aja si aku disini. Tapi setiap hari aku akan disini. " kata Evan sambil tersenyum jail " Hah? Setiap hari? " tanyaku memastikan " Oh iyaa saya disuruh ambil laptop di ruang kerja Om Deon. Ruangan kerjanya dimana yaa? " tanya Evan yg tak menjawab pertanyaan ku " Itu disebelah sana. Emang Papah dimana? " kataku sambil menunjuk salah satu ruangan " Di ruang tamu. Aku permisi yaa Ayara. " kata Evan sambil tersenyum dan berlalu di hadapan ku. Aku hanya mengangguk menanggapinya Aku berjalan perlahan menuju kamar sambil memikirkan kata kata Evan barusan. Tadi Evan bilang kalo setiap hari akan ada disini? Ngga salah tuh. Apa dia cuma asal ngomong dan bermaksud meledek ku. Mungkin iyaa dia cuma asal ngomong. Karena kalo beneran setiap hari dia sini. Mau ngapain coba? Males juga setiap hari harus ketemu dia. Dan ini bisa gawat dong buat hubungan ku dan Satria. Ucapku dalam hati. Saat aku sedang bersiap siap di kamar. Terdengar suara klakson mobil Freya. Yg berarti Fay dan Freya sudah sampai. Aku mempercepat persiapan ku. Hari ini aku memakai kemeja strip, straight pants denim dan pasmina crinkle. Untuk sepatu aku memakai flatshoes warna yg senada. Aku keluar kamar dan berjalan menuju depan. Saat melewati ruang tamu. Ternyata Fay dan Freya sudah ada disana. Ada Papah dan Evan juga. Evan melihat ku tanpa berkedip dan dg tersenyum. Aku tak memperdulikannya. Aku pun berpamitan pada Papah. " Pah aku pergi dulu yaa sama Fay dan Freya. " kataku sambil mencium tangan Papah " Hati hati yaa. " jawab Papah singkat " Mau aku anter Ayara? " tanya Evan tiba tiba sambil tersenyum. Fay dan Freya saling memandang dan mengkodekan matanya satu sama lain " Ngga usah makasih. Aku bareng mereka aja satu mobil. " jawabku sedikit jutek " It's Oke. Hati hati Ayara. " kata Evan lembut dan sok manis " Heeemmm. Assalamualaikum. " jawabku singkat lalu berlalu begitu saja Kami bertiga segera menuju mobil. Setelah semua masuk dan siap. Freya melajukan mobil maticnya. Di dalam mobil selama perjalanan, kami membicarakan berbagai hal. Terutama tentang Evan. " Eh btw cowo tadi siapa si Ayara? Kayaknya aku baru pernah liat deh. " kata Freya sambil melihat ku dari spion di depannya " Itu dia yg aku mau ceritain ke kalian. " jawabku sambil menyenderkan tubuhku ke belakang " Maksud kamu? " tanya Freya sambil mengerutkan kening karena tidak mengerti dg pembicaraan ku " Iyaa jadi gini.... bla bla bla. " aku menceritakan semuanya pada Fay dan Freya " Hah jadi kamu mau di jodohin sama cowo itu? Siapa? Evan? " kata Freya terkejut " Tapi ganteng si. Bolehlah. " kata Fay sambil tersenyum senyum " Bolehlah bolehlah mbahmu. Satria gimana Satria. " kata Freya kesal pada Fay yg melihat laki-laki dari wajahnya aja " Ooohhh iyaa bener juga. Terus gimana tuh? Satria tau? " tanya Fay " Dasar Lola. " sindir Freya sambil melirik kesal " Iyaa Satria tau. Aku udah cerita semuanya. Satria juga udah pernah ketemu sama Evan kemaren dirumah. " kataku lirih " Terus gimana? " tanya Fay dan Freya bersamaan " Heeemmm aku juga belum tau. Satria si bilang dia ngga akan nyerah dan mau memperjuangkan hubungan kita. Aku juga ngga mau kalo berpisah dari Satria. Kalian tau sendiri kan gimana berartinya Satria buat aku? Tapi aku juga belum nanya ke Papah soal semua ini. Karena Papah belum ngomong apa-apa secara langsung sama aku. " kataku mengeluarkan isi hati " Tapi yg jadi masalah Evan bakalan dirumah mu setiap hari. Itu yg bahaya Ayara. " kata Freya penuh penekanan " Iyaa betul. Ntar lama lama kamu jadi suka sama dia lagi. " kata Fay menyambung ucapan Freya " Terus aku harus gimana dong? Aku bingung. " kata ku sambil menutup muka dg kedua telapak tangan " Yg pasti kamu harus menguatkan cinta mu dg Satria. Kalo bisa setiap hari kamu diantar jemput Satria aja. Untuk meminimalisir kemungkinan. " saran Freya " Tapi kan kita ngga tau dari jam berapa sampai jam berapa Evan dirumah kamu Ayara? " kata Fay yg menggoyahkan pendapat Freya " Aku rasa si ngga mungkin dia sampai tidur dirumah Ayara. Kalo aku liat dari tadi waktu sama Om Deon, paling Evan itu ada di jam jam kerja. " kata Freya yakin " Kalo di jam kerja yaa Om Deon kerja di Perusahaannya lah Freya. Gimana si? " kata Fay yg mematahkan pernyataan Freya " Iyaa bisa aja kan Evan ikut ke kantor Om Deon tp berangkat dan pulang juga bareng Om Deon. " kata Freya penuh percaya diri " Jadi maksud kamu, ke rumah Ayara cuma transit? " tanya Fay mengambil kesimpulan " Thats right. " jawab Freya sambil tersenyum Aku hanya mendengarkan pembicaraan mereka dan mencerna setiap katanya. Yaa kalo apa yg mereka bilang benar, Evan hanya transit di rumah. Tetap saja judulnya mengganggu hubungan ku dan Satria. Karena tetap saja setiap hari aku bertemu dg nya meski tak seharian. Dan tetap saja nantinya dia yg akan di jodohkan dg aku. Jadi apapun itu intinya tetap sama. Aku harus menceritakan semuanya pada Satria. Aku jadi ingin cepat cepat lulus kuliah dan cepat bekerja. Biar aku bisa meminta Satria untuk segera melamar ku. Jadi aku tak usah pusing dg hal ini. Tapi ujian aja baru di mulai besok Senin. Oh Astaga, Senin mau ujian kenapa aku harus dihadapkan dg masalah rumit ini. Yg ada aku ngga bisa konsen nanti. Jangan sampai IPK ku jadi turun gara gara ini. Karena kalo sampai itu terjadi, Satria juga yg akan kena marah Papah. Oh Tuhan kenapa ujian Mu jauh lebih rumit dari ujian kampus. Kataku dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN